
Yuno berhasil keluar di bantu penunggu ghaib di wilayah perkampungan siluman. Sebelum menghilang, dia memberikan selembar daun agar tetap Yuno simpan sampai dia meninggalkan wilayah itu.
“Terimakasih telah atas pertolongan mu pak” ucap Yuno.
Dia memasuki wilayah perkampungan di dunia nyata, melihat rumah Lisa sangat ramai. Yuno berlari masuk ke dalam melihat wajah sang adik sudah berlinang air mata.
“Apa yang terjadi?” tanya Yuno.
“Tuan, saya turut berduka cita atas meninggalnya tuan Fredi. Maaf saya harus meninggalkan tuan untuk melanjutkan mengurus keperluan di rumah ini” ucap Sen.
Kedatangan Fredi seperti mengantarkan jasadnya sendiri ke rumah sang adik. Dia sangat shock sampai tidak sadarkan diri. Yuno di istirahat di kamar dekat ruangan tengah, di dalam mimpi dia melihat Fredi sedang mengeluarkan tangisan darah.
“Mas Yuno” ucapnya menggema melambaikan tangan.
“Fredi! Ada apa dengan mu?” tanya Yuno menangkap tangannya tapi tidak tersentuh.
__ADS_1
“Mas Yuno, kau harus menuntut balas atas dendam ku kepada Transo!” gema suara Fredi menghilang di dalam kegelapan.
Yuno terbangun, mata sembab menahan kepala yang sangat sakit. Dia menekan kepala menuju ke dapur. Seorang anak kecil menarik ujung celananya, dia mengusap sudut mata lalu menatap Yuno yang masih meneguk air.
“Ibu, aku mau ibu” ucap anak laki-laki yang sebaya dengan Dika itu.
“Adik kecil, siapa nama mu?” tanya Yuno mengangkatnya.
“Darma.”
Yuno menggendong anak kecil itu mendekati Lisa. Setelah semua orang telah pulang ke rumah masing-masing, Lisa menoleh ke arah Darma lalu mengambil dari pangkuan Yuno.
Lisa menceritakan semuanya, di tangah isak tangis dan rasa bersalah. Dering ponsel Yuno membaca pesan singkat, pak Hery yang sudah menghembuskan nafas terakhir. Dia terduduk lemas, terbata sulit menyampaikan kabar berita duka kepada sang adik.
“Lisa, a_aya_hh” tangisnya sesenggukan.
__ADS_1
“Kenapa dengan ayah mas?” tanya Lisa.
“Ayah meninggal!”
Malam itu juga mereka berkemas menuju kampung halaman. Lisa menitipkan rumah kepada Tami agar sesekali melihat dan memberitahu jika melihat Transo kembali. Akan tetapi saat Yuno, Lisa dan Sen berada di tengah pintu keluar wilayah perkampungan siluman itu, mesin kendaraan mereka tiba-tiba berhenti.
“Kenapa bisa mogok seperti ini? kalau begitu aku akan kembali lagi ke rumah mbak Lisa untuk mengambil mobil tuan Wijaya” ucap Sen.
Lisa dan Yuno menunggu di pinggir jalan, Sen berlari menahan rasa sakit pada jahitan luka yang masih membekas gigitan suster Kela. Wajah mengerikan suster itu masih terkenang membayang di pikirannya. Setelah melihat letak mobil Wijaya, dia segera menyalakan mesin menyusul Lisa dan Yuno. Tapi mobil milik Wijaya ikut tidak menyala saat sampai di perbatasan keluar kampung.
“Bagaimana ini? ibu pasti menunggu kita” ucap Yuno kebingungan.
“Mas, aku sadar tidak akan pernah bisa keluar dari perkampungan ini. Jiwa ku sudah di kunci oleh Transo, mas aku minta maaf tidak bisa pergi dengan mu. Tolong sampaikan lah maaf ku pada ibu” ucap Lisa turun dari mobil.
Yuno menarik tangan Lisa, di menarik paksa sang adik masuk ke dalam mobil kembali.
__ADS_1
“Mas, ikhlaskan aku! Mas harus segera pulang membantu ibu dan mengurus jenazah ayah” ucap Lisa sambil menangis pilu.
“Tuan, biar saya yang menemani nyonya Lisa” kata Sen.