
Transo kesakitan terbata-bata mengucap mantra bersujud di depan pohon raksasa penunggu jin bermata merah. Dia melumuri darahnya sendiri di batang pohon, menarik kulitnya yang terkelupas. Air mata Transo berubah berwarna merah darah, dia meringis masih bersujud sesekali membenturkan kepalanya sendiri.
“Tolong aku!!!” ucapnya bergetar.
Dia mengerang membenturkan kepala berkali-kali ke tanah sampai terluka. Ujung akar pohon besar itu mengeluarkan asap. Jin wujud gendoruwo bermata merah ikut kesakitan akibat merasakan ayat-ayat suci Al’Quran yang di bacakan oleh para pengunjung yang datang ke rumah Yuno.
“Semua doa-doa ini semoga tersampaikan dan di jabah oleh yang Maha Kuasa, aku berharap keponakan dan adik kandungku Lisa selamat” gumam Yuno sambil.
Rara mendekati Fredi, dia memberi kode ke arah Deta yang berada di luar rumah.
“Mas, lihat lah anak itu. Pasti dia sangat terpukul telah kehilangan ibu kandungnya. Aku akan pergi menemuinya” bisik Rara.
“Ibu mau kemana?” tanya Saci menarik tangannya.
“Sebentar sayang, ibu akan menemani mas Denta ya.”
“Nggak boleh, dia bukan mas Denta lagi bu dia adalah kakek tua”.
__ADS_1
Fredi menarik tubuh Saci, dia memangku putri kecilnya untuk memberi ruang kepada Rara yang akan beranjak pergi.
“Denta, ayo tante temenin kamu masuk duduk dekat ayah kamu dan om Fredi. Tuh lihat ada Dika, bukankah kalian suka bermain bersama” ucap Rara.
Aura Denta sangar menyeramkan, saat dia duduk semakin mendekatinya maka semakin merinding pula sekujur bulu kuduknya. Lingkar mata Denta menghitam, bibir pucat menatap tajam dirinya.
“Denta, apakah kamu sedang sakit nak?” tanya Rara memegang dahinya.
Tangan Rara di tepis, menimbulkan sayatan kuku tajam dan rasa panas.
“Arghh! Denta kamu kenapa?” tanya Rara berdiri memegang tangan kanannya yang kesakitan.
Suara denta berlapis suara lain, seolah mirip suara lelaki tua yang mengikuti ucapannya. Keanehan terjadi ketika Rara akan menarik tangan Denta masuk ke dalam rumah. Denta malah menjerit kesakitan dan menangis membuat semua orang yang sedang melakukan doa bersama menghentikan bacaannya.
“Hiks!” tangisan Denta semakin kuat.
Fredi dan Yuno menemui mereka berekspresi terkejut melihat tangan kanan Denta berlumuran darah.
__ADS_1
“Denta, apa yang sudah terjadi pada mu? Siapa yang melakukan semua ini?” tanya Yuno.
Pandangan mata Yuno melotot, dia tidak percaya bahwa Rara sudah melukai anaknya.
“Fredi lihat tangan istri mu, pasti kuku-kukunya yang tajam itu melukai Denta” kata Yuno.
Fredi masih tidak percaya bahwa Rara yang melakukannya, akan tetapi bukti sudah di depan mata. Fredi mencengkram tangan Rara dengan nafas memburu menatapnya.
“Cepat minta maaf kepada Yuno dan Denta” ucap Ferdi.
“Apa? Mas aku tidak salah! Lihat tangan kanan ku yang di lukai anak itu!” ucap Rara menunjukkan tangan kanannya yang terlihat tidak ada luka sedikitpun.
“Mana luka yang engkau maksud? Aku tidak menyangka engkau tega melakukan semua ini” kata Fredi meninggalkan mereka.
Rara menangis meminta maaf di depan Yuno dan Denta.
“Maaf kan tante, mas maafkan aku” ucap Rara lalu ikut pergi pula.
__ADS_1
Suasana di kediaman Yuno terhenti akibat kejadian yang di sengaja oleh gangguan iblis jin bermata merah itu. Yuno yang meminta mereka untuk melanjutkan acara dan membacakan ayat menjadi terhenti kembali cuaca mendadak menjadi ekstrim. Angin bertiup kencang, menggulung dan membanting jendela. Hujan deras, di iringi petir menggelegar.