
Suara panggilan telepon berdering yang tidak di angkat membuat Wijaya memutuskan memerintahkan seseorang untuk menuju ke rumah Yuno agar menyampaikan sebuah surat darinya. Perjalanan ke wilayah kota B selama satu hari satu malam. Berselang beberapa hari kemudian dia terkejut mendengar kabar Denta masuk ke Rumah Sakit setelah di fonis menderita kanker otak.
Isi surat Wijaya
Kepada Mas Yuno di tempat
Saya mengabarkan kelahiran bayi kedua Lisa, kami menamainya Geni. Lisa sampai saat ini masih di rawat di Rumah Sakit. Jangan khawatir mas, aku akan selalu menjaganya. Maaf baru sempat memberi kabar karena saya harus mengurus semua hal disini.
^^^Tertanda Wijaya.^^^
Tangan Yuno gemetar menjatuhkan surat itu, dia berlari meraih kunci lalu melajukan mobil menuju ke sana. Di perjalanan dia menelepon pengurus rumah agar menjaga Denta selagi dia pergi. Yuno menarik kuat rambutnya sendiri, dia memukul kuat kepalanya hingga ingin melontarkan kata kasar.
“Transo bajingan! Kau sudah merusak kebahagiaan adik ku Lisa! Aku harus membunuh mu!” batin Yuno.
Di persimpangan jalan, Yuno merubah pikiran dengan memutar haluan menuju perkampungan pohon raksasa. Kecepatan tinggi di sepanjang lintas yang hampir membuat dirinya celaka. Polisi yang sedang berpatroli tidak bisa mengejarnya karena jalan lintas yang sangat padat.
Hingga sampai lah dia di perbatasan kampung, Yuno memperlambat kendaraan dengan memarkirkan mobil di tepi jalan. Kemudian mencari benda tajam di dalam bagasi, Hanya ada besi panjang runcing yang di pikirannya sangat cocok untuk membunuh Transo.
“Hidup atau mati, aku akan mengakhiri hari ini” gumamnya seolah tidak memikirkan jika dia tiada maka Denta akan menjadi anak yatim piatu.
Yuno masuk ke dasar hutan menggunakan bekas tali yang dia temukan pada bagian permukaan atas akar. Terlihat tali itu masih baru di ikat meninggalkan bekas jejak kaki berlumpur di bawahnya. Sore ini hutan terdengar seperti ramai suara pria berkerumun. Dia bersembunyi saat melihat dua orang pria bertubuh gemuk berpakaian hitam dan keris di pinggang mereka.
“Siapa mereka?” gumam Yuno.
Dia meneruskan langkah mengendap menuju menuju sumber suara hingga melihat Transo berdiri di depan mereka. Beberapa orang pria berpakaian hitam menghadapnya dengan posisi seperti sedang bersujud. Pembicaraan yang tidak jelas terdengar karena harus bersembunyi hingga naik ke atas pohon agar keberadaannya tidak di ketahui mereka.
“Rencana ini jangan sampai gagal!” bentak Transo.
“Perintah gusti tuan ku akan kami laksanakan” ucap para pria itu serentak.
__ADS_1
Pandangan Yuno tidak terlepas melihat gelagat Transo, dia sudah tidak sabar untuk membunuhnya. Melihat para pria yang bersujud padanya tadi telah pergi, perlahan Yuno mendekati Transo dengan mengayunkan tongkat besi tajam ke kepalanya.
Brugghh. Suara benturan keras menimbulkan luka retakan kepala. Transo menarik paksa benda yang berada di tangan Yuno. Dia membaca mantra di dalam hati lalu memperlihatkan mata setan sosok raja iblis penunggu pohon raksasa yang sudah masuk di tubuhnya.
Pertahanan Yuno runtuh karena kekuatan yang di miliki oleh Transo kini jauh lebih besar darinya. Ayunan besi tajam mematahkan tulang kakinya di susul pukulan keras memecahkan kepala bagian depan. Toni yang bersembunyi di salah satu sisi bagian belakang pohon langsung berlari menarik Yuno dan membawanya pergi.
“Tuan, lebih cepat lagi!” ucapnya terus menarik tangannya.
Toni memanggil sinyal alarm empat orang algojo yang sengaja dia sewa demi berjaga jika terjadi masalah. Hampir saja mereka menjadi sasaran empuk para pengikut Transo jika mereka tidak segera datang membantu Yuno. Setelah menyampaikan surat, pria itu ternya mengikuti mobil Yuno dari belakang.
Laju kendaraan Toni menuju ke Rumah Sakit sementara mobil Yuno sengaja di tinggal mengingat kondisi kritis luka di kepala dan tubuhnya. Sesampai disana, dia di tempatkan di ruang gawat darurat. Toni langsung berlari mencari Wijaya lalu memberi kabar akan kejadian tadi.
“Apa? Kini pria sesat itu seolah ingin menjadi sang Pencipta! Untung saja engkau membuntuti mas yuno” ucap Wijaya menepuk pundaknya.
“Semula saya tidak bermaksud mengikuti tuan Yuno, tapi ketika melihat para petugas kepolisian mengejar mobilnya maka saya langsung ikut mengejar” jawabnya.
...----------------...
“Bintang kecil, di langit yang biru
Amat banyak, menghias angkasa
Aku ingin terbang dan menari
Jauh tinggi ke tempat kau berada. Hikss, hiks.”
Bi Iyem dan seluruh para pekerja di rumah Parsih menutup telinga mereka rapat-rapat. Suara itu berlangsung selama satu jam di susul tawa lengkingan. Kamar Iyem yang jaraknya lebih dekat dari kamar Rume dapat melihat tirai kaca jendela masih terbuka lebar sesekali melintas bayangan putih terbang sangat cepat.
“Astaghfirullah al’adzim” ucapnya.
__ADS_1
Tok, tok (mengetuk pintu).
“Bi, bibi belum tidur?” suara Rume sangat jelas terdengar olehnya.
“Bukan kah non Rume ada di kamarnya?” gumam Iyem membuka sedikit pintu lalu melingak-linguk melihat lorong yang sepi.
“Bi! Ahihihhh!”
Rume berdiri dengan wujud menyeramkan, dia mengejutkan bi Iyem hingga wanita itu jatuh pingsan. Dia tidak sadarkan diri selama sepuluh menit lalu terbangun kembali menyadari posisi tubuh berada di tengah-tengah pintu. Lampu yang padam menambah penglihatannya tidak dapat melihat dengan jelas.
Dia lupa dimana terakhir kali meletakkan senter kecil atau korek api yang selalu tersedia di dalam kantung baju. Saat dia sedang meraba laci, dari arah pintu masuk Nampak Rume membawa lilin yang meleleh di atas telapak tangannya.
“Bi, sini aku kasih penerangan. Bi,ihihihh.”
“Tidak! Jangan mendekat! Arggh!”
Suara jeritan itu membangunkan Parsih, di sampingnya tampak Rume tertidur pulas posisi tubuh membelakanginya. Ketika mendengar teriakan, perlahan dia membuka pintu melihat dia meringkuk ketakutan di samping kasur. Parsih mengguncangkan tubuhnya, dai melihat wajah Iyem seperti orang ketakutan.
“Nyonya, tadi non Rume disini. Dia__” ucap Iyem terbata.
“Rume tidur di kamar saya, mungkin bibi salah lihat” ucap Parsih.
“Tapi non__”
“Bibi istirahat ya besok banyak hal yang harus di kerjakan.”
“Ya non, terimakasih.”
“Bukan kah aku melihatnya dengan mata kepala sendiri bahwa non Rume berada di kamarnya?” gumam Iyem.
__ADS_1
Pekerja baru itu memastikan sendiri bahwa Rume memang disana. Seolah terdapat dua sosok Rume yang berada di tempat yang berbeda. Iyem menghidupkan kran air mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat.
Saat dia membentang sajadah, terlihat tumpukan rambut panjang di dekatnya. Iyem terkejut, dia memejamkan mata mengucapkan istighfar membuka mata kembali. Setelah gangguan itu menghilang, dia mengenakan mukenah. Mengangkat takbir di iringi bantingan pintu, Iyem tetap meneruskan ibadah walau dia merasakan sosok makhluk berdiri di belakangnya.