Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Derita waktu


__ADS_3

“Semua ini salah ku, kalau saja Transo tidak aku bawa ke rumah. Pasti Lisa akan bahagia dengan Wijaya. Aku ingin sekali menghajar mu Transo. Tapi apa lah daya engkau kini sudah menjadi suami adik ku.”


Di dalam taksi, Yuno mengingat kembali kertas-kertas yang berjatuhan di sela baju Transo sebelum perpindahan ke kota seberang. Surat itu masih Yuno simpan di dalam ransel. Surat cinta Transo dengan wanita-wanita lain. Wijaya mengirim alamat Rumah Sakit lewat seluler, malam ini adalah malam jum’at. Sesampainya disana, Yuno berlari mencari ruangan tempat Lisa berada.


“Maaf bapak silahkan tunggu di luar” ucap seorang suster.


Wijaya merangkul Yuno, dia sangat dekat dengannya. Adik ipar yang tidak jadi itu masih bersikap sama seperti dahulu. ”Cepat ceritakan kepada ku semua tanpa di tutupi sedikitpun” kata Yuno berjongkok mengusap dahi.


Wijaya dengan sabar menceritakan semua yang dia alami. Penyampaian menambah pukulan batin Yuno kecewa ke dirinya. “Wijaya terimakasih engkau sudah menyelamatkan adik ku, tapi mengenai rumah berhantu dan tetangga Lisa. Aku putuskan untuk melihat secara langsung malam ini keadaan disana.”


“Sebaiknya abang jangan gegabah, disana seperti sarang setan."


“Tapi, nyawa adik ku lebih penting. Bila perlu malam ini aku membakar rumah angker itu.” Pikiran Yuno benar-benar sudah kalut.


“Mas, bagaimana jika Lisa mengetahui kabar mas terjadi sesuatu disana? Lisa sedang sakit mas. Pikirkan adik mas dan calon keponakan” ucap Wijaya berbesar hati.

__ADS_1


Hampir saja dia membawa kabur jauh Lisa, mengingat kondisi Lisa semakin melemah di tengah perjalanan Wijaya memutar arah mencari rumah sakit. Setelah siuman, Lisa memutuskan meminta pulang. Dia merindukan Transo sementara suami gila itu sedang asik dengan wanita lain.


Untuk apa Transo menyemburkan pelet ke Lisa tapi dia meneruskan nafsunya ke wanita lain?


Menggaris bawahi hawa nafsu manusia jenis Transo yang tidak pernah puas dan selalu ingin memiliki.


“Abang, kapan engkau datang?” tanya Lisa.


Posisi duduk Lisa di samping Yuno bagian kursi mobil belakang, dia menyenderkan kepala di pundak Yuno sambil mengusap perut. “Adik, aku hanya ingin melihat mu. Tanpa sengaja mendengar berita engkau masuk RS. Sudah lah jangan memikirkan apapun, engkau harus sehat” jawab Yuno.


Sebelum mereka tiba, Transo sudah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah. Pertemuan Transo dan Tini di sambung dengan menggunakan telpon selama berjam-jam.


Tin, tin. (Klakson mobil Wijaya berhenti parkiran di depan rumah).


“Gawat, aku melupakan Lisa. Kemana perginya dia? Malam begini juga siapa tetangga yang berhenti di depan rumah ku?” gumam Transo mengintip dari sela pintu.

__ADS_1


“Transo! Transo!” teriak Yuno.


“Bang Yuno?” gumamnya membuka pintu. Wijaya dan Transo membantu Lisa berjalan masuk ke dalam rumah. Transo mengerutkan dahi memperhatikan pria asing yang di dekat istrinya.


“Lisa dari mana saja kau? Aku mencari mu” ucap Transo.


“Tutup mulut mu Transo. Kau sudah berjanji pada ku akan membahagiakan Lisa, kenapa adik ku terlihat sangat menderita?” tanya Yuno menarik lengan bajunya.


“Dan juga aku akan berbicara empat mata mengenai surat cinta mu” bisik Yuno.


Di pikiran Transo adalah sekalipun Yuno mengamuk atau menghajarnya. Lisa tetap tidak akan bisa lepas dari pelet yang sudah masuk ke darah dagingnya.


“Aku akan menjelaskan jika Lisa sudah sembuh dan bisa melakukan semua sendiri. Oh ya, siapa dia?” Transo mendekati Wijaya melakukan nafas mengendus.


“Kenalkan, saya Wijaya sahabat Lisa.” Wijaya mengulurkan jabatan tangan.

__ADS_1


__ADS_2