Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Kesakitan


__ADS_3

Rasa menepis ketajaman dan darah yang mengalir seperti derasnya hujan di pelupuk mata.


Siang hari bolong biasanya para jin atau hantu enggan menampakkan wujudnya. Mereka biasanya mengincar dan mengganggu manusia di waktu senja atau putaran waktu silih bergantinya alam lain. Tapi, berbeda dengan para dedemit atau jin yang berada di wilayah perkampungan jin. Hari ini beberapa piring melayang sendiri dan terlempar ke lantai. Hal ganjil itu sering sekali di alami oleh Lisa, tapi sepertinya gangguan beruntun terjadi pada hari ini. Seolah penghuni yang berada di dalam rumahnya yang tidak menyukai benda yang berada di dalam lemarinya.


Berkali-kali Lisa mengucapkan istighfar sambil memeluk bayi Jaka. Ketika dia sudah mulai merasa di dalam rumah tidak aman, Lisa berniat meninggalkan rumah dengan membawa tas yang berisi perlengkapan bayi Jaka. Akan tetapi, dari luar pintu itu seolah terkunci. Lisa berusaha mendobrak dan menggedor nya tapi tetap saja tidak ada orang yang akan mendengarkan suara tersebut.


“Tolong buka pintunya! Tolong!”ucap Lisa.


“Mbak Lisa! ” panggil Kabaya dari luar.


“Kabaya, bantu mbak membuka pintu ini” kata Lisa sangat panik.


Krekk, krekk. Srett. Suara aneh semakin mendekatinya dengan penampakan sosok jin hitam besar bermata merah menyala dengan aroma kemenyan menyengat indera penciuman.

__ADS_1


“Argghh!” teriak Lisa.


Bayi Jaka pun ikut menangis, sementara Dadang masih mencari cara agar pintu itu bisa terbuka. Dia menatap ke sekeliling bahwa tidak ada satupun warga yang melintas. Daerah yang penuh hal mistis itu membuat bulu kuduknya berdiri di sertai hawa dingin menusuk kulitnya. Dadang mengucapkan do’a dan surah-surah ayat suci Al qur’an.


Meskipun tubuhnya terasa berat dan kakinya seperti ada yang merobek kulitnya secara paksa, dia tetap melanjutkan bacaan berharap yang Maha kuasa akan melindunginya dan membantu membuka pintu. Seketika pintu itu terbuka lebar, Lisa berlari keluar sambil menangis dan menarik tangan Dadang untuk menjauh dari rumah tersebut.


“Mbak, sebenarnya apa yang sedang terjadi?”


“Mbak juga tidak tau, kamu kenapa kesini lagi?”


“Ya mbak tau bagaimana sifatnya. Mbak minta maaf atas perlakuan mas Transo terhadap kalian” ucap Lisa.


“Tidak apa-apa mbak. Tapi, apa yang akan mbak lakukan sekarang?”

__ADS_1


“Mbak harus pergi dari tempat ini” Lisa yang masih menggendong bayi Jaka itu berjalan berdampingan di sebelah Kabaya.


Saat langkah kaki mereka sudah mendekati batas wilayah perkampungan. Suara teriakan dari ujung jalan menghentikan langkah mereka.


“Lisa! Pulang!” sosok Transo berdiri dengan mata merah menyala.


“Mbak, sepertinya itu bukan mas Transo” ucap Kabaya.


Mereka berlari sekuat tenaga, di depan mereka sudah ada kendaraan roda empat yang menyalakan suara klakson panjang.


Tinn. Tin. (Bunyi suara klakson mobil yang berhenti).


Transo keluar dari dalam mobil, dia menggenggam tangan Lisa lalu menariknya masuk ke dalam mobil. Sementara bayi Jaka dia rampas dan dia tempatkan berada di sampingnya. Transo yang sombong dan angkuh itu enggan menyapa Kabaya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia melajukan mobil meninggalkannya.

__ADS_1


“Sungguh malang kehidupan mbak Lisa, bagaimana cara ku untuk


menyelamatkannya?” gumam Kabaya menggelengkan kepala.


__ADS_2