
Fredi seperti orang gila berjalan kesana kemari mencari jalan keluar, dia menghafal jalan yang semula dia lewati perlahan pandangan mata menangkap letak kendaraannya. Dia pun berlari masuk ke dalam lalu melajukan mobil keluar dari tempat aneh tersebut. Anak, istri dan keponakannya hilang, jalan satu-satunya adalah menuju perkampungan siluman tempat Lisa berada.
“Aku harus membunuh Transo!” gumam Fredi kesetanan.
Dia melepaskan baju, memasuki area perkampungan mencari arah rumah Lisa.
Menginjakkan kaki di atas tanah panas, tanpa alas kaki dia memegang golok mendobrak rumah. Ada Transo yang sedang menikmati sepotong daging ayam. Dia melotot melihat kedatangan Fredi, tidak ada sambutan hangat atau tegur sapa ringan. Transo menggulung lengan baju menyerang Fredi secara brutal dengan ilmu kekebalan yang dia miliki.
Membacok dan menusuk tubuh Transo, sama sekali tidak ada darah yang keluar atau luka yang terkoyak itu melebar. Luka memang terlihat berdarah tapi hanya terlihat seakan luka kecil yang tergores pada kulit.
“Mas Fredi! Mas Transo hentikan!” teriak Lisa.
__ADS_1
Pertarungan berdarah, Transo menikam tubuh Fredi dari belakang saat Fredi menarik tangan Lisa untuk keluar dari rumah. Dia meregang nyawa bersimbah darah, lidah menjulur keluar mengeluarkan darah dari rongga dari sela hidung dan mata.
“Tidak! Mas Fredi!” teriak Lisa menangis tersedu-sedu.
Kematian mengenaskan di rumahnya sendiri, kepergian saudara kandung di banjiri air mata dan rasa penyesalan mendalam. Lisa memeluk jasad abang kandungnya yang sudah tiada. Bagaimana dia menjelaskan kepada orang tuanya? Fredi menghembuskan nafas terakhir secara tragis di tangan suaminya sendiri.
Setelah membunuh Fredi, Transo menghilang tanpa jejak. Para polisi yang datang dan para warga berbisik menyaksikan kejadian tersebut. Rumah di padati oleh para pelayat dan warga dari kampung tetangga yang ingin mengetahui tentang kabar mereka.
“Sungguh wanita yang malang” ucap salah warga yang lain.
Lisa mengurus semuanya sendiri, tiba-tiba suara pria dari samping mendekatinya. “Nyonya, biar aku saja yang mengurus proses pemakaman dan menghadapi aparat kepolisian. Tuan Wijaya sudah memberi amanat kepada saya untuk membantu nyonya” ucap Sen bernada pelan.
__ADS_1
“Terimakasih tuan Sen. Tapi aku tidak mau menambah beban Wijaya karena dia kini mengambil alih tugas mengasuh Jaka” lirih suara Lisa lalu menyeka air matanya.
“Tidak apa-apa nyonya. Kondisi nyonya terlihat kurang sehat. Kalau begitu nyonya duduk disini saja” kata Sen sedikit memaksa.
Fredi di bawa ke rumah sakit untuk di otopsi. Kedua orang tua Lisa mendengar kematian Fredi mengakibatkan struk mendadak pada pak Hery. Sudah jatuh tertimpa tangga, musibah beruntun seolah semua kesialan setelah menyandang status sebagai istri Transo. Lisa hampir tidak sadarkan diri mendengar kabar sang ayah sedang berada di rumah ICU.
Malam acara do’a bersama yang di gelar di rumahnya terasa sangat panas bagai hawa api yang menyala. Beberapa para warga yang tidak tahan memilih membaca surah dan ayat suci Al qur’an. Tidak ada angin yang menggoyangkan pepohonan, keanehan muncul melihat dahan yang pohon melambai dan sesekali terdengar suara burung hantu di atasnya.
“Aku takut sekali” bisik warga.
“kita tidak boleh kalah dan harus menyelesaikan do’a” kata bu Tami.
__ADS_1
Satu persatu para warga menyampaikan kata maaf dan meminta ijin untuk pulang. Lisa hanya mengangguk membalas jabatan tangan mereka dengan pandangan menunduk. Orang-orang melihatnya kini bagai wanita setengah gila yang memiliki tatapan kosong begitu jauh dari yang terlihat.