
Panggilan masuk
“Suster kepala, nomor dokter Wijaya tidak bisa di hubungi, apakah dokter sedang di ruang operasi?” suster Kela.
“”Dokter sedang bersama seorang pengacara di ruangannya. Apakah ada pesan yang ingin di sampaikan sus?” suster kepala.
“Ya tolong sampaikan kepada dokter Wijaya, saya ingin kembali saja ke rumah sakit. Tempat ini berhantu, saya tidak tahan walau satu menit pun disini.”
“Halo, sus! Suara anda putus-putus. Saran saya jangan mengganggu dokter untuk beberapa hari ini karena masalah di rumah sakit sangat genting. Saya tidak ingin suster menjadi tumpahan amarahnya. Kalau begitu saya tutup panggilan ini.”
“Tunggu! Suster kepala!” panggilan terputus.
Suster Kela menarik rambutnya sendiri, dia menyesali keputusannya menerima penempatan kerja untuk rekomendasi permintaan penaikan jabatan. Kini dia harus menerima semu konsekuensi, di ujung kasur dirinya tampak begitu frustasi.
“Aku harus melakukan sesuatu agar secepatnya terbebas dari sini. Kalau begitu aku harus mendekati sang pemilik rumah agar mendapatkan tanda tangannya setelah satu atau tiga bulan bekerja” gumamnya.
__ADS_1
...----------------...
“Terimakasih atas kerjasamanya pak, tolong selidiki masalah ini secepatnya” ucap Wijaya berjabat tangan dengan pengacara Bon.
“Sama-sama tuan, saya pamit undur diri” jawabnya.
“Ya, silahkan.”
Wijaya berjalan menuju koridor yang mengarah ke ruangan Yuno dan para keluarganya. Ketika dia membuka pintu, terlihat sosok wanita merangkak dari balik kasur mendekati Denta. Matanya menyala, mengeluarkan lendir, darah hitam kental keluar dari sela-sela jemarinya yang berbentuk akar panjang.
“Denta! Awas!” teriak Wijaya.
“Ada apa?” tanya Yuno.
“Mas, aku tadi melihat_” ucapan Wijaya terputus.
__ADS_1
Dia berpikir ulang jika Denta mendengarnya pasti akan sangat ketakutan. Wijaya berbisik ke Yuno, kemudian dia duduk di samping Denta lalu memeriksa lukanya dan memeriksa kondisi mereka semua satu-persatu. Dengan sabar pria itu memperlakukan anggota keluarga Lisa begitu baik.
“Terimakasih banyak. Maaf kami merepotkan mu” ucap Yuno.
“Tidak perlu mengatakan seperti itu mas. Kini aku sudah resmi menjadi ayah angkat Jaka, bayi tampan itu berada di rumah ku dan dia di rawat oleh dua suster pribadi” ucap Wijaya sambil tersenyum.
“Keponakan ku yang malang. Apakah dia menangis mencari ibunya dan bagaiman dengan Lisa sekarang?” tanya Yuno begitu khawatir.
“Anak angkat ku baik budi, semua kebutuhannya terpenuhi mas sementara Lisa mempercayakan sepenuhnya bayi Jaka kepada ku. Setelah urusan ku selesai maka aku akan menghubungi suster kela.”
“Ya, aku akan menunggu kabar dari mu” Yuno menghela nafas panjang.
“Karena kondisi Denta sudah pulih, sebaiknya dia tinggal di rumah ku agar Jaka mempunyai teman bermain mas” Wijaya.
“Ya aku setuju dengan saran mu. Denta pasti tidak merasa kesepian sambil menunggu kesembuhan ku.”
__ADS_1
Denta di antar ke rumah Wijaya di bawa oleh suster Haki. Meskipun suster itu sudah tertimpa masalah besar dan sedang dalam masa penyelidikan namun Wijaya tetap memperjuangkan suster kepercayaannya itu. Dia yakin bahwa suster Haki tidak bersalah dalam hal ini dan melarikan diri atau menghindar dari masalah.
Sepanjang perjalanan, suster tersebut mendengar suara menggerutu tidak jelas yang berasal dari Denta. Suster Haki yang lagi mengemudi hanya meliriknya memperhatikan sikap Denta yang aneh. Urat wajah penuh berwarna hitam, wajah pucat mengeluarkan gigi taring yang membuat si suster terkejut. Hampir saja mereka mengalami kecelakaan jika suster itu tidak segera melakukan rem mendadak.