Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Darah daging Tumbal


__ADS_3

“Aku seperti hidup kembali, bayangan penampakan makhluk mengerikan masih terlihat ketika aku membuka dan menutup mata” ucap Karjo.


Dia menyenderkan tubuh di sisi pinggiran bangku yang terbuat dari bambu. Perkumpulan para warga mendiskusikan mengenai keresahan mereka menghadapi Transo dan ilmu hitamnya yang meraja lela. Kemarin mereka mendengar kabar dari salah satu warga kampung yang baru pulang berbelanja dari kota akan kabar mengenai dukun sakti yang membunuh beberapa orang disana.


“Aku mendengarnya sendiri, nama si dukun gila Transo menghabisi para pekerja dokter Wijaya yang sering singgah ke kampung ini” kata Mamang sambil berbisik.


“Apa kau yakin? Seingat ku beberapa hari lalu salah satu wanita yang sedang mandi di sungai sempat menjerit berlari tanpa sehelai benang pun mengejar Transo seperti orang gila. Wanita itu adalah istrinya Partim, seakan dia telah terkena pelet si dukun gila” ucap Ujang menerangkan dengan gaya mengusap jenggotnya.


...----------------...


Rumah yang sangat sepi, setelah tragedi berdarah di rumah itu hanya ada seorang pekerja yang membersihkan halaman rumah dan berjaga di pos satpam. Dia tidak berani bermalam dan masuk ke dalam rumah yang kini tampak angker akibat kematian akibat pebuatan si dukun gila. Suara sepeda motor yang berhenti dan langkah kaki kecil ustadz Hendra kini berdiri di depan gerbang rumah Wijaya. Dia sengaja tidak memberitahu kabar kedatangannya kepada sahabat karibnya itu. Namun, siapa yang mengira sosok dari pria berhati lembut dan dahulu sangat taat beribadah kini menjadi seorang yang murtad dan sesat?


Hendra merasakan hawa ghaib kejahatan yang begitu kuat menyelimuti rumah itu. Firasat dalam mata batin menangkap bayangan sosok siluman iblis berbulu hitam menatapnya dari atas genteng. Seketika dia menghilang ketika ustadz Hendra selesai membacakan surah An-nas. Angin bertiup kencang, alam yang berubah-ubah di sela petir tanpa mengeluarkan hujan.


Malam itu, Hendra merasakan hawa ilmu hitam sangat besar di udara. Aroma anyir darah manusia menusuk rongga hidunga. Setelah mengetahui tidak ada satupun yang berada di rumah, ustadz Hendra kembali pulang sambil melepaskan dzikir dengan hembusan kecil ke area depan rumah tersebut.


“Arggh! arghh! ” suara jeritan sosok makhluk ghaib.


“Kembali lah kau ke asal mu dan jangan ganggu keluarga ini!” gumam ustadz Hendra pergi berlalu.


Di sudut dapur terlihat Kasim sibuk mengobati luka-lukanya. Dia terkejut melihat kedatangan Ijah dengan raut kebingungan melihat suaminya. Dia berjongkok meletakkan tas selempang yang mewah itu lalu mengambil alih kapas dan cairan antiseptic dari tangannya. Ijah menggelengkan kepala sambil melayangkan berbagai macam pertanyaan.

__ADS_1


“Sebelumnya ibu mau memberi kabar tentang hasil check up kesehatan yang semakin membaik pak. Tapi ibu tidak habis pikir kenapa bapak bisa babak belur seperti ini? bapak tidak habis berkelahi kan?” tanya Ijah.


“Tidak bu, bapak hanya tergelincir di tempat kerja saja” ucap Kasim mencari alasan.


Dia menyodorkan sebatang emas ke tangan Ijah, sontak saja mata wanita itu seakan menyala lalu tangannya cepat-cepat menerimanya. Ijah menghentikan gerakan mengobati luka Kasim, dia sudah tidak sabar menukar benda itu dengan tumpukan uang. Hingga pula melupakan keempat anaknya terutama Dana yang sedang sakit keras.


“Bapak, ayo kota ke kota. Biar anak-anak di jaga pengasuh saja, ibu sudah membawa seorang pekerja khusus menjaga keempat anak kita di rumah” ucap Ijah tersenyum ceria.


Uang dan harta yang berlimpah telah menutup mata hati kedua untuk memikirkan anak mereka. Kasim yang seperti babu dan hewan peliharaan bagi Transo tapi hidup mendadak kaya raya dan di pandang oleh warga sebagai orang terkaya di kampungya. Setiap kendaraannya melintas melewati area perbatasan kampung, banyak warga menunggunya dengan tangan ke atas. Dari dalam mobil Kasim menghamburkan uang secara Cuma-Cuma dengan sikap sombong dan angkuh menatap mereka dengan senyum dan tawa.


Dia sudah tidak sadar kini nasib yang di tanggung salah satu anaknya Dana. Ketika dia selesai kembali dari kota dengan berbagai macam perhiasan dan uang di dalam beberapa koper terlihat bendera kuning sudah terpasang di depan pintu masuk.


“Tidak tau bu, biasanya kan kalau ada bendera itu pasti ada yang meninggal dan banyak para pelayat yang datang. Mungkin saja bendera ini hanya orang iseng saja yang memasangnya di dahan pohon depan rumah kita” ucap Kasim.


Kaki mereka lemas tidak berdaya, di dalam rumahnya sudah ramai para tetangga yang hadir sedang duduk mengelilingi Danu yang sudah tertidur selamanya. Tangisan yang tiada arti, semula mereka berpikir penyakit yang di derita Dana sudah berangsur membaik dan telah mempercayakan pengasuh untuk anak-anak mereka. Di depan semua para pelayat, tampak Ijah yang sudah di penuhi hawa setan itu menampar pengasuh yang sedang menggendong dini. Tiga kali tamparan yang sangat keras sampai mengeluarkan darah dari hidungnya.


“Huaaaahh. Hiks” tangis Dini ketakutan melihat ibunya.


Begitupula Dina dan Danu bersembunyi di balik tubuh si pengasuh enggan menerima uluran tangan Ijah ketika akan meminta mereka di ke arahnya.


“Ayo sini sama Mami nak. Dia adalah pengasuh yang tidak berguna, Cepat jangan dekati dia atau mami akan menghukum kalian” ucap Ijah dengan nada sedikit keras.

__ADS_1


Pengasuh itu di usir tanpa rasa manusiawi dan di permalukan di muka umum. Ijah melempar tas lalu mengeluarkan isinya di depan pintu. Orang-orang yang melihat perbuatannya itu hanya bisa menggelengkan kepala. Para pelayat lain yang baru menyaksikan pula menjadi berbalik arah tidak jadi menyambangi rumah duka.


“Apakah istri si Kasim sekarang sudah gila? Anaknya baru saja meninggal tapi sikapnya seperti orang kerasukan” bisik salah satu warga.


“Yak kau benar sekali. Bukan hanya kau dan aku saja yang menyadarinya, terutama pada kekayaannya yang secara tiba-tiba pasti memiliki cerita tersendiri mengenai pesugihan” jawan Ujang.


“Ayo kita kembali saja ke pos siskamling untuk meneruskan pembicaraan” ajak Mamang.


Ketika perjalan mereka menuju pos melewati pepohonan pisang, tampak sosok Transo berlari dengan jeritan sambil memegang kepalanya. Mereka pun langsung berlari terbirit-birit sampai salah satu sandal satunya tersandung batu.


“Woy tunggu! Ujang! Eno!” teriak Mamang berusaha bangkit dan berlari.


...----------------...


“Kalian seperti angkutan umum saja yang tidak betah duduk walau hanya sebentar” kata Karjo.


“Begini pak, biar aku saja yang menceritakan semuanya__”


Selesai mendengar cerita Ujang, maka Karjo memutuskan untuk mengumpulkan para warga untuk mencari Transo dna segara melenyapkannya. Dia memukul kentungan sangat keras, Karjo bersama warga lain beramai-ramai membawa obor menuruni jurang.


Sementara Transo masih sibuk mengeluarkan peluru yang tertancap di kepalanya. Dia menusuk kulit menembus tulang tengkorak dengan kerisnya sendiri. Menusuk lebih dalam lalu mencungkil peluru yang tertancap keras. Transo meringis kesakitan, walau tidak ada darah yang seharusnya sudah membanjiri wajahnya. Setelah berhasil mengeluarkan peluru, dia mendengar suara warga semakin dekat menuju dasar jurang.

__ADS_1


__ADS_2