
Suasana duka menyelimuti kediaman rumah tuan Admaja. Papan nama penuh berjejer di pekarangan dan depan rumah. Bendera warna kuning, aroma kapur barus yang begitu menyengat bersama bunga dan wewangian yang di siapkan di dalam keranjang besar. Tidak ada jenazah di dalam sana, hanya orang-orang yang sangat ramai di rumah duka. Beberapa diantara mereka berbisik akan keganjilan tuan Admaja.
Sementara tuan Sen tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya duduk di samping Wijaya lalu mengatur segala keperluan dan acara do’a.
Kasur putih yang tergeletak di tengah orang-orang yangs edang membacakan do’a. Tiba-tiba kasur itu berubah menjadi kasur yang bersimbah darah. Para pelayat sangat ketakutan dan berlari berhamburan. Ada yang sampai tidak memakai alas kaki bahkan meninggalkan kendaraan mereka.
“Ayah!” ucap Wijaya dengan berlinang air mata.
Lisa yang baru saja tiba sambil menggendong bayi Jaka Nampak panik bergegas berjalan memasuki rumah. Pemandangan yang mengerikan itu membuat Lisa sangat terkejut. Aura angker seakan menyelimuti rumah tuan Admaja. Wijaya yang belum menyadari kedatangan Lisa tampak sedang memeluk kasur bermandikan darah. Rengekan bayi Jaka menyandarkan Wijaya, pandangan matanya langsung melihat sosok wanita dan anak angkat yang begitu di sayang.
“Lisa, Jaka. Kalian kesini naik apa? Hari udah petang, aku akan meminta pak Sen untuk mengantar mu” ucap Wijaya.
__ADS_1
Gerakan kakunya yang berusaha memegang bayi mungil yang sangat dia rindukan. Lisa membuka ikatan kain gendongan. Dia memindahkan posisi letak bayi Jaka ke tangan Wijaya.
“Mas, sekalipun tangan mu itu bekas terkena darah, aku tetap memberikan anak ku. Jaka selamat atas pertolongan mu selama ini” ucap Lisa.
Wijaya terdetak dengan perkataan Lisa, dia langsung memindahkan kembali bayi Jaka. Tubuhnya yang terasa kaku, di paksa untuk berdiri menuju keran air untuk membersihkan diri lalu mengganti baju. Dengan cepat dia meraih lagi bayi Jaka, hiasan senyuman kecut di bibirnya Nampak terpaksa.
“Anak ku, pengobat di hati ku” kata Wijaya.
Lisa melirik sosok pak Sen yang berdiri di samping Wijaya, kaki tangan tuan Admaja itu pernah hampir mencelakainya. Namun Lisa berpikir ulang akan profesinya yang mewajibkan dia untuk menyakiti dirinya.
Kasur mengerikan itu di angkat oleh beberapa anggota Wijaya. Para pekerja yang lainnya juga ikut membersihkan beserta segala macam benda dan perabot yang berantakan. Lisa memperhatikan sosok pria yang selalu tegar dan kuat di hadapannya itu sangat rapuh. Tapi apalah daya, dia tidak bisa memeluk atau mengusap punggung pria yang sangat baik terhadapnya. Dia tidak ingin memberi secercah harapan untuknya.
__ADS_1
“Mas, aku berharap engkau tetap tabah dan sabar menghadapi segala cobaan ini” ucap Lisa.
“Terimakasih dik” balasnya.
“Haruskah aku berterus terang bahwa orang yang membunuh ayah ku dengan gelak tawanya di malam itu adalah Transo? Aku serba salah dalam posisi ini. Aku tidak ingin Lisa menjadi sakit, namun aku juga tidka mau arwah ayah ku penasaran. Sedikit banyak pasti lambat laun dia akan mengetahui setelah aku menabur bunga di bawah pohon raksasa tempat ayah ku tiada” gumam Wijaya.
Bayi Jaka sangat tenang di tangan Wijaya, dia sudah tertidur pulas dengan wajah imut dan penuh kerinduan.
“Aku baru menyadarinya, Jaka lah yang sudah menenangkan dan menghentikan air mata ku” ucap Wijaya.
“Tuan, saya mohon pamit untuk mengurus pekerjaan kantor yang tertunda” ucap Sen.
__ADS_1
“Ya, engkau tunda apapun jadwal pertemuan sampai aku benar-benar bisa kembali lagi ke kantor” perintah Wijaya.
“Baik tuan.”