
Perihal kehamilan Lisa, Wijaya hanya bisa mengingat dan mengkaji ulang semua hal yang di alami oleh mantan kekasihnya itu. Di dalam gubuk, dia masih melamun padahal kini sedang di kelilingi oleh para pria berbaju hitam penganut kera iblis. Tubuh Wijaya di lempari bunga kantil, di asapi dupa dan disiram darah oleh beberapa orang pria lainnya. Dalam benak WIjaya kini adalah demi melindungi Lisa dan Jaka, dia tidak lagi memikirkan resiko yang terus berlanjut dengan semua perbuatan sesatnya itu.
Di bawa sinar rembulan merah para penganut ilmu hitam berbondong melakukan kegiatan segala tujuan mereka. Ada yang mencuci gaman untuk meniup santet, ada pula yang memperkuat ilmu demi kekuatan keabadian. Terutama si penganut kera iblis kegirangan mendapatkan rumah dan tempat baru di tubuh manusia lain. Lantas apa bedanya kini Wijaya dengan Transo?
Banyak yang belum memahami semua hal ghaib, sisi hitam seakan lebih dominan di hati dan pikiran manusia. Orang-orang yang percaya pada dukun itu adalah hal penipuan kesia-siaan belaka, karena satu langkah saja menjadi manusia sesat maka selamanya akan sulit kembali bahkan menjadi sebuah neraka dalam menjalani hari di dunia. Masih banyak yang belum menyadari tipuan setan dan iblis menyesatkan manusia hingga akhir Zaman.
Terlalu banyak setiap hari banyak manusia tergoda dengan segala bujuk rayuan makhluk pendusta penyesat manusia.
Kini Transo siap menyerang kembali Wijaya dengan ilmu tambahan yang dia dapatkan. Sementara itu di sisi lain, Wijaya belum menjawab pertanyaan yang berulang kali di tanyakan oleh pria bertopi blangkon. Wijaya pasrah apapun keputusannya walau sekalipun bisa membunuh dirinya.
“Pak Wijaya, cepat jawab pertanyaan ku terakhir kalinya” ucap pria bertopi blangkon.
“Ya, aku menerima perjanjian iblis ini. Aku rela bersatu dengan makhluk tersebut demi melindungi Lisa dan Jaka” ucap Wijaya lantang.
Angin bertiup kencang, aungan suara serigala dari kejauhan dan petir yang menyambar tanpa ada hujan di menyemai dunia. Cahaya bulan merah kini tertutup awan, di kegelapan sosok Wijaya berubah menjadi makhluk kera hitam berwajah dia di bagian depan dan wajah kera di bagian belakang. Melawan serangan api merah yang akan menghantam tubuhnya, sihir dari Transo bisa dia tepis lalu di kembalikan lagi dengan satu kali sapuan tangan kanan.
“Hiyaaa!”
...----------------...
“Bagaimana ini ustadz, apakah nyawa memang tidak bisa tertolong?” tanya Dodon.
__ADS_1
“Semua sudah menjadi kehendak sang ilahi. Sekarang kita harus mengikhlaskannya dan segera membawa jasadnya pulang” ucap ustadz Ali.
“Ya ampun Pirem” teriak warga lainnya.
Jasad para warga dan pak RT yang di temukan secara mengenaskan itu di bawa pulang ke rumah mereka masing-masing. Tangis anggota keluarga mereka meraung-raung hingga jatuh pingsan menyaksikan kematian para kepala rumah tangga yang sangat mereka cintai. Terutama hal aneh yang terjadi pada mayat pak RT darah di kepala dan kedua matanya tetap terbuka.
Dia seolah sedang menunggu kedatangan sang putri yang ikut tiada. Parsih hampir gila melihat jasad sang suami dan kepergian sang putri yang menghilang secara misterius. Di dalam proses pemandian sang suami, Parsih ikut menyirami tubuh suaminya itu untuk terakhir kalinya. Menyegerakan mayit untuk tidak berlama-lama di kebumikan. Kini beberapa kuburan yang di kerumuni oleh para warga di selangi bisikan mengenai akibat dari mereka yang menuruni jurang dan bermasalah dengan Transo.
“Bagaimana ini? jika Transo tidak segera di temukan pasti aka nada korban selanjutnya” bisik salah satu warga.
“Sstthh pelankan suara mu. Kita hindari saja Transo demi keselamatan kita dan keluarga masing-masing” jawab warga lain.
Pencarian Rume berlangsung selama tiga hari, tepatnya di hari ini adalah hari kamis. Mereka menghentikan pencarian mengingat malam juma’t adalah malam mencekam terutama jika berada di dalam dasar jurang.
“Menebang pohon raksasa kini bukanlah keputusan yang baik. Kita harus menanyakan hal ini pada ustadz Ali” ucap Karjo.
“Ya, kira-kira satu jam lagi aku pamit pulang. Anakku sedang sakit dan aku tidak mau meninggalkan keluarga ku mengingat situasi kampung sedang kacau” kata Dodon berdiri dari tempat duduknya lalu pergi.
Mereka pulang ke rumah masing-masing. Kini para warga memasang obor di sepanjang halaman dan lampu penerangan sebanyak-banyaknya di dalam rumah. Tidak ada satupun warga yang berani membukakan pintu untuk menerima tamu. Para warga yang pernah turun ke dasar jurang dan membakar rumah Transo sangat ketakutan setelah melihat kematian pak RT dan warga lain yang mengenaskan.
...----------------...
__ADS_1
“Ibu, tolong aku” gema suara Rume di dalam kamar.
Tangisan bu Parsih tidak kuasa melepas bantal milik anak satu-satunya. Dia menyes pada hari itu tidak bisa menjaga sang putri dengan baik. Kini dirinya bagai hidup sebatang kara hanya di temani kesedihan sepanjang hari. Segala cara telah di tempuh Parsih demi menemukan anaknya, bahkan dia menjual setengah harta peninggalan pak RT demi segera mendapat kabar Rume.
“Rume, dimana kamu nak? Ibu sangat merindukan mu” ucap Parsih sambil menangis.
Bayangan hitam berlari melewati pintu, Parsih terkejut menoleh perlahan berjalan mencari sosok yang mengganggunya tadi. Bingkai foto Rume terjatuh dari dinding, tidak hanya itu saja bahkan foto Pak RT dan dirinya juga ikut terjatuh tanpa ada angin yang meniupnya.
“Ibu, aku kedinginan disini. Hikss” gema kembali suara Rume terdengar seperti rintihan tangisan kesakitan.
“Rume jawab ibu! Kau dimana?” teriak Parsih histeris.
“Non, istighfar non” mbok Ida mengusap punggung Parsih lalu perlahan membawanya duduk di tepi ranjang.
Di dalam kamar Rume, dia menangis senggugukan tanpa henti posisi tangan masih memeluk bantal milik anaknya. Hatinya tidak tenang, terlebih lagi setelah mendengar suara Rume seperti sedang menderita. Mbok Ida memberikan segelas air hangat untuknya, dia memijat pundak Parsih akan tetapi Parsih meminta dia agar meninggalkannya.
“Tinggalkan saya sendiri mbok” ucap Parsih.
“Ya bu” jawab mbok Ida singkat lalu pergi berlalu.
Suara parau serak, air mata berlinangan begitu terpukul. Dia juga memikirkan mayat sang suami yang masih mengeluarkan darah dari kepala. Mendengar dari cerita bu Tami bahwa terakhir kali suaminya bersama para warga pergi ke dasar jurang pohon raksasa. Hati Parsih kini di penuhi rasa dendam, dia yakin bahwa Transo adalah sumber utama penyebab musibah di keluarganya.
__ADS_1
“Aku akan membunuh mu jika terjadi sesuatu para Rume. Pasti kau juga dalang di balik kematian suami ku” gumam Parsih.