Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Lika-liku mistis


__ADS_3

Penjagaan bayi Jaka di perketat sehingga suster Cindi tidak mempunyai ruang untuk bisa menjalankan rencana. Dia sedang mencari jalan keluar atas usaha baru agar secepatnya menyelesaikan tugas. Tepat di pertengahan sore, suster Sese sibuk memeriksa Jaka yang tidak kunjung bangun. Wajah gusar sampai dia menggendong bayi itu berjalan mencari Toni.


“Pak Ton, antarkan saya ke Rumah Sakit. Jaka sudah berjam-jam tidak membuka matanya” ucap suster Sese.


“Sebentar sus, saya siapkan kendaraan terlebih dahulu” jawab Toni berlari menuju garasi.


Suster Cindi yang ikut berpura-pura panik, dia meminta Jaka berpindah ke dalam buaiannya perlahan suster itu mengusap kening lalu membawanya ke dalam box. Dia mengambil peralatan untuk memeriksa Jaka, setelah selesai dia menyelimuti sambil mengayun.


“Sus, kita harus segera membawa Jaka ke Rumah Sakit. Pak Toni yang akan mengantar kita” ucap Sese.


“Saya sudah memeriksanya, tidak ada tanda-tanda penyakit ataupun hal yang perlu di khawatirkan. Bayi ini hanya tertidur setelah melewati fase krisis sakit kemarin” ucap Cindi.


Pak Toni berdiri di depan pintu mengajak untuk segera pergi. Namun Cindi memaksa keduanya untuk tidak pergi kemudian meminta Toni untuk pergi. Sese melirik Cindi, dia tetap pada pendiriannya. Meraih kain gendongan kemudian menggendong Jaka. Perebutan dua bayi itu terdengar hingga pak Toni kembali masuk ke dalam ruangan lalu melerai keduanya.


“Berhenti berkelahi atau saya akan bertindak secara tegas!” ucap Toni.


Keributan terdengar Wijaya saat tiba di rumah. Dia segera menaiki anak tanngga melihat kedua suster sedang berebut menarik Jaka. Wijaya melotot berdiri diantara mereka, melihat kedatangannya kedua suster itupun menyerahkan Jaka dengan penuh rasa takut.


“Maafkan saya dok, saya sudah meminta agar suster Sese jangan memperlakukan Jaka dengan kasar. Lihat lah, hampir saja pergelangan tangannya terkilir” ucap Cindi melengos melirik Sese.


“Apa kau bilang sus?” refleks tekanan nada tinggi si suster Sese.


“Hentikan! Saya tidak mau kejadian ini terulang. Biar saya saja yang memeriksa Jaka” ucap Wijaya.


Beberapa menit berlaru, Jaka sudah mulai tampak menggerakan tubuh sambil merengek kehausan. Wijaya memanggil suster Cindi untuk membuat susu formula. Dia pun dengan senang hati secepatnya pergi ke dapur. Cindi mencampurkan sedikit racun ke dalam botol dots lalu mengantarkannya ke Wijaya.


“Ini susunya dok” ucapnya melirik Jaka.


Sese menarik tangan Cindi, dia menggiring ke ruangan lain sesekali memperhatikan salah satu yang duduk di ruang tengah. Pandangan wajah marah mencengkram sampai Cindi menarik paksa. Dia kesakitan mengusap tangannya sendiri.

__ADS_1


“Suster Cindi, kenapa kau berkata seperti itu di depan dokter Wijaya? Aku tidak menyangka kau menuduh ku yang bukan-bukan!”


“Ahahah! Memang kenyataannya kau tidak bisa mengurus bayi itu dengan benar bukan? Oh ya, sekali lagi kau berani menyentuh ku maka aku tidak akan segan-segan untuk mengadukan mu pada dokter Pram!” bentak Cindi.


...----------------...


Wijaya mengasah ilmu yang di miliki untuk menyerang Transo, dia melakukan ritual pemanggilan siluman iblis kera hitam agar duduk menjaganya saat menghadapi Transo. Besok dia akan menyerang si dukun, dendam dan amarahnya tidak bisa di redam lagi. Dia harus menyelesaikan masalah ini agar Transo tidak mengganggu orang-orang di sekeliling atau meneror serta membunuh penghuni Rumah sakit maupun tempat tinggalnya.


Di sisi lain, orang-orang yang sedang berada di Mushola terlihat khusyuk melaksanakan ibadah panjang. Mereka berharap agar Allah memberi peneranga, petunjuk dan kekuatan untuk bisa melawan Transo. Gangguan semakin berkurang di luar maupun sekitar surau, para warga berbondong-bondong melaksanakan ibadah seolah mereka mendapat harapan telah terselamatkan dari ilmu hitam.


“Aku lega sekali akhirnya bisa beribadah dengan tenang” ucap Mamang.


“Ya engkau benar, tapi aku ingin bercerita sedikit saat menemani pak Erik menjaga rumah pak Kasim. Kesalahan fatal menumbalkan anaknya sendiri, dia memuja ilmu Transo tapi malah bernasib tragis” bisik Ujang.


“Jadi bagaimana dengan bu Ijah dan kedua anaknya yang lain?”


“Aku belum mengetahui kabar pasti, tapi yang aku tau bu Ijah mengalami kelumpuhan” jawab Ujang.


“Cepat kalian pergi atau kami kena sial!”


“Hei bu, kami hanya menunggu giliran sebentar saja. Jangan berkata yang tidak-tidak” ucap Mang Rom.


“Jangan di hiraukan Mang."


Di Ruang Gawat Darurat


Meski sudah terluka parah tapi keadaan wanita itu terlihat seperti orang normal pada umumnya. Ijah tidak merasakan sakit sedikitpun. Dia sudah di bius sampai dua kali suntikan tapi tetap saja tidak bisa membuatnya pingsan.


“Bagaimana ini dok? Pasien masih tetap sadar, apakah kita akan tetap melanjutkan operasi jahitan?” tanya salah satu suster.

__ADS_1


“Kita tetap melakukan operasi, tutupi dengan kain pembatas agar ibu ini tidak melihatnya.”


...----------------...


“Bagaimana keadaan Nyonya Ijah Dok?” tanya Erik.


“Bu Ijah hari ini sudah bisa pulang, kesehatannya kembali pulih dengan sangat cepat. Tapi kedua kakinya lumpuh Total, kami sarankan beliau melakukan pemeriksaan satu minggu sekali” jawab dokter.


“Baik terimakasih banyak dok.”


Ijah di bawa pulang oleh Erik, mereka membayar semua biaya Rumah Sakit dan keperluan lainnya dengan menjual elektronik dan sepeda motor milik Mang Rom. Sepanjang perjalan Rom melihat sang majikan seperti orang yang hilang ingatan. Dia menoleh ke menanyakan berkali-kali siapa dirinya.


“Apakah bapak mengenal saya?” tanya Ijah.


“Nyonya Ijah, saya adalah Mang Rom. Satpam yang berjaga di rumah Nyonya” jawabnya.


“Lalu kenapa saya sekarang bisa berada disini? Apa yang sebenarnya terjadi?”


Mendengar pertanyaan di samping raut wajah Ijah yang kebingungan. Rom menceritakan semuanya pada Ijah mengenai semua kejadian yang dia alami. Sesampainya di rumah, para pekerja menyambutnya dengan senyuman. Bi Kas membantunya mendorong kursi sampai masuk ke dalam kamar, kemudian dia memberikan segelas air hangat sesekali memperhatikan Ijah seperti orang tidak mengenalinya.


“Kau siapa? Jika sudah tidak ada kepentingan lagi silahkan pergi dari kamar ku ini” ucap Ijah.


“Saya bi Kas, nyonya baru saja mengalami kecelakaan dengan tuan Kasim” kata Kas.


“Nyonya, Danu dan Dina sudah kami bawa ke puskesmas. Mereka kini sedang tidur di kamar setelah di beri minum obat. Apakah nyonya tidak ingin melihat mereka?” tanya Kas.


“Danu dan Dina?”


“Ya nyonya, Danu adalah anak ke dua dan Dina anak ke empat. Sepeninggal Dana dan Dini, nyonya dan tuan sangat jarang bersama mereka berdua.”

__ADS_1


“Pergi, aku ingin sendiran dan jangan ada yang berani masuk ke dalam kamar ini sebelum mendapat ijin dari ku” ucap Ijah bernada tinggi.


__ADS_2