
“Lisa!”
Wijaya mengeluarkan telepon genggam, dia memanggil beberapa suster untuk datang membantunya mengangkat Lisa. Sementara itu, dia menggendong bayinya menuju ruang perawatan bayi. Karena mengetahui pak Admaja tidak suka dengan kedekatannya dengan Lisa, Wijaya membayar dua orang perawat untuk merawat Lisa dengan bayinya ketika dia sudah memindahkan Lisa ke rumah sakit lainnya.
Kring, kring! (Bunyi telepon genggam Wijaya).
“Halo, Wijaya. Apakah kamu bisa pergi ke rumah Lisa sekarang? Mas sangat khawatir dengan keadaannya.”
“Mas Yuno, maaf aku belum sempat memberikan kabar bahwa Lisa kini bersama ku. Dia di rawat di rumah sakit kembang Jaya yang jaraknya sedikit jauh dari Rumah sakit ayah ku, bayi nya sehat mas akan tetapi keadaan Lisa kurang baik.”
“Apa? Bagaimana dengan Transo yang tidak bertanggung jawab itu. Andai Lisa mau berpisah dengannya, aku jadi ingin mengurungkan niat memberitahu kematian Miya.”
“Innalillahi wa innailaihi rojiun, aku turut berduka mas. Tapi menurutku, kabar ini arus di ketahui oleh Lisa. Setelah Lisa bangun, aku akan menelepon mas kembali.”
__ADS_1
“Baiklah, terimakasih banyak atas pertolongan mu. Maaf kan aku memberi mu beban yang tidak seharusnya engkau pikul.”
“Mas, aku ingin mengabarkan putra Lisa yang sudah lahir. Selamat mas, engkau kini menjadi seorang paman.”
“Keponakan ku? Setelah mengurus semua disini, aku akan kesana membawa Denta.”
Mata Yuno berkaca-kaca setelah menutup telepon dengan Wijaya. Ingin rasanya dia melaporkan kepada kedua orang tuanya yang berada di kampung tentang kelakuan Transo dan segala penderitaan yang di alami oleh Lisa adiknya. Akan tetapi, usia lanjut orang tuanya dengan kondisi tubuh yang semakin menua membuatnya sampai saat ini menjadi bungkam.
“Bagaimana lagi aku harus menyelamatkan adik ku? Dia tidak ingin berpisah dengan laki-laki jahat itu! Apa yang harus aku lakukan?” gumam Yuno.
“Sayang, kamu sudah bangun?”
Denta mengangguk, dia menunjuk ke sudut ruangan lalu tersenyum. “Ayah, si mbok ada disitu.”
__ADS_1
“Sayang, tidak ada siapapun disitu, si mbok sudah pulang kampung tadi siang di jemput oleh anaknya, hari ini kita akan melakukan acara tiga harinya ibu. Kamu siap-siap ya, sebentar lagi orang-orang akan datang” ucap Yuno mengusap rambutnya.
...----------------...
Senja tidak akan bisa di nikmati oleh hati yang hitam. Transo mengamuk di dalam rumah. Dia merusak segala perabotan berteriak berkali-kali memanggil nama Lisa. Para tetangga keluar mendongak dari balik pintu, terutama Dita yang melihat dari balik pohon mendengar Transo sambil menyaksikan segala tingkah gilanya.
Perkampungan jin berselubung siluman kembali tertutup kabut malam. Transo mengangkat semua harta benda dari dalam tanah yang dia dapatkan dari penunggu pohon raksasa. Dia menyimpannya di sebuah lemari. Kini, dia akan memanggil sukma dan tubuh Lisa secara paksa melalui ilmu hitam atas bantuan. Sudah satu jam dia melakukan ritual di dalam kamar persemedian. Bahkan, keris yang dia pegang sudah bermandikan darahnya sendiri yang dia teteskan melalui ujung jarinya.
“Ha! Kenapa tidak bereaksi?” teriak Transo menggelegar menambah sayatan pada kelima jemarinya.
Acara tiga hari untuk almarhumah Miya di tambah dengan acara doa keselamatan untuk Lisa dan bayinya yang baru lahir. Hal itu membuat ritual Transo tidak berfungsi sehingga sihir yang di hembuskan oleh Transo mengenai tubuhnya sendiri.
“Arghh!” jerit Transo.
__ADS_1
Kulitnya gosong, wajah terkelupas. Sekujur tubuhnya terasa sangat panas. Transo berlari menuju jurang menemui penghuni jin penunggu pohon raksasa.