
Keadaan Jaka sudah kembali normal, demam dan penyakit langka yang di diagnosa dokter Pram seketika hilang begitu saja. Bayi itu kini sedang di dalam buaian Wijaya, dia belum bisa melepaskan anak angkat kesayangannya itu untuk di bawa kembali ke rumahnya. Sempat dia berpikir jika Jaka tinggal di rumah sakit sehingga dia lebih leluasa menjaganya.
“Dok, sebaiknya bayi ini segera di bawa pulang untuk menghindari virus yang terbawa oleh para pasien yang sakit” ucap dokter Pram menyarankan.
“Ya saya tau dok, tolong bantu saya mencari satu orang suster sementara sebagai pengganti suster Ara untuk membantu suster Sese menjaga Jaka” kata Wijaya.
“Baik dok, sore ini saya akan mengutus suster kepercayaan saya untuk bekerja disana” kata dokter Pram.
Setelah semua kekacauan dan masalah beruntun yang terjadi di Rumah Sakit ternama ini, diam-diam Pram memiliki sebuah rencana tersembunyi untuk menghabisi bayi Jaka. Dia mendengar sebuah rahasia besar mengenai Lisa dan suaminya Transo.
Suster yang di utus olehnya sudah mempersiapkan obat-obatan dan jarum beracun. Di dalam ruang kerja dokter Pram, mereka berbicara serius sesekali memeriksa jendela dan pintu masuk untuk memastikan tidak ada orang yang mendengar.
“Sus, rencana ini jangan sampai gagal. Jika suster Ara mengetahuinya segera habisi dia” ucap dokter Pram.
“Ya saya mengerti dok” jawab suster Cindi.
Sen mengantar kedua suster itu pulang bersama Jaka. Sepanjang perjalanan manik mata suster Sese tampak tidak tenang melihat kecurigaan pada suster Cindi. Dia seolah tidak berhenti menatap tajam Jaka dengan mata melotot. Hingga mereka tiba, gelagat suster itu membuatnya menjadi tidak tenang. Ketika dia masuk terlebih dahulu ke dalam rumah. Suster Sese menarik tangan Sen lalu meminta dia untuk tetap tinggal menemani mereka.
“Apa yang sedang engkau risaukan sus? Kan sudah ada suster Cindi yang menemani mu. Aku sangat sibuk membantu tuan besar mengurus rumah sakit dan perusahaannya” kata Sen.
“Pak Sen, perasaan ku was-was melihat gerak-gerik suster Cindi yang mencurigakan” ucap suster Sese.
“Jangan khawatir, jika terjadi sesuatu segera telpon aku. Lusa aku akan memasang kamera cctv di setiap ruangan” kata Sen.
Rumah berdebu tidak berpenghuni selama satu bulan setelah insiden kecelakaan yang terjadi. Garis pembatas polisi yang sudah terputus di sela suara-suara asing yang terdengar di lantai atas. Sen lupa memberi pesan pada para suster itu agar tidak menyentuh atau membuka sebuah pintu kamar bagian paling atas.
__ADS_1
Suster Cindi mengerutkan dahi, dia memastikan lagi suara aneh tersebut. Langkah kakinya menaiki anak tangga mencapai lantai ke tiga dia masih mendengar kegaduhan hingga sampai pada sebuah pintu yang terdapat kepala kerbau tergantung di atasnya.
“Arggghh!” jeritnya ketakutan.
Di lantai bawah suster Sese mendengar teriakan Cindi, dia sangat panik sampai meninggalkan Jaka di dalam ayunan lalu mencarinya. Jeritan Cindi menuruni anak tangga, saat melihat Sese dia langsung menggenggam tangannya dengan kasar, menarik membawanya naik ke lantai paling atas.
“Kau harus melihatnya, sebaiknya kau periksa ruangan itu!” ucap Cindi membentak.
“Tapi sus,Jaka tidak boleh kita tinggal sendirian.”
“Jangan banyak alasan, cepat kau periksa ruangan itu! Biar aku yang menjaga Jaka, aku sangat terkejut melihat kepala hewan itu yang seolah menatap ku” jawab Cindi lalu pergi meninggalkannya.
Lampu berkedip, suara gesekan anak tangga dan kegaduhan di dalam kamar. Sese menempelkan telinganya tepat di depan pintu. Dia mendengar suara jeritan melengking, sebuah tangan dari bawah pintu mengusap kakinya.
Kring, kring (Panggilan ponsel)
“Tuan Sen! Ada yang aneh di rumah ini!” jawabnya ketakutan.
“Halo sus, suara suster tidak begitu jelas!”
Panggilan terputus, laju kendaraan Sen yang hampir sampai ke Perusahaan kini berputar haluan kembali ke kediaman Wijaya.
Sementara di sisi lain, suster Cindi sudah tidak sabar menghabisi Jaka. Dia sudah membius bayi itu, kini jarum sunti beracun sudah dia siapkan di balik kantungnya. Ketika mendengar langkah kaki Sese, dia berpura-pura sedang merapikan lemari pakaian yang sudah dari tadi dia sengaja terbuka.
“Sus, aku tidak berani membuka pintu ruangan orang lain tanpa seijin pemiliknya. Kamar itu terkunci dari luar dan berada di lantai paling atas” ucap Sese menjelaskan.
__ADS_1
“Aku rasa engkau tidak berani membukanya. Apakah kau tidak ingin aku__”
Cindi menghentikan pembicaraan saat melihat Sen datang. Dia memastikan bahwa suster Sese dan Jaka baik-baik saja di tengah nafasnya yang masih tersengal-sengal. Sen dan Sese belum menyadari bahwa Jaka tampak tertidur sangat pulas akibat di bius Cindi.
“Sus, saya ingin menyampaikan bahwa jangan sesekali naik ke lantai tiga. Disana adalah ruangan privasi milik almarhum tuan Admaja” kata Sen.
“Cuma hanya itu saja yang ingin engkau sampaikan hingga engkau sampai kembali lagi kesini? Tuan Sen, engkau bisa mengabari kami lewat telepon.”
Suster Cindi menarik senyum tipis lalu melipat kedua tangannya. Sen mulai memperhatikan sikap dingin pada suster itu. Untuk mengantisipasi hal yang tidak di inginkan, Sen memanggil Toni agar berjaga di rumah itu sebelum satpam baru tiba. Dalam hitungan beberapa menit saja dia langsung hadir dengan membawa dua orang algojo yang di bayar oleh Sen.
“Pak Toni, kita harus selalu waspada jika Transo kembali hadir kembali. Saya pamit pergi terlebih dahulu” kata Sen lalu berjabat tangan dengannya.
“Baik pak, hati-hati di jalan” jawab Toni.
Kehadiran Toni serta dua algojo membuat rencana Cindi menjadi tertunda. Dia menyimpan kembali jarum suntik beracun di dalam tasnya lalu melakukan pekerjaannya sesekali memantau gerakan Sese. Di malam hari yang larut, dia masih terjaga mencari waktu yang tepat untuk menghabisi Jaka.
“Anak ini adalah sumber masalah! Terimalah kematian mu!” gumam Cindi meraih jarum suntiknya.
“Jaka! Jaka!” gema suara aneh memanggil nama bayi itu.
Dari balik Tirai muncul sosok kera hitam besar melompat menindih tubuhnya. Cindi menusuk makhluk itu dengan jarum suntik yang dia genggam untuk membunuh si bayi. Tapi, sosok itu langsung menghilang di susul lemparan lampu meja sampai melukai dahinya.
“Arghh! Jeritnya lalu berlari.
Cindi menuju ke kamarnya sendiri lalu menutup pintu hingga mendorong sebuah kursi sofa sebagai menahan dari dalam. Dia masih berpikir makhluk nyata atau sosok hantu yang mengganggunya. Di balik bayi yang tidak berdaya itu, ada kekuatan tersembunyi yang menjaganya lewat dimensi lain. Sosok Wijaya yang sudah di masuki iblis siluman kera menjaga Jaka dari nyata maupun ghaib melalui bantuan mata setan yang menyala.
__ADS_1
“Ada apa dengan suster Cindi, kenapa dia terlihat ingin berniat buruk kepada anak ku?” gumam WIjaya sedang duduk di depan meja ritualnya. Ruangan pribadi itu mengepul asap dupa dan kemenyan. Dia kembali memejamkan mata dan meneruskan mengucap mantra.