Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Darah iblis


__ADS_3

Ayam jantan berkokok menandakan fajar akan tiba. Hari baru, udara segar yang berganti dan suara kebisingan aktivitas orang-orang memulai hari. Tidak terkecuali dengan Lisa, dia memulai hari yang semula bagai neraka kini terasa indah ketika melihat wajah bayi merah mungil yang meneduhkan hati dan pikirannya.


Cinta, rasa kasih sayang ini melebihi apapun kepada sang buah hati. Lisa tersenyum tanpa henti menatap bayinya tanpa mengalihkan pandangan agar tidak melewatkan setiap gerakan lucu dan menggemaskan. Bayi itu tampak seperti di ketahui oleh ibunya, dia menggeliat beraksi menggerakkan tubuh mengayunkan tangan mungil menambah kesan manja dan menggemaskan. Lisa mengecup kening anaknya mengusap kepala, pandangan masih mengamati apapun yang ada pada sang bayi.


“Sayang, ibu akan selalu di samping mu apapun yang terjadi” bisik Lisa.


Dia teringat ada kakak laki-laki dan keponakannya, Lisa berpikir kelakuannya sedikit keterlaluan tadi malam kepada mas Yuno. Perlahan dia meninggalkan kamar bayi lalu menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.


“Non, pagi ini sarapan sudah di pesan oleh tuan Admaja” ucap suster meletakkan beberapa piring di atas meja makan.


“Baiklah, terimakasih sus.”


Lisa semakin gusar, pria yang kini menjaga dan melindunginya sangat bertanggung jawab dan masih mencintainya sampai detik ini.

__ADS_1


“Aku harus menegaskan kepada mas Wijaya, aku harus pulang dan kembali ke mas Transo” gumam Lisa.


Di kursi sofa sudah ada Yuno duduk menunggunya. Dia memegang kepala saat melihat Lisa, wajah kusut menarik tangan agar duduk di dekatnya.


“Ada tiga mayat tadi malam sudah di pindahkan oleh ayahnya Admaja. Tidak tau siapa pelakunya, bisa saja orang-orang yang berada di dalam apartemen ini saat kejadian akan d seret oleh pihak hukum. Apakah menurut kamu, Wijaya yang membunuh mereka?”


“Tidak mungkin mas Admaja membunuh orang mas. Selain mas Admaja, suster sudah tidak sadarkan diri. Sekarang kita dua yang harus saling mengakui siapa yang membunuh mereka” ucap Lisa.


“Tidak, kamu membawa seorang bayi."


“Mas, Lisa ayo kita sarapan. Makanan yang saya pesan sudah di antar” ucap Wijaya tersenyum sambil menggendong bayi milik Lisa.


“Wijaya, sejak kapan engkau begitu sayang kepada keponakan ku?” gerakan mata melirik Yuno melihatnya menimang sang bayi.

__ADS_1


“Dia adalah putra ku mas, junior Wijaya” balasnya mengecup pipi Jaka.


“Tidak, kembalikan anak ku!” Lisa mengambil anaknya dari tangan Wijaya.


Yuno hanya terdiam menggeleng kepala mengikuti mereka.


“Sebentar mas akan menyusul setelah memanggil Denta” ucap Yuno.


“Tidak biar aku saja mas” Lisa membawa anaknya menuju kamar Denta.


Di dalam kamar, tidak ada Denta. Lisa membuka kamar mandi, menyibakkan tirai putih plastik pembatas. Ada bayangan besar berdiri di belakangnya. Bayinya pun gelisah merengek, Lisa berjalan kembali menuju kamar sambil menenangkan anaknya.


“Denta, kamu dimana sayang? Denta” panggil Lisa melihat ke arah balkon dari balik jendela.

__ADS_1


Tangis bayinya semakin menjadi, isak merasakan ada hawa dari sosok makhluk yang kini tepat di belakang Lisa. Wujud gendoruwo bermata merah, dia melotot mengulurkan tangan. Sekujur tubuh makhluk itu berbulu, bau anyir bercampur kemenyan. Lisa tidak bisa berteriak seakan mulutnya terkunci. Dia menarik bayi dari tangan Lisa, akan tetapi Wijaya masuk melemparkan pukulan kuat ke arah mahkluk itu sehingga menghilang dengan meninggalkan suara teriakan yang mirip sekali suara Transo.


“Arghh!”


__ADS_2