Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Lara masih sama


__ADS_3

Aduhai siapa yang sudah mencelakai hati ku?


Hari ku tidak tenang memikirkan dia


Kali ini aku akan menegaskan lebih dalam akan keping sisa hati yang hanya ku beri untuknya


Lisa


Aku akan menjadi bayangan pelengkap pelindung di kala engkau melalui gerimis sendiri


Terluntanya hati ku sesakit ini masih tetap menginginkan engkau hidup dengan bahagia


Usah teguk segala penderitaan berkepanjangan berlarut karena sedikit saja kun anti engkau meraih ujung jemari ini


#Catatan Wijaya


Alangkah terkejutnya Wijaya melihat jasad Dino begitu tragis. Tubuhnya lemas, ponsel yang di tangan terjatuh sesaat itu pula ida berlari menuju keluar rumah. Hal yang di pikirannya adalah mencari Lisa dan bayi Jaka. Dia tidak mengetahui semua itu adalah ulah Transo si dukun gila.


“Anak ku!” gumam Wijaya tergesa-gesa hingga tubuhnya sampai di depan pintu rumah.


“Maaf anda cari siapa?” tanya


Kabaya yang sedang menaiki tangga untuk memperbaiki genteng.

__ADS_1


“Dimana Lisa?” tanya Wijaya.


Kabaya yang seolah terperanga melihat sosok Wijaya yang berpenampilan seragam putih lengkap dengan stetoskop yang menggantung di lehernya hingga dia tergelincir menimpa tubuhnya.


BRUGH. Bunyi suara tangga jatuh.


Lisa keluar menggendong bayi Jaka menyaksikan adegan saling memeluk antara kabaya dan Wijaya. Lisa tertawa kecil tidak tahan menahan geli ketika wajah Wijaya memerah menahan rasa malu.


“Wahai wanita ku, sudah lama aku tidak melihat mu tertawa” gumam Wijaya.


Dia berdiri mendorong Wijaya, setelah melihat wajah bayi Jaka sangat dekat. Wijaya berpamitan kepada Lisa karena ada hal penting yang akan dia lakukan. Percakapan singkat itu hanya berlangsung beberapa menit sampai mereka tidak lagi melihat bayangannya.


Mayat Dino di tangani oleh aparat kepolisian setempat. Setelah berpuluh tahun berlalu belum ada anggota penegak hukum yang berani menginjakkan tanah di perkampungan jin. Sebelumnya sebuah mobil polisi itu sudah tiga kali tersesat dan berputar-putar di tempat yang sama.


...----------------...


Badannya masih terasa sakit semua setelah tertimpa tangga dan tubuh sosok lelaki yang mendekati keponakannya tadi. Perlahan sambil menunggu jawaban Lisa.


Lisa enggan menjawab pertanyaan itu, dia menyibukkan diri dengan menggendong Jaka menuju dapur untuk memasak air dan menyapu rumah.


“Kakak, siapa dia? Sepertinya aku pernah melihatnya” tanya Kabaya kembali.


Kabaya mengambil sapu dari tangan Lisa, dia meneruskan pekerjaan rumah. Sementara Lisa masih tidak ingin menjawab pertanyaan hanya berjalan menuju kamar untuk mengambil beberapa lembar uang dari penyimpanan lemari.

__ADS_1


"Kabaya, ini untuk tambahan uang kuliah mu” ucap Lisa.


“Tidak terimakasih kak, ibu sudah memberiku uang yang cukup untuk beberapa hari disini” ucapnya mendorong tangan Lisa.


Sosok Transo yang sudah menjadi perbincangan hangat para keluarga. Dia yang melakukan pesugihan ilmu hitam untuk mendapatkan kekayaan.


“Aku selalu mendo’akan keselamatan kakak dan Jaka” tambahnya.


Wajah Dadang murung berpamitan untuk melaksanakan tugas praktek perkuliahan kembali.


“Kalau kau butuh sesuatu, datang kemari” ucap Lisa.


“Terimakasih banyak kak” ucap Dadang.


Lisa memberikan sebuah bekal makanan untuknya dan beberapa kantung plastik.


“Ambil lah, jangan di tolak lagi.”


“Baik, terimakasih sekali lagi.


"Assalamualaikum.”


“walaikumsalam.”

__ADS_1


Dadang melakukan jadwal pertemuan dengan dosen pembimbing yang dia undang untuk memberi penilaian praktek ceramah dan beberapa mata kuliah lainnya. Terlihat balai desa beserta masjid sederhana itu semakin ramai dengan berbagai kegiatan islam. Gema suara pengajian yang lebih kuat sampai menembus daerah perkampungan jin. Transo tersedak sesuatu mengeluarkan darah kental berwarna hitam lalu menutup telinganya kuat-kuat. Dia menghentikan persemedian di bawah pohon raksasa besar.


“Aku tidak boleh kalah!” gumamnya.


__ADS_2