Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Jejak kepergian


__ADS_3

Pak Sen di tangani oleh Wijaya sendiri dengan peralatan medis miliknya yang sengaja dia persiapkan sebelum pergi. Setelah dia sadar, Wijaya menyiapkan seduhan mie instan dengan air hangat di dalam teko mini.


“Tuan, bukan kah para dokter sangat melarang pasien dan orang-orang untuk makan-makanan siap saji?” ucap pak Sen.


“Kini aku sedang berada di luar jam kerja dan tidak memakai seragam, kita terpaksa makan seperti ini untuk menyambung tenaga” ucap Wijaya.


“Terimakasih tuan” jawab pak Sen.


Kepalanya masih terasa pusing, dia mengingat lagi sosok mengerikan yang berwujud Transo. Kini, hidup mereka berdua seakan sedang di dalam wilayah setan yang tidak terlepas dengan berbagai gangguan.


Setelah sarapan pagi dengan mie dan minuman botol, mereka membawa keranjang besar yang berisi Bunga memasuki jurang. Diam-diam tanpa sepengetahuan Wijaya, pak Sen sudah memasang sinyal darurat kepada pihak kepolisian jika suatu saat nyawanya terancam. Dia sangat menyayangkan keputusan pak Admaja mengorbankan diri untuk di persembahkan ke iblis.

__ADS_1


“Dari awal firasat ku tidak tenang setelah keputusan tuan. Lihatlah, jin penipu itu tetap menunjukkan diri dan melanggar perjanjian dengan si pria tua. Aku akan menjumpai pria tua yang sudah menawarkan tubuh tuan Admaja” gumam pak Sen.


Sesampainya di pohon raksasa, Wijaya menabur bunga dan mengucapkan do’a untuk ayahnya. Betapa hancurnya dia saat melihat kematian ayahnya secara tragis. Sesungguhnya di dalam benak, dia sangat membenci pohon yang terdapat iblis dan juga tempat tinggal kedua bagi Transo. Tapi, hanya di tempat itu lah dia terakhir kali melihat sosok ayah yang dia miliki satu-satunya di dunia ini. Ketika dengan khusyuknya dia berdoa’, angin bertiup sangat kencang menerbangkan bunga-bunga yang dia tabur. Pak Sen menjadi panik, dia melingak-linguk ke sekitar berharap sosok jin iblis itu tidak mengganggu mereka.


“Tuan, kita harus segera pergi dari sini” ucap pak Sen.


“Tidak, aku masih berharap jasad ayahku di kembalikan oleh iblis yang terkutuk di pohon ini” kata Wijaya melanjutkan bacaan do’a di dalam hati.


“Hei, pergilah jika kalian masih menyayangi nyawa kalian sendiri!” teriak Transo dari kejauhan.


Rasa bencinya kepada lelaki itu sangat menjadi-jadi. Wijaya menarik pisau dari balik bajunya lalu mengarahkan ke arahnya.

__ADS_1


“Hahah, kau tidak akan pernah bisa membunuhku!” ucap Transo menghilang.


”Tuan, mohon jangan gegabah. Mari kita kembali ingatlah anak tuan, bayi Jaka” kata pak Sen.


Wijaya menjatuhkan pisaunya. Dia teringat lagi dengan wajah polos bayi Jaka yang dia sayangi. Di dalam perjalanan, Wijaya mendesak untuk meminta pak Sen menceritakan segala rahasia yang terjadi.


“Pak Sen, hari ini aku terpaksa memenjarakan mu jika kau menutupi kematian ayah ku. Kau adalah tangan kanannya selama bertahun-tahun. Kau tidak pernah berkhianat kepadanya” ucap Wijaya.


“Tolong tuan, tuan besar sudah memberi amanat terakhir untuk menjaga mu. Walau tuan besar sangat kejam dan terlihat tidak memperhatikan mu. Dia sejujurnya sangat menyayangi bahkan merelakan diri demi menyelamatkan tuan” kata pak Sen.


“Aku tidak akan menarik lagi perkataan ku, cepat katakan yang sebenarnya.”

__ADS_1


Akhirnya pak Sen mengarahkan petunjuk jalan menuju gubuk pria tua. Perjalanan kesana melewati jalan yang licin, hujan yang deras beserta kabut menutupi pandangan mereka, Meskipun begitu, Wijaya dengan sabar menyetir kendaraannya dan mengikuti letak tempat yang dia maksud.


“Tuan, di depan sana adalah jawaban yang akan engkau dapatkan secara jelas dan nyata. Tanpa ada kebohongan sedikitpun” ucap pak Sen.


__ADS_2