Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Gundah


__ADS_3

“Apa yang kau pertahankan dari Transo? Lihat anak mu, dia sudah menderita sejak dalam kandungan. Apakah kau tega membiarkan dia melihat dua ayah di dalam hidupnya. Kalau begitu kau harus melepaskan salah satunya.”


“Baik, besok aku akan pergi dari sini” jawab Lisa meninggalkan Yuno.


Waktu yang berputar, jarum jam dinding raksasa berbunyi menunjukkan tengah malam. Seisi rumah tampak hening, para pesuruh pak Admaja beraksi masuk membobol apartemen tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


...----------------...


Yuno terbangun dari mimpi buruknya, dia pergi ke dapur mencari segelas air. Saat dia duduk di kursi makan, dia melihat bayangan berjalan menuju ruangan lain.


“Siapa disana?” ucap Yuno.


Lampu rumah padam membuat jarak pandang Yuno tidak bisa melihat jelas. Dari arah belakang, kepala Yuno di pukul oleh salah satu body guard pak Admaja.


“Tuan, apakah kita harus menghabisinya?”


“Jangan, tidak usah ada kematian kecuali mereka yang melawan. Itu adalah perintah pak Admaja."


Mereka menuju ruangan milik Wijaya, ada seorang anak kecil laki-laki. Para body guard menutup mulut Denta dengan kain lalu mengangkatnya. Sedangkan tuan Sen masuk ke ruangan suster untuk memberikan bius.


“Hei, aku masih ingat betul yang di beritahu oleh tuan Sen. Seorang anak laki-laki” ucap salah satu body guard.


“Argghh!” jeritnya.

__ADS_1


“Kau kenapa?” tanya salah satunya.


“Anak ini menggigitku!”


Mereka menurunkan Denta, pundak salah satu body guard itu mengeluarkan darah. Semakin deras, ada suara retakan tulang seolah mematahkan tulang-tulangnya. Mata Denta menyala berwarna merah, dia menghabisi tiga orang body guard itu dengan sekali cekikan.


Kini, tersisa tinggal dua orang body guard bersama tuan Sen. Dia sudah mengikat suster lainnya dan Lisa sementara itu sang bayi sudah di tangan mereka.


“Ayo kita bawa saja mereka bertiga” perintah Sen.


Denta, Lisa dan bayinya sudah masuk ke dalam mobil. Tapi, mesin mobil tiba-tiba tidak bisa menyala membuat mereka harus keluar masuk melihat membuka mesin bagian depan.


“Kenapa lama sekali?” tanya Sen.


“Mobilnya tidak bisa di jalankan tuan!”


Saat itu, Wijaya sudah kembali. Dia turun dari mobilnya membawa tongkat bisbol yang selalu dia bawa kemana-mana. Wijaya memecahkan kaca mobil, dia membuka pintu mobil milik ayahnya sendiri lalu memukuli para body guard beserta tuan Sen.


"Ampun tuan!" ucap mereka ketakutan.


“Cepat pergi!” perintah Wijaya.


Dia membuka ikatan kain yang mengikat Lisa dan Denta, perlahan menggendong sang bayi menggiring masuk kembali ke dalam apartemen.

__ADS_1


“Maafkan aku, ini semua adalah ulah ayah ku” ucap Wijaya.


“Tidak mas, aku yang harus minta maaf membuat hidup mu menjadi tidak tenang karena ku. ”


Yuno yang sudah sadar terbangun mencari Denta.


“Mana Denta?” tanya Yuno.


“Tadi dia bersama kami mas” jawab Wijaya.


“Denta! Denta!” panggil Yuno.


Sampai pada kamar Wijaya, dia melihat Denta tertidur pulas dengan selimut yang sudah menutupi tubuhnya.


“Anak itu, kenapa sikapnya sangat berbeda? Dia baru saja mengalami penculikan. Kenapa dia tidak merasakan ketakutan atau apapun?” tanya Wijaya mendekati Denta.


“Sudah, dia sudah tidur" ucap Yuno menutup pintu kamar tanpa rasa curiga.


“Lisa, aku rasa keponakan mu sudah kerasukan makhluk lain” kata Wijaya.


“Nggak mungkin mas. Dia pasti sedang mengalami trauma di tinggal ibunya. Lalu, dimana suster?” tanya Lisa.


“Hati-hati berjalan, jika tidak kuat biar aku saja yang mencarinya.”

__ADS_1


Mereka melihat sang suster masih berada di kamarnya. Wijaya memeriksa sang suster yang terkena obat bius.


“Kejadian ini tidak boleh terulang lagi. Aku harus menemui ayah” gumam Wijaya.


__ADS_2