
Begitu sakit jika harus berpisah dengan buah hati, pelipur lara yang setiap hari selalu menguatkan dan memberi tenaga di dalam hari yang bagai neraka. Menenggelamkan kesedihan di dalam lumpur, hati sangat pilu berusaha membalikkan tubuh dengan berat untuk merelakan sesuatu yang berharga itu terlepas di tangannya. Toleransi sedikit saja untuk menenangkan hati, seolah kepingan kemustahilan yang harus di kubur dalam.
“Cepat pergi mas!” teriak Lisa berlari ke arah belakang rumah untuk mengalihkan pandangan Transo yang terlihat brutal.
“Tuan, ayo cepat. Kita tidak ada waktu lagi” ucap Sen.
“Bagaimana bisa aku meninggalkan mu sendirian? Lisa!” Wijaya.
“Tuan!”
Sen memutar haluan kendaraan dan membukakan pintu mobil untuk membantu Wijaya segera masuk. Mereka segara melajukan kendaraan dengan kencang. Transo tampak tidak memperdulikan bayinya di bawa pergi oleh mereka. Dia hanya mengejar Lisa sambil membawa senjata tajam di tangan.
Brughh (Suara jatuh)
Transo melempar batang kayu tepat mengenai kepala Lisa. Darah keluar membuat dia tidak sadarkan diri. Transo mengangkatnya ke dalam rumah dengan penuh amarah.
__ADS_1
“Lisa, sampai kini kenapa kau tidak patuh terhadap ku?”
Dia mengguncangkan tubuh wanita yang sudah sekarat itu.
Transo memanggil dokter pribadi untuk mengobatinya. Kepala Lisa di perban, sang dokter juga memberikan beberapa obat-obatan dan resep yang harus di ambil.
“Apakah dia akan sembuh dok?” tanya Transo.
“Darah di kepalanya sudah berhenti mengalir. Tubuh istri anda sangat lemah. Ada pembengkakan pada bagian perutnya. Tuan harus sering melakukan check up di rumah sakit” jawab dokter.
“Kalau begitu setiap tiga hari sekali tolong datang untuk memeriksanya. Aku begitu sibuk dengan urusan dan pekerjaan.”
...----------------...
Akar menjulur di sela pintu dan ventilasi udara, sosok penghuni ghaib dari pohon raksasa itu seolah memberikan tanda kekuasaan dan suatu tanda jiwa yang telah di renggut. Akar itu masuk ke dalam selimut Lisa sampai menembus bagian perutnya. Transo sudah meninggalkannya ke ruang persemedian, hari kelam ini semakin menjadi nyata untuk Lisa. Sosok penunggu iblis itu benar-benar sudah merusak tubuh dan jiwanya. Setelah kejadian tadi malam, jin iblis itu telah menanam benih di dalam perut wanita itu sehingga dia sehingga merasakan sesuatu yang hidup di dalamnya hanya dalam hitungan satu malam saja.
__ADS_1
“Arghh!”
Mata merah melotot, dia mencekik lehernya sendiri sampai suara retakan urat leher dan kepala terdengar keras. Beberapa detik berlalu, Lisa tampak sadar lalu mengambil akar dari dalam mulut. Dia menarik akar yang panjang itu penuh rasa takut.
“Mas!” teriak Lisa.
“Ada apa? Aku kembali ke kantor. Kau tidak boleh lari lagi atau aku akan memasung mu di gudang!” ucap Transo kasar.
“Apa, kau tega berencana akan memasung mu mas? Aku istri mu!” teriak Lisa.
Transo membanting pintu dengan keras, hingga bingkai foto berjatuhan. Ilmu kekebalan dan kekuatan iblis seolah telah merubah tubuhnya tidak terkendali.
“Jaka! Jaka maafkan ibu nak! Hiks” tangis Lisa.
Di sela tangis, suara kuntilanak tertawa menggema di ruangan. Penampakan sosok tangan putus yang keluar dari jendela bergerak mendekat. Lisa mencari benda di sekitar, dia memukulnya tanpa henti hingga benar-benar berhenti bergerak. Dia berlari menuju kamar, mengunci pintu dan jendela begitu rapat.
__ADS_1
Tok, tok, tok (Suara ketukan pintu).
“Pergi!” teriak Lisa.