Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Layar hitam


__ADS_3

Dua kekuatan hitam saling beradu, kedua ilmu sama-sama tidak terkalahkan. Sosok kera hitam berwajah Wijaya mencekik Transo yang sudah kerasukan jin penunggu pohon raksasa. Udara dingin, hantaman angin kencang, petir menyambar pepohonan tidak di perdulikan lagi oleh mereka.


Di balik layar, para pria berbaju hitam tidak beranjak dari tempat mereka. Terutama si pria blangkon, setelah menumbalkan manusia di depan dua patung kera setan, pasukan sesat itu sekuat tenaga menolong Wijaya di udara. Kaitan rantai dari pak Admaja yang sudah rela memberikan jiwa dan setengah kekayaan untuk mereka terima.


“Pertahankan posisi kalian!” perintah si pria blangkon.


“Mati!” jerit Transo.


Kekuatan dua iblis menyalakan bekas sinar merah seakan membelah dunia. Para makhluk sekitar yang terkena seperti orang kesurupan seketika. Para warga mengetahui ada yang tidak beres dengan si dukun di dalam jurang para warga yang melihat cahaya aneh itu segera menutup pintu rumah rapat-rapat dan menunggu hingga menjelang pagi.


“Kita tidak bisa membiarkan dukun itu memporak-porandakan kampung ini” ucap salah satu warga.


...----------------...


“Mbak Lisa, sebaiknya mbak jangan kembali ke rumah itu lagi” ucap Tami.


Setelah berhasil membujuknya agar ikut dengannya, Tami membawa Lisa ke rumah pak RT. Rasa ketidaksukaan Rume melihat Lisa, dia melihat dari balik pintu menunjukkan ekspresi marah. Rume memperhatikan wanita itu, di dalam hati mengumpat hingga tangannya mengepal kuat.


“Rume, apa yang kau lakukan disini? Cepat bantu ibu berbelanja” kata bu Parsih.


“Ya bu.”


Bu Parsih membawakan Lisa segelas air hangat, dia juga memberikan baju ganti untuknya. Lisa, wanita yang sudah setengah gila hingga melupakan kata terimakasih. Manik mata membelakak kesana kemari, dia bak orang ketakutan memastikan tidak ada lagi yang mengganggunya.


“Tenang, disini kamu aman. Oh iya, dimana anak mu Jaka?” tanya Parsih.


Lisa menggelengkan kepala, dia tampak depresi sampai sulit mengeluarkan sepatah kata. Rumah tangga yang hancur, terpisah dari anak dan hidup bagai di neraka. Lisa hanya bisa meneguk air di ujung gelas, Parsih mengerutkan dahi memperhatikan luka di sekujur tubuhnya.


“Jangan kemana-mana, ibu akan mengobati luka mu” ucap Parsih.


Bu Parsih telaten menyeka tubuh Lisa, menatap penuh rasa iba. Dia menganggap wanita malang itu seperti anaknya sendiri. Sudah dua kali Parsih mengganti wadah air hangat namun darah pada bagian luka tidak henti mengalir. Setelah mengganti wadah ke lima, Parsih mengusap luka sambil mengucapkan surah-surah pendek. Hal itu membuat Lisa kesakitan sampai mengeluarkan suara mengerang.


“Tahan nak, ibu tau kau adalah wanita kuat” ucap Parsih.

__ADS_1


Pundak Parsih tiba-tiba terasa sangat berat, dia menghentikan membaca ayat saat merasakan ada benda asing menyentuh lehernya. Parsih mempercepat gerakan mengoleskan luka di kulit Lisa.


...----------------...


Di balik kabut putih, tubuh Transo berbaring lemah tidak berdaya. Seluruh kekuatannya habis, dia menoleh ke arah pohon raksasa perlahan kembali mengusap sisa darah ke tubuh pohon iblis.


“Transo, cepat temukan Lisa atau wanita yang tanggal weton sama dengannya” gema suara jin pohon raksasa.


“Baik tuan. Tolong bantu aku, terlebih lagi Wijaya harus kau lenyapkan” ucap Transo.


Para warga yang berencana memasuki jurang untuk mencari Transo dan menebang pohon raksasa tampak mengurungkan niat. Kabut pekat putih, gerimis halus dan suara-suara aneh dari jurang membuat mereka mengurungkan niat untuk turun kesana.


“Sebaiknya kita tunda niat hari ini. Kita tidak bisa mengambil resiko besar” ucap pak RT.


“Tapi pak, bagaimana dengan bu Lisa. Dia hampir di jadikan tumbal oleh Transo” ucap salah satu warga.


“Sebelum mengambil langkah selanjutnya, Kita bicarakan saja hal ini ke ustadz Ali” ajak pak RT.


...----------------...


Tubuh pria itu hanya berlapis kain kafan hitam, wajah lebih menghitam perlahan membuka mata merangkak menjauh dari Sen. Dia menyadari belum sepenuhnya bisa menguasai diri, Wijaya melemparkan lampu meja tubuh Sen.


“Cepat pergi” usir Wijaya.


Sen bergerak mundur menutup pintu, dia menghela nafas meninggalkan ruangan sang majikan. Bunyi ponsel Wijaya berdering di sakunya, Sen menerima panggilan dari ustadz Hendra.


“Assalamu’alaikum.”


“Walaikumsalam ustadz, ada yang bisa saya bantu?” jawab Sen.


“Apakah saya bisa bicara dengan Wijaya?”


“Maaf ustadz, tuan sedang tidak sehat. Beliau beristirahat di kamarnya. Apakah ada pesan yang ingin di sampaikan?”

__ADS_1


“Kalau begitu sampaikan saja salam saya kepada beliau, lusa saya akan datang berkunjung ke rumahnya. Assalamu’alaikum.”


“Ya ustadz, pesan ini akan saya sampaikan. Walaikumsalam” tutup Sen.


Di ruangan bayi Jaka


Kamar bayi itu masih seperti sedia kala, setelah insiden suster Dini. Hanya bi Teti yang berani masuk kedalamnya. Bi Teti memperhatikan wajah bayi Jaka sangat pucat, dia berlari mencari Wijaya. Di depan anak tangga di hentikan oleh Sen dengan tatapan tajam.


“Kenapa bi?” tanya Sen.


“Pak, saya harus memberitahu tuan bahwa Jaka sedang sakit. Wajahnya sangat pucat, bibi khawatir sekali.”


“Bibi kembali saja menjaganya, nanti saya akan memanggil dokter” ucap Sen.


“Ya pak, semoga tidak terjadi apapun dengan den Jaka.”


Dampak dari ilmu Transo yang melemah mengenai darah Jaka. Bayi setengah iblis itu mulai merasakan panas dan kejang-kejang. Dokter Pram kewalahan memeriksanya hingga dia panik meminta Sen agar membawanya ke rumah sakit. Tanpa menunggu Wijaya, Sen membawa Jaka ke rumah sakit bersama bi Tuti. Di tengah perjalanan, kendaraan berhenti secara mendadak melihat sosok wanita tua berjalan membungkuk melemparkan telur busuk ke kaca mobil.


“Hei hentikan!” teriak Sen dari dalam.


Ketika Sen keluar dari mobil, wanita tua tadi dalam sekejab menghilang tanpa jejak. Sen memeriksa ke sisi jalan lain. Bi Teti menjerit ketakutan melihat si wanita tua kini sudah duduk di sampingnya. Dia hampir berhasil merampas bayi Jaka jika Sen tidak memukul tubuhnya dengan balok kayu dari arah belakang. Mereka terkejut, sosok wanita tua berubah menjadi seekor ular hitam, Sen membuang ular itu lalu secepatnya menyalakan mesin mobil.


“Astagfirullah al’adzim” tanpa henti bi Tuti beristighfar.


Dia mengusap kepala Jaka, merasakan rasa panas seperti api yang menyala. Bi Teti meminta Sen untuk mempercepat laju kendaraan. Sen kembali menepikan kendaraan, kaca mobil yang sangat kotor menghalangi jarak pandang di tengah cuaca yang berkabut. Dia menyiram dengan dua botol air mineral, sosok aneh kembali mengganggu menarik kakinya sampai dia terseret ke bawah mobil.


“Pak Sen kau dimana?” tanya bi Tuti mendongakkan kepala dari jendela.


“Pak Sen” panggilnya lagi.


“Bi, tarik tangan ku!” jerit Sen kesakitan.


Bi Teti meletakkan Jaka lalu keluar membantu Sen, keluar dari bawah kolong mobil. Tanpa menghiraukan rasa sakit pada kakinya dan gangguan tadi, Sen kembali melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


__ADS_2