
Tersadar dan perlahan membuka mata, bi Teti menghentakkan tubuhnya lalu mengucapkan istighfar di dalam hati. Dia ingat sekali jika Wijaya tampak seperti sosok setan yang mengerikan, pandangannya beralih saat mendengar ramai suara Kera di lantai atas. Gangguan selanjutnya beralih pada ubin yang kotor, jejak kaki berlumpur dia telusuri sampai menaiki anak tangga. Dia berhenti tepat di depan pintu kamar Wijaya, kini bi Teti menekan dadanya sendiri berharap tidak melihat penampakan sosok sang majikan lagi.
Krekk (pintu terbuka)
Wijaya berdiri menatapnya dengan tatapan tajam, di tangan kirinya ada sebuah bungkusan hitam yang dia genggam. Bi Teti membungkuk ketakutan , dia masih berpikir bahwa sosok yang di depannya adalah makhluk yang mengganggunya hingga tadi dia pingsan.
“Bi Teti, kenapa masih berdiri disini? Cepat jaga Jaka, jangan lupa berikan vitamin yang sudah saya sediakan di meja” ucap Wijaya.
“Ya tuan. Tapi bibi mau mengatakan sesuatu, begini tuan” ucap bi Teti ketakutan.
“Ada apa bi? Katakan saja” ucap Wijaya.
“Dahi den Jaka tiba-tiba saja terkelupas mengeluarkan darah berwarna hitam. Bibi tidak tau apa penyebabnya, mohon tuan jangan marah sama bibi.”
“Tidak ada lupa pada dahi Jaka, mungkin bibi hanya berhalusinasi saja. Cepat bibi jaga Jaka” ucap Wijaya lalu buru-buru pergi.
“Aneh sekali, saya melihat dengan jelas bahkan sampai menyentuh darah itu” gumam bi Teti.
Dia masuk memindahkan jaga ke ruangan bayi lalu merapikan ruangan perlahan dan menyusun segala keperluan Jaka di salah satu meja dekat keranjang boxnya. Bi Teti mengamati tidak ada bekas apapun di dahi Jaka. Segala hal yang dia alami hari ini terasa sangat ganjil terutama gelagat Wijaya yang berbeda. Melihat mobil Wijaya sudah pergi keluar pintu gerbang, dia menggendong Jaka yang sedang tertidur pulas mencari Rian.
“Bi Teti, kenapa den Jaka di bawa keluar? Cepat masuk bi nanti sakitnya tidak sembuh-sembuh” ucap pak Rian.
Dia sibuk merapikan bunga-bunga dan menata pot di area bagian depan. Bi Teti membalas dengan gerakan tangan memintanya untuk mendekat. Dia tidak bisa berteriak membalas perkataan pria itu karena takut Jak terbangun.
“Pak Rian.”
__ADS_1
“Ada apa sih bi? Kenapa berbisik seperti itu?” ucap Rian.
“Sstzzhh, jangan berisik pak nanti Jaka jadi bangun.”
Bi Teti meminta Rian dan Anton berkumpul di ruang tamu, masing-masing dari mereka mengeluarkan segala unek-unek akan kejadian mistis yang baru-baru ini terjadi di rumah besar itu. Hal yang paling membuat mereka saling melemparkan pertanyaan adalah sebuah benda yang di temukan oleh Rian. Sampai pada akhirnya Rian dan Anton sepakat untuk menemui kembali dukun Aes agar mencari tau dari mana benda tersebut berasal. Bi Teti menekan kata tidak kesetujuan, dia enggan ikut andil lagi di dalam hal ilmu klenik mempercayai benda para dukun.
“Jangan kita lakukan hal itu lagi. Ibadah kita akan hilang jika mempercayai dukun. Bibi tidak mau ke depannya menjadi sebuah bencana untuk diri kita sendiri” ucap bi Teti.
“Bi, saya baru saja mendengar kabar dari kampung sebelah. Ternyata Jaka adalah anak dari Transo, si dukun penyembah pohon raksasa yang akan menumbalkan istrinya” ucap pak Anton.
“Apakah bapak benar-benar sudah memastikan berita ini?” tanya bi Teti.
“Apa? Aku jadi takut dengan den Jaka. Di samping itu, dari mana bapak mengetahuinya?” ucap pak Rian.
“Jadi den jaga bukan lah anak kandung tuan WIjaya?” tanya bi Teti.
“Ya bi, Jaka adalah anak mbak Lisa dan Transo.”
Rahasia itu terbuka lebar meski sudah di tutup rapat, Jaka menyandang status anak dukun yang penyembah ilmu sesat.
Transo masih bersembunyi di salah satu pohon dekat pohon raksasa. Dia belum mengetahui bahwa rumahnya sudah habis terbakar. Dia masih fokus untuk membunuh wijaya, dendam semakin dalam saat mengetahui Jaka berada di tangannya. Sosok Transo memainkan sihir santet di atas meja ritualnya, dia mengingat perkataan jin penunggu pohon raksasa.
“Transo, cepat hentikan semua ini. Kau harus bertobat dan kembali ke jalan yang benar” ucap ustadz Ali berdiri sambil berdzikir.
“Ustadz, kau jangan ikut campur urusan ku!” bentak Transo.
__ADS_1
“Hei Transo, apakah kau benar-benar sudah melupakan anak dan istri mu?” tanya Karjo.
Kakinya sudah maju beberapa langkah, tapi ustadz Ali menariknya agar tidak terlalu mendekat pada pohon. Disana hanya ada mereka bertiga yang sudah bersiap meminta Transo menyerahkan diri dengan mengakui segala kesalahannya. Ustadz Ali melihat sosok Transo seutuhnya bukan dirinya lagi, sosok Transo berubah semakin mengerikan. Dia menyeringai mengeluarkan suara aneh, Dodon dan Karjo berjalan mundur mendekati ustadz Ali.
“Hahahh, dasar manusia lemah!” ucap Transo dengan rasa sombong.
“Transo insyaf lah kau, bukan kah kau yang tampak lemah sebagai penyembah iblis yang menyesatkan mu?” ucap Ustadz Ali.
Serangan makhluk ghaib secara beruntun sampai mencekik Dodon. Sementara itu Karjo sudah kesurupan berlari ke sisi dasar jurang bagian barat. Ustadz Ali di serang sosok jin penunggu jin raksasa, hampir saja kepala ustadz itu terlepas di tarik paksa oleh tangan iblis jika lafazh ayat kursi terakhir tidak segera dia bacakan dengan lantang.
Badan halus melawan badan kasar, penjaga tubuh hanya seutuhnya milik sang pencipta. Ustadz Ali hanya bisa menyelamatkan Karjo. Lagi dan lagi korban berikutnya adalah Dodon yang kini menjadi mayat yang tergantung di salah satu dahan pohon. Karjo yang sudah kembali sadar, setelah di bacakan ayat kursi selama dua puluh kali oleh ustadz. Namun tetap saja, setan dan iblis selalu mencari cara bahkan mencari celah untuk membunuh manusia.
“Innalillahi wainnalilaihi rojiun” ucap ustadz Ali.
“Dodon! Maafkan aku yang tidak bisa menyelamatkan mu! ini semua salah ku yang mengajak engkau dan pak ustadz memasuki jurang” ucap Karjo menyesali keputusannya.
“Ahahah” gema suara jin penunggu pohon raksasa.
Transo menghilang meninggalkan mereka dengan suara tawa menggelegar pula. Ustadz Ali dan Karjo membawa mayat Dodon pulang ke kediaman rumahnya. Para warga dari atas jurang ikut membantu mereka, di dalam rumah duka tangisan Tami pecah menyaksikan jasad sang suami terbujur kaku setelah kembali dari jurang. Bimbim juga ikut menangis memeluk jasad sang ayah, mereka berdua memeluk tubuh Dodon.
“Bu, Ikhlaskan Almarhum pak Dodon. Kita harus segera mengebumikannya sebelum petang” ucap salah satu warga.
“Tidak! Suami ku belum mati!” ucap bu Tami histeris.
“Ayah!” teriak Bimbim.
__ADS_1