
Kaki Lisa bergetar dia sangat ketakutan, Wijaya memeluknya lalu mengambil bayi dari tangannya.
“Tenang, sudah tidak apa-apa” ucap Wijaya.
“Tante Lisa” ucap Denta dari balik tirai.
“Kamu kemana saja, ayo kita sarapan” ucap Lisa buru-buru mengusap air matanya.
Denta melengos melihat Wijaya. Dia menggenggam tangannya sampai Wijaya merasakan sakit yang tidak terhingga.
“Stthhh” ringis Wijaya.
Dia hanya diam memperhatikan gelagat anak kecil yang tampak tidak menyukainya. Wijaya menarik kursi untuk Lisa. Setelah Denta melepaskan tangannya. Tangannya melingkar ditubuh sang bayi.
“Biar saya saja yang memegangnya tuan” ucap suster.
Wijaya menuangkan air untuk Lisa, dia juga meletakkan beberapa sendok sayuran dan menambah ikan beserta lauk pauk lainnya di piring Lisa.
__ADS_1
“cukup mas, aku tidak makan sebanyak ini” ucap Wijaya.
“Engkau harus makan banyak dan bernutrisi agar cepat pulih” ucap Wijaya.
“Ayah, aku mau semua telur rebus itu.”
Denta menunjuk ke sebuah piring yang berisi beberapa butir telur.
“Semuanya? Ada sepuluh telur rebus. Apakah engkau mau makan semuanya?” kata Yuno penuh tanda tanya.
Denta mengambil telur dari piring yang di pegang oleh Yuno. Cepat sekali dia melahap semua telur tanpa tersisa.
“Cukup! kamu akhir-akhir ini bertingkah semakin aneh. Sudah berhenti ayo masuk ke dalam kamar” ucap Yuno melotot.
“Mas, jangan seperti itu. Mas kenapa jadi kasar dengan anak mas sendiri? Aku akan pergi membujuknya” ucap Lisa mengikuti Denta yang sudah masuk kedalam kamar.
Cuaca masih terang, ruangan kamar Denta sangat gelap gulia. Tirai berubah menjadi warna hitam, bahkan sinar yang berusaha menembus dari sela ventilasi udara itu tidak terlihat sedikitpun. Lisa perlahan menatap sekeliling. Meraba jendela, mencari letak kunci untuk membuka jendela.
__ADS_1
“Kamu harus menyerahkan anak itu!” suara Denta menggema.
“Argghhh!”
Dubragh.
Wijaya dan Yuno mendobrak pintu.
Mereka menemukan Lisa dan Denta jatuh pingsan. Yuno mengangkat Denta sedangkan Wijaya mengangkat Lisa. Dia berlari mengambil kotak peralatannya, memeriksa suhu tubuh keduanya lalu memberikan suntikan penambah tenaga. Tidak ada tanda-tanda penyakit dan tekanan darah rendah. Namun, wajah Lisa semakin pucat. Tangis sang bayi yang tidak mau berhenti. Wijaya meraih bayi mungil itu mengayunkan dan menimang dengan penuh rasa sayang. Yuno memperhatikan tumpahan kasih sayang Wijaya kepada keponakannya. Dia semakin sedih dan tidak tega melihatnya.
“Apa yang kini telah menjadi keputusan adik ku? Lisa sama sekali tidak merubah keputusannya untuk melepaskan Transo” gumam Yuno.
Dia meraih ponsel genggam hendak memberi kabar kepada kedua orang tuanya. Akan tetapi nomor keduanya tidak aktif. Yuno memberikan sebuah pesan sms berharap segera di baca oleh mereka.
Teruntuk ayah dan ibu
Yuno ingin meminta maaf baru sempat memberi kabar akan kepergian Miya dan kelahiran putra pertama Transo dan Lisa. Kami semua disini baik-baik saja, semoga ayah dan ibu sehat-sehat dan menunggu kami kembali ke kampung halaman.
__ADS_1
“Wijaya, bagaimana keadaan keadaan Lisa dan Denta?” tanya Yuno.
“Mereka hanya butuh istirahat mas, sebaiknya kita pindahkan mereka ke kamar masing-masing. Maaf mas, setelah kita berada di rumah Transo. Ada banyak kejadian ganjil, aku khawatir jika Denta terkena dari makhluk peliharaan Transo” ucap Wijaya.