Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Cerita berkepanjangan


__ADS_3

Wijaya yang tidak tenang Karena Lisa tidak kunjung keluar dari kamar mandi. Dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu sedangkan bayi Jaka yang di tangannya sudah sangat gelisah. Setelah mengetuk begitu lama, Wijaya meletakkan bayi Jaka ke atas kasur lalu berusaha mendobrak pintu. Lisa di temukan tidak sadar diri di dalam bak kamar mandi dengan air yang di penuh darah.


“Lisa! Sadarlah Lisa!” ucapnya.


Wijaya membungkus tubuh Lisa dengan handuk, dia melakukan pertolongan pernafasan lalu sekuat mungkin menekan bagian dadanya. Setelah beberapa menit berlalu dia memuntahkan air yang begitu banyak lalu sadar dan memeluknya. Dia sangat ketakutan dan merasa sakit, pelukannya begitu erat sampai WIjaya membalas pelukannya.


“Jangan takut, aku akan selalu berada di samping mu” ucapnya bernada pelan.


Sen hanya mengamati dari luar pintu, dia tidak bisa berkata-kata apapun. Mengingat segala perjuangan tuan Admaja untuk menyelamatkannya dan ketulusan Wijaya demi membantu Lisa dan anak angkatnya. Semua pikiran dan jalan cerita ini berputar di kepalanya.


“Tuan muda, saya akan menyiapkan makan malam” ucap Sen.


“Sebelumnya tolong ambilkan semua barang yang ada di dalam bagasi.”


“Baik tuan.”

__ADS_1


Sen meletakkan semua barang-barang yang di perintahkan oleh Wijaya itu di ruangan tengah. Setelah itu dia pergi ke dapur untuk memasak makanan dan membuat minuman. Tapi, kejadian aneh kembali terjadi ketika dia menghidupkan api di atas kompor. Wadah yang berisi air di atasnya itu berpindah ke sisi bagian nyala api kompor yang lainnya.


“Bukankah aku menghidupkan di bagian kiri?” gumam Sen.


Rambut-rambut setan yang menjulur menggulung kakinya, kuku tajam terasa sangat dingin mengusap leher Sen dengan suara tawa yang melengking mendekatinya. Sen yang masih memegang pisau bergerak memotong rambut yang menggulung kakinya lalu berlari meninggalkan dapur. Pernafasannya tidak stabil, dia berdiri di hadapan Wijaya lalu membungkukkan tubuhnya.


“Tuan, ada hantu” ucapnya.


“Kita harus tetap waspada. Berhati-hatilah” balas Wijaya.


“Baik tuan.”


“Apa ini mas?” tanya Lisa.


“Semuanya untuk anak ku Jaka” ucap Wijaya sambil tersenyum.

__ADS_1


“Terlalu banyak engkau menghamburkan uang demi semua benda-benda ini.”


Lisa mengeluarkan beberapa peralatan bayi, baju, pakaian, kaos kaki, handuk, selimut, topi dan sarung tangan. Di bungkusan kedua dia mengeluarkan puluhan susu kotak bayi dan beberapa botol dot berwarna-warna. Lisa enggan membuka bungkusan yang lain, dia hanya menatap wajah Wijaya dan memasang wajah yang masam.


“Mas, aku merasa bersalah seumur hidup karena menerima mu disini setelah semua perlakuan ku dan mas Transo.”


“Tidak usah risau dan berkata demikian. Aku sudah berjanji akan selalu menjaga mu” ucap Wijaya.


Sen membawa sebuah wadah panjang berisi beberapa makanan di atasnya. Dia meletakkan makanan-makanan dan minuman di atas meja.


“Tuan, makanannya sudah matang.”


“Terimakasih pak Sen, maaf selalu merepotkan mu” kata Lisa. Suaranya sangat parau dan terlihat mata yang bengkak menunjukkan wajahnya kesedihannya.


“Jangan perlu sungkan non.”

__ADS_1


Sen memindahkan bayi Jaka dari tangan Wijaya. Pasangan lama yang tampak tidak pernah menyatu itu kini di dekatkan kembali oleh takdir pada makan malam berdua tanpa berbicara sepatah katapun. Air mata Lisa sudah mewakili semuanya, dia sesekali menangis. Susah sekali baginya kini untuk menelan sebutir nasi dan meneguk air. Tapi dia berpikir ulang agar tetap hidup demi anaknya.


__ADS_2