
Bi Ida menghembuskan nafas terakhirnya, tangisan Parsih tidak percaya bahwa dia telah meninggal. Parsih mengguncangkan tubuhnya, seorang perawat yang ikut di dalamnya menarik tubuh Parsih memintanya untuk tetap tenang. Ambulan memasuki area Rumah Sakit, mengantarkan jenazah ke kamar mayat. Hal yang tidak terduga lainnya adalah adalah ketika Parsih melihat Rume melewati lorong rumah sakit.
“Rume?” gumam Parsih.
Dia mengikuti langkahnya menaiki anak tangga sampai menuju lantai bagian atas. Rume berdiri tepat di tepi, menelentangkan tangan sambil menghadap dirinya. Wajah pucat pasih, rambut kumal acak-acakan menatap kosong. Parsih berlari berusaha menangkapnya, akan tetapi Rume sudah terjun bebas membuat Parsih hingga ingin ikut melompat ke bawah.
Para suster berhasil menarik tubuhnya, Parsih menangis melihat ke bawah namun tidak di temukan Rume disana. Dia masih terlihat sangat syok, pikirannya kacau menyenderkan tubuh di salah satu kursi ruangan Rumah Sakit. Dering bunyi ponsel enggan dia perdulikan, Parsih berjalan sempoyongan menuju bagian administrasi untuk mengurus jenazah mbok Ida.
Rumah yang sangat sepi, dunia Parsih gelap tanpa kehadiran anak dan suaminya. Satu malam dia memikirkan keputusannya yang sudah bulat untuk meminta si dukun Aes menghidupkan kembali keluarganya. Dia sudah bersiap-siap menunggu pagi agar segera pergi kesana. Dia mengenakan pakaian hitam, mentup kepalanya dengan selendang hitam. Persiapan Parsih membawa beberapa uang tunai lebihh banyak untuk berjaga jika si dukun meminta uang lagi padanya.
“Maafkan aku Ben. Aku terpaksa melakukan hal ini karena aku ingin kau dan Rume kembali” batin Parsih.
...----------------...
Di ruang operasi, para dokter bedah dan suster histeris ketika melihat Lisa yang sudah sadar. Dia kesakitan menjerit merobek perutnya sendiri. Alat bedah berserakan di lantai, mendengar kegaduhan dari dalam membuat Sen mendobrak melihat suasana kacau. Dia berlari mencari Wijaya, manik mata membelalak berlari di sepanjang ruangan. Sen memutuskan menghidupkan alarm kebakaran, mendengar suara tersebut maka Wijaya mengehentikan ritual lalu berlari keluar dari ruangan rahasianya. Ketika Wijaya menaiki anak tangga, Sen melihatnya dan memanggil dirinya berkali-kali.
“Tuan! Gawat! Nyonya Lisa!” teriak Sen.
__ADS_1
“Apa yang terjadi dengannya? Kenapa ada alarm kebakaran? tidak tampak ada asap disini” ucap Wijaya berlari menuju ruang operasi Lisa.
“Maaf tuan, saya sengaja menyalakan sinyal itu agar tuan segera melihat keadaan nyonya.”
Ketika sampai di ruang operasi, dia melihat bayi Lisa menangis di atas perutnya yang robek. Para dokter dan suster berhamburan keluar ketakutan. Wijaya meminta Sen segera mengambil gunting dan jarum. Sementara dia meraih bayi Lisa lalu memotong ari-ari sang bayi. Bayi merah penuh darah merah bercampur hitam, Wijaya memberikan bayi itu kepada Sen.
“Cepat bersihkan bayi ini, hati-hati saat memandikannya” ucap Wijaya.
Gemetaran tangan Sen menerimanya, sosok bayi yang terlihat menyeramkan dengan sorot mata seakan ingin memangsanya. Perlahan Sen memandikan si bayi, dia menyadari tidak ada suara tangis yang keluar dari anak itu. Semakin dalam terlihat tatapan seperti melotot bersama bibir kecilnya yang menyeringai melihatnya.
“Argghh!” jerit Sen ketakutan.
“Aku harus bisa menjaga anak ini” gumam Sen.
Wijaya perlahan melakukan operasi ketiga Lisa sendirian. Luka jahitan lama di atas luka jahitan baru, benang-benang terpaksa di timpa oleh daging mengingat kondisi Lisa yang semakin kritis. Darahnya seakan habis terkuras menetes membasahi lantai.
“Lisa, kau harus kuat! Lisa! Jangan sampai total kembali pingsan, tolong tetap terjaga. Ingat bayi yang baru lahir itu dan Jaka” ucap Wijaya.
__ADS_1
Ingat dunia nyata hanya tempat manusia di uji dengan segala cobaan hidup. Manusia hanya bisa berencana dan memilih jalan yang mereka sukai. Gelap, sepi dan derita serta segala cobaan yang datang silih berganti . Sebab, akibat timbul pada diri sendiri menggoyah kepercayaan ketika iblis, jin kafir dan setan lebih dominan berkuasa di muka bumi ini.
Lisa menangis di sela rasa sakit hati dan sekujur tubuhnya, dia sudah tidak bisa merontah ataupun memberontak. Ketakutannya sekarang adalah menghadapi anak setan yang sudah dia lahirkan di dunia,. Terdengar suara tangisan bayi dari kamar mandi, Lisa berpura-pura menutup mata melihat Sen mendekati mereka sambil menggendong bayinya.
“Tuan, saya sudah selesai membersihkan bayi ini.”
“Sini aku gendong, aku akan adzan di telinganya. Panggil suster Ire dan pekerja lain, jangan lupa sampaikan pada suster kepala supaya membantu mu membereskan semua keributan ini” perintah Wijaya.
“Baik tuan. Setelah selesai saya akan kembali menemui anda” jawab Sen.
Wijaya melupakan hal besar yang sudah dia lakukan, sebuah kekeliruan dan penyesalan yang sudah tidka bisa dia tarik kembali. Bersekutu dengan setan dan iblis menjadikannya seonggok manusia murtad. Mengumandangkan adzan di telinga anak yang baru lahir, membuat seluruh tubuhnya kejang-kejang dan kepanasan. DIa meletakkan bayi Lisa ke tepi kasur lalu berlari sambil menjerit ke panasan ke dalam kamar mandi.
“Argghh! Panas!” teriak wijaya melepaskan semua pakaiannya.
Tubuhnya perlahan berubah menjadi merah padam dan kehitaman. Bau hangus gosong melekat di daerah dada. Dia membasuh wajahnya yang berubah menghitam, dari balik dinding muncul sosok kera hitam menyorot mata penuh amarah. Dia mencekik Wijaya, mengangkat tubuhnya lalu membantingnya ke lantai. Suara hewan berburu itu terdengar keras oleh Lisa, dia ingin berteriak memanggil Wijaya untuk menanyakan apa yang telah terjadi namun kondisinya terasa sangat lemah. Di dekatnya ada bayi yang sangat dia benci. Mendengar tangisan si bayi, Lisa perlahan meraih bantal lalu menutup seluruh permukaan wajah bayi itu. Percobaan membunuh bayinya sendiri, ketika suara pintu terbuka terlihat suster Ire berlari menarik bantal dan menggendongnya.
“Nyonya, bayi ini tidak berdosa. Kenapa anda begitu membencinya? Kasihanilah dia” ucap suster Ire.
__ADS_1
Lisa tidak menjawab perkataannya, dia memalingkan wajah memperlihatkan ketidaksukaan. Suster Ire sejenak menghelas nafas lalu membawa si bayi pergi bersamanya. Berjalan menyusuri lorong, suster Ire mendengar suara aneh dari belakang seperti mengikutinya. Sesekali dia menoleh memastikan sosok apa yang mengikutinya, sekujur bulu kuduknya merinding sehingga dia mempercepat langkahnya.
Sosok anak perempuan berbaju putih menarik ujung bajunya. Suster Ire ketakutan ketika anak tersebut menujuk si bayi. Dia memberikan sebuah boneka lalu menghilang meninggalkan tawa melengking memekik telinga. Suster Ire mencampakkan boneka itu lalu berlari sambil memeluk erat si bayi. Para pasien memperhatikan raut wajah suster saat melewati ruangan lain. Ketika dia berhenti di depan ruangan bayi, salah satu suster yang berjaga memperhatikan gerakan tangan suster Ire yang kosong seolah sedang meletakkan sesuatu ke dalam keranjang bayi.