Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Rume bangkit dari kubur


__ADS_3

“Maafkan aku Ben. Aku harus memilih Rume agar bisa menemani hari ku yang sepi. Jika engkau berada di posisi ku maka akan melakukan pilihan yang sama kan? Hiks” tangis Parsih mengusap papan nisan suaminya.


Mendambakan hal yang bukan menjadi garis hidup manusia itu lagi. Rume begitu memaksakan kehendak nafsu egois. Dia telah bersiap menunggu Rume, beberapa para pengikut dukun Aes tampak menggali kuburan Rume di tengah deras dan petir yang menyambar pepohonan. Bahan ritual sudah di persiapkan, lima orang pria menggali kuburan Rume sementara si dukun membacakan mantra di depan papan nisan.


Petir menyambar di sertai angin kencang membanjiri setengah liang kubur yang sudah terbuka. Mayat Rume di angkat ke atas permukaan, semua ikatan tali pocongnya di lepas. Tujuh ekor darah ayam cemani hitam dan darah kerbau di siram ke tubuh jasad Rume. Si dukun kembali mengucapkan mantra dengan lantang lalu menancapkan paku ke punggung si mayat.


"Argghh!! arghh! arghh!" suara jeritan si mayat.


...“Sosok panyeluk roh sing wis lunga. Ayo lungguh maneh ing pangkone kalanggengan ing jero awak Rume. Dhuh para pedunung ing alam liya, padha nuruti dhawuhku. Mlebet ing badan mayit.”...


“Hiya!” jerit si dukun mengeluarkan semua tenaga dalamnya.


Mayat Rume berdiri tegak mengeluarkan suara jeritan panjang memecah malam. Dia melotot kesakitan, kemudian jatuh pingsan di tangkap oleh si dukun. Para pengikutnya masih sibuk mengubur kembali tanah lalu merapikan kembali papan nisan ke posisi semula.


Setelah selesai mereka membawa Rume yang telah hidup kembali itu pulang ke rumah Parsih. Si dukun mengusap wajahnya lalu menghela nafas panjang Sebelum pergi meninggalkan Parsih, dia meletakkan sebuah bungkusan kecil yang di balut dengan kain kafan ke tangannya.


“Parsih, perlu kau ketahui jika kau tidak boleh menyesal dengan pilihan mu. Oh iya, Jangan lupa tanam benda penting ini di daerah dekat kamar anak mu” ucap si dukun memberi pesan.


“Baik pak, terimakasih banyak” jawab Parsih menunjukkan wajahnya yang bahagia.

__ADS_1


...----------------...


Memikirkan hal yang tidak wajar, mencoba menghindari semua beban derita malah terperosok membekas luka di sekujur tubuhnya. Apa yang kini dia dapatkan? Terkadang di dalam tubuhnya bersemayam makhluk siluman iblis kera Hitam. Terkadang Wijaya tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Terutama jika pandangannya melihat sosok lain yang menghadang atau salah satu sesajian kesukaan yang selalu terhidang di meja ritual. Di tempat manapun dan waktu yang tidak bisa di batasi.


Di rumah sakit yang ternama dan megah itu sudah semakin menjadi bahan gunjingan masyarakat luas akan keangkeran serta penampakan. Para pasien dan pekerja tenaga medis sering kesurupan bahkan orang-orang yang melintas di depannya suka melihat penampakan makhluk halus. Ada juga yang sampai kesurupan, sehingga semakin hari Rumah Sakit itu terlihat sepi.


Wajah murung Sen yang tidak bisa di tutupi saat selesai mengurus proses pemakaman bi Teti dan pak Rian, dia melajukan kendaraan menuju pusat perbelanjaan tradisional. Seperti biasa, bahan sesajian yang harus di beli Sen setiap hari demi memenuhi perintah Wijaya. Tepat pada hari ini genap sudah pria yang sangat dia hormati itu sudah meninggalkannya. Mengingat segala kebaikan pada almarhum Admaja pada dirinya, Sen memutuskan membawa bunga dan air mawar menuju perkampungan pohon raksasa.


Saat memasuki tempat itu, dia melihat suasana ramai orang-orang membawa obor menuruni jurang berteriak memanggil nama Transo. Sen mengurungkan niat kesana, sebelum dia kembali memasuki mobil terasa ada sosok lain yang sedang berdiri tepat di sampingnya.


“ Hihihihh” tawa suara kuntilanak lalu menghilang.


Aroma sesajian lengkap yang dia bawa seolah mengundang para makhluk halus. Menyadari banyak gangguan yang timbul maka dia pun mempercepat laju mobil sangat kencang. Panggilan telepon dari Wijaya dia abaikan karena mendengar bunyi aungan suara serigala yang dari tadi tidak berhenti terdengar dari kejauhan.


“Sen, kenapa engkau lama sekali?” tanya Wijaya.


“Maaf tuan, sebenarnya tadi saya ke perkampungan pohon raksasa untuk menaburkan bunga kepada Almarhum tuan Admaja” jawab Sen.


“Ayah!” gumam Wijaya.

__ADS_1


“Terimakasih engkau sampai saat ini masih mengingat ayah ku. Cepat letakkan semua benda itu di atas meja” ucap WIjaya menekan rasa amarahnya yang akan meluap pada Sen.


Dia sudah tidak sabar untuk melahap sesajian, air liur menetes pada bagian sudut bibirnya. Wijaya mendorong Sen lalu membanting pintu keras. Belum sempat Sen mengatakan informasi yang dia lihat, sikap tuannya yang semakin aneh menimbulkan berjuta tanda tanya padanya.


“Bagaimana ini? tuan tidak seperti dirinya sendiri. Pasti karena siluman kera hitam itu, aku harus menanyakannya pada si pria blangkon” gumam Sen.


Malam mengabarkan sosok mayat yang bernafas kembali setelah keluar dari kuburnya. Semalaman Parsih mengusap lembut rambut Rume. Anak itu hanya terdiam tanpa ekspresi membalas dengan tatapan kosong. Tanpa Parsih ketahui, di dalam ingatannya hanya ada dendam pada orang-orang yang menyakitinya. Wanita yang enggan membalas pelukan ibu yang sangat menyayanginya itu hanya membalikkan tubuh lalu merebahkan tubuhnya lalu memejamkan mata.


“Sayang, tidur yang nyenyak ya” ucap Parsih tersenyum.


Parsih perlahan menutup pintu kamar, mengingat pesan dari si dukun maka Parsih membawa benda itu keluar dan segera menanamnya. Dia melingak-linguk memastikan tidak ada orang yang melihat. Setelah itu Parsih kembali masuk ke kamarnya lalu tidur di samping Rume sambil memeluknya. Dia merasakan tubuh anaknya itu sangat dingin, Parsih mengambil beberapa selimut untuk menyelimutinya lalu memeriksa keadaan tubuhnya dengan thermometer. Suhu normal 36,5 derajat celcius, tapi Parsih tetap tidak tenang sehingga membawakan Rume segelas air hangat untuk dia minum.


Tepat melewati angka jarum jam pukul sebelas malam, Parsih sudah terlelap di dalam tidurnya. Berbeda dengan Rume yang sudah pindah menuruni anak tangga menuju ke halaman belakang rumah. Dia menuju ayunan kesukaannya semasa dia hidup. Rume juga masih mengingat lagu kesukaannya, dia menyanyikan lagu bintang kecil sambil membawa buku diary miliknya kemanapun dia pergi.


Meskipun telah hidup kembali, Rume tidak bisa mengisi buku diary seutuhnya dengan tulisannya yang rapi dan berbagai macam gambar yang indah. Suara ayunan yang bergesekan dan nyaring nada lagu dari Rume membangunkan Parsih dari tidurnya.


“Nak, ngapain kamu disini. Ayo masuk” ajak Parsih menarik tangannya.


Parsih menggiringnya kembali tidur, kali ini lampu kamar di nyalakan dan dia mengunci rapat semua pintu dan jendela agar memastikan Rume tidak keluar lagi. Akan tetapi setelah dia kembali masuk ke dalam kamar, semua lampu padam sehingga dia harus meraba mencari senter atau pematik di dalam laci.

__ADS_1


Saat dia berhasil mendapatkan pematik, suara aneh berbisik di telinganya. Api kecil yang semula menyala kini padam seperti di hembus oleh sosok yang mengganggunya tadi.


“Rume” panggil Parsih mendekati kasur.


__ADS_2