
Transo tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri, bayi Jaka hampir terbanting ke lantai jika Lisa tidak segera menangkapnya. Lisa menangis keluar rumah minta pertolongan akan tetapi perkampungan itu tampak hening.
“Tolong!” teriaknya menangis.
Seorang laki-laki mendekatinya, dia adalah pesuruh Wijaya untuk melihat segala gerak gerik Lisa ketika Wijaya tidak sedang berada di dekatnya.
“Mbak, ada apa?” tanya Dino.
“Pak, tolong suamiku” ucapnya terbata.
Dita yang tidak sengaja melintasi rumahnya ikut menghampiri Lisa Dia memperhatikan tubuh sahabatnya itu semakin kurus dengan lingkar cekung kehitaman di bawah mata.
“Mbak Lisa ada apa?” tanya Dita.
“Mbak Dita suamiku sedang pingsan di dalam.”
...----------------...
Wijaya sebelum meninggalkan Lisa dan keluar dari rumah tampak sudah merencanakan segalanya, dia juga sudah menitipkan beberapa lembar uang, segala kebutuhan Lisa dan transportasi jika Lisa sedang mengalami kesulitan. Pria yang sangat bertanggung jawab itu bahkan pergi melakukan aktivitas dan pekerjaaan dengan tekun dan giat. Dia selalu mengumpulkan pundi-pundi rupiah dan selalu bersabar untuk berharap Lisa bisa kembali ke pelukannya.
__ADS_1
“Walau engkau sudah tidak utuh lagi, aku kan tetap menanti” gumamnya.
Ponselnya berdering ketika dia masih berada di ruang operasi. Wijaya yang berprofesi sebagai dokter bedah itu masih sibuk melakukan kewajiban dan tugas baru bisa membuka layar ponsel saat tengah malam.
Di dalam panggilan telepon.
“Ada apa pak Dino?”
“Tuan, saya ingin memberikan laporan bahwa nyonya Lisa tadi pagi keluar dari rumah sambil menangis meminta tolong. Pak Transo jatuh pingsan dan kini sudah saya tangani dan memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya.”
“Bagaimana keadaan anak ku Jaka?” tanya Wijaya.
“Syukurlah, kalau begitu terus kabari aku jika ada hal yang mendesak dan mencurigakan.”
Dia lelaki yang bertanggung jawab, Wijaya dan segala kemewahan itu tidak dia perdulikan untuk kepentingan pribadi. Perannya seharusnya sangat sempurna untuk menjadi sosok suami Lisa. Namun, setelah ilmu hitam yang di tiup oleh Transo secara beruntun setiap malam jum”at membuat guna-guna itu sudah masuk ke dalam sumsum tulang Lisa.
“Lisa, Lisa!” panggil sosok wanita berpakaian putih melayang tanpa kaki muncul dari balik tembok.
“Mas, bangun mas!” ucap Lisa tersadar akan panggil tersebut langsung berusaha membangun kan Transo.
__ADS_1
“Lisa!”
“Mas, Arghhh!” teriak Lisa.
Tubuhnya terbanting ke lantai. Bayi Jaka sudah melayang di langit-langit rumah.Transo membuka mata, dia duduk menyilangkan kaki lalu berkomat-kamit menghembuskan mantra sehingga bayi itu terlepas di tangkap olehnya.
“Engkau penerus ku” gumam Transo meletakkan bayi Jaka di kasur.
Dia mengangkat tubuh Lisa lalu merebahkan di sambil bayi Jaka. Malam ini Transo mengganti pakaian serba hitam menuju pohon raksasa. Di pagi hari, Lisa mulai melakukan aktivitasnya kembali. Kini membuka mata dan terbangun jika tidak melihat Transo di sampingnya hal itu adalah hal yang biasa.
Lisa tidak sedikitpun melepaskan bayi Jaka sendirian. Dia menggendong bayinya sambil membersihkan rumah. Acap kali dia selalu mendapat gangguan ghaib, meskipun tadi malam kepalanya terbentur lantai. Dia sama sekali tidak mengeluh atau merasa sakit.
“Semua penderitaan dan rasa sakit ini tidak sebanding dengan luka yang di rasakan oleh batih ku. Aku tidak bisa memberontak dan tetap memaafkan mas Transo” gumamnya.
Tok, tok. (Suara ketukan pintu)
Dita melihat dari balik jendela sosok makhluk tinggi besar bermata merah menyorot pandangan ke arahnya. Dita menutup mulutnya lalu berlari untuk bersembunyi di salah satu pohon di depan rumah Lisa.
“Siapa yang mengetuk pintu? Kenapa tidak ada siapapun?” gumam Lisa.
__ADS_1