
*Kesesatan para penyembah berhala tidak di sadari oleh manusia kufur mementingkan hasrat duniawi agar terlihat sementara menjadi manusia paling bahagia dan berkecukupan. Darah setan dan iblis berantai menagih permintaan yang tidak pernah selesai.
Darah ganas mustahil terputus bahkan mengalir sampai jasad telah tertanam ke liang kubur. Mantra terlepas tanpa memikirkan masa depan suram, dunia ini sesak lebih banyak di selimuti kegelapan dan hati yang hitam*.
Perihal segala gangguan dari si bayi kedua milik Lisa.
Jika sudah memandikan bayi itu pasti ruangan tercium aroma anyir menyengat hingga orang-orang yang melintas di dekatnya merasakan mual yang tidak terkendali. Bayi kedua Lisa di tempatkan di sebuah ruangan khusus, suster Ire yang bertugas merawatnya kini semakin hari sakit-sakitan bahkan terkadang mengeluarkan batuk darah. Hari ini genap tepat hari ke Sembilan, dia mengalami mimpi buruk akan penampakan makhluk halus berwujud bayi mengerikan seolah ingin membunuhnya.
Sampai saat ini bayi itu masih belum di beri nama, Wijaya masih sibuk dengan urusan pekerjaan di sela mengurus Lisa dan Jaka. Dia menarik ulur hatinya sendiri untuk tidak ikut membenci bayi kedua yang banyak menimbulkan berbagai macam hal mistis itu.
Suster Ire selalu membersihkan tangannya sebanyak tiga kali setelah memandikan si bayi. Dia selalu memastikan ruangan tetap steril dan bersih. Setiap hari dia selalu mendapat teror ghaib terutama ketika bersama bayi itu saat melewati pukul 00:00 tepat. Cekung matanya, tubuh suster tersebut semakin kurus sayu setiap malam tidak bisa memejamkan mata.
Tok, tok, tok (Suara ketukan pintu).
“Sus! Ahihih” suara mengerikan menggema di dalam ruangan.
“Jangan ganggu aku! Argh tolong!” suster Ire mengacak-acak rambutnya sendiri.
Suara dobrakan pintu menepuk pundak sang suster melihat wajahnya yang tampak sangat ketakutan. Sementara di sisi lain, suster kepala mengangkat bayi Lisa yang menangis di dalam box. Dia mengernyitkan dahi, tanpa mengetahui hal yang sebenarnya terjadi si suster menumpahkan amarahnya kepada suster Ire dengan kata-kata kasar.
“Jadi begini cara mu memperlakukan bayi? Kau lihat lah bayi malang ini sangat bau dan kotor! Apa kau hanya ingin mendapatkan gaji buta saja?” ucap kepala suster.
Para perawat dan suster lain yang berada di ruangan itu hanya terdiam memperhatikan keduanya. Suster Ire masih seperti orang ketakutan, perlahan dia melihat bayi itu lalu berlari meninggalkan mereka.
__ADS_1
“Tunggu! Suster Ire!” panggil beberapa perawat mengejarnya.
...----------------...
“Kekuatan ku harus bisa mengalahkannya!” ucap dukun Aes mengerang.
Transo tidak ingin terkalahkan oleh sosok dukun yang sudah berhasil mengeluarkan salah satu korban yang sudah dia tumbalkan untuk raja jin iblis pohon raksasa. Dia menggunakan senjata pamungkas memanggil seluruh penghuni makhluk halus yang bersemayam diantara dahan pohon. Ritual pemanggilan paling utama adalah penunggu iblis pohon raksasa. Pada hari itu, si dukun gila menumbalkan dirinya sendiri untuk bisa menjadi raja ilmu hitam yang tidak terkalahkan.
“Tuan ku, terimalah persembahan diri ku ini!” gumamnya.
“Transo! Bersiaplah, aku akan masuk dan hidup di tubuh mu! ahahah!” gema suara si raja iblis.
Kini dia berhasil mendapatkan rumah yang layak, sebuah tempat yang bisa di jadikan alat untuk lebih leluasa menggoda dan menipu manusia. Pohon raksasa itu sekarang sebagai rumah kedua bagi si raja iblis, setelah menguasai jiwa dan raga Transo terlihat sorot mata dan kelakuan iblis pada dirinya.
Di depan meja ritual, dia mengambil sebutir telur lalu dia pijak sangat kuat dengan suara tawa yang keras. Telur itu ibarat jantung dukun Aes, secara tragis dia tubuh si dukun terpecah belah hingga tulang dan kulitnya terpisah tidak berbentuk lagi. Hanya kepalanya yang tersisa. Para pengikut si dukun setengah mati histeris ketakutan meninggalkan rumah pondok bambu.
“Ahahah! Aku lah raja iblis ilmu hitam!” teriak Transo.
Para pengikut dukun Aes di tarik paksa ke wilayah pohon raksasa. Mereka di ikat dengan kain kafan lalu di siram dengan darah kepala kambing. Salah seorang yang melawan dengan meniupkan mantra yang pernah di ajarkan oleh si dukun Aes itu di bunuh secara sadis oleh Transo. Tubuhnya di cincang seperti ayam potong lalu di makan secara lahap di depan delapan pria tersebut. Ada yang tidak tajan menyaksikan hal tersebut sampai berkali-kali memuntahkan isi perutnya.
“Ahahah! Ini lah akibat jika kalian berani melawan ku! Sekarang kalian harus mematuhi semua perkataan ku!” bentak Transo melotot.
“Baik tuan ku!”
__ADS_1
...----------------...
Di dalam kamar, air mata Ijah belum berhenti berderai. Dia mengabaikan ketiga anaknya yang seharian belum makan. Tidak ada yang berani bekerja di rumah yang megah itu, setelah mengetahui kejadian yang menimpa Dana tampak semua warga kampung menjauh dari mereka. Meskipun sudah menjauh dari si dukun Kasim tetap memiliki rantai ikatan setan setelah mendapatkan emas batangan dari iblis penunggu pohon raksasa.
Keesokan harinya Kasim mendapat kabar bahwa uang yang dia investasikan telah di bawa lari begitu saja. Terlebih lagi kini anak ketiga Kasim terserang penyakit aneh. Sekujur tubuh Dini terdapat bercak merah mengeluarkan nanah. Semula Kasim berpikir penyakit anaknya tidak ada kaitan dengan si dukun Transo, hingga suatu malam terdengar suara si dukun memanggil namanya dari balik jendela.
“Hei Kasim si manusia pendusta! Aku datang untuk menagih janji. Bukan kah engkau menginginkan harta dan kekayaan yang berlimpah?” gema suara Transo.
Dubragh! Prang ( Kaca jendela pecah)
“Pergi!” teriak Kasim.
Ijah mengguncangkan tubuh Kasim, dia membuka mata lalu menatap kaca jendela yang terlihat masih utuh seperti sedia kala. Kasim berjalan menuju kamar Dini, dia melihat keadaan anaknya yang semakin kritis. Uangnya telah habis, kini yang tersisa hanyalah rumah serta perhiasan Ijah saja.
“Bu, kita harus membawa Dini ke Rumah Sakit. Besok kita harus menggadaikan rumah ini dan menjual perhiasan” ucap Kasim.
“Apa! Jadi maksud bapak kalau kita akan kembali miskin? Ibu tidak mau di hina orang lagi dan hutang ke para warga yang suka menghina itu!” bentak Ijah tidak terima.
Ijah seperti orang gila memporak-porandakan isi rumah. Kasim menahan tubuh Ijah, dia hampir menampar Danu dan Dina. Tangisan mereka lalu berlari ketakutan bersembunyi di bawah kolong meja, Kasim meminta Ijah untuk tenang kemudian menggendong Danu dan Dina ke kamar mereka.
“Ijah, apakah kau sudah di butakan oleh harta? Dana baru saja pergi kini Dini yang akan menjadi korban berikutnya jika aku kembali ke dukun pemuja iblis pohon raksasa itu” ucap Kasim.
“Sekarang bapak cari uang yang banyak untuk rumah tangga ini atau aku akan pergi meninggalkan semuanya!” ancam Ijah lalu mengunci kamarnya.
__ADS_1