
_Catatan di selipan buku kerja Wijaya_
Sungguh hati ini masih tetap sama. Walau engkau adalah bunga yang telah layu. Di sudut mata ini, masih melihat keindahan dan debaran cinta yang selalu membara.
Bekas luka di hati setelah di tinggal dahulu. Tidak akan menutupi semua perasaan pada mu.
Foto lama goresan semasa gadis bahkan kini masih tetap sama. Lisa dan segala keindahannya. Tidak ada yang bisa menutupi rasa rindu itu. Wijaya seolah menumpahkan rasa cinta yang sudah lama terpisah. Hari ini hidupnya terasa sangat lengkap melihat mereka bertiga. Dia menempatkan Lisa di ruangan VIP, Wijaya juga menyediakan seorang suster khusus untuk merawatnya ketika dia sedang bekerja. Rumah sakit miliknya sudah berdiri hampir satu tahun. Setelah selesai melakukan operasi, Wijaya menggendong bayi laki-laki mungil dengan senyum bahagia.
Tiba-tiba lampu berkedip, angin kencang di sertai suara aneh seperti ada benda keras yang terbanting di dalam kamar mandi. Lisa masih tidak sadarkan diri, sambil menggendong bayinya perlahan Wijaya memegang gagang pintu.
“Arghh!” jeritan kuat dari dalam.
“Pergi! Jangan ganggu kami!” teriak Wijaya.
Ternyata suara Wijaya menyadarkan Lisa. Jarum infus masih melekat di tangan. Saat dia akan melepas paksa, Wijaya menahan tangan kirinya erat-erat.
__ADS_1
“Lisa, apa yang sedang kau lakukan?” tanya WIjaya.
“Lepaskan! Aku harus bertemu dengan mas Transo!” jerit Lisa.
“Ingat bayi yang tidak berdosa itu. Lihat lah, semalam engkau pingsan di jurang. Bayi ini aku ambil dari Transo, dia akan menumbalkan anak mu untuk pohon raksasa” ucap Wijaya menjelaskan lalu memindahkan bayi Jaka ke pangkuannya.
“Tidak mungkin!”
“Lisa, sekarang kau harus menyelamatkan anak mu dari suami mu!”
“Dok, apakah ini ada hubungannya dengan kematian suster yang pernah ke rumah mbak Lisa?” ucap suster Fan kemudian menutup mulutnya.
Tatapan ketakutan melihat Lisa. Tanpa menunggu jawaban dari Wijaya, suster Fan lari meninggalkan ruangan. Mereka berpikir setelah mengetahui insiden tersebut membuat suster Fan pergi Namun kenyataannya adalah suster Fan melihat sosok lain yang sedang berdiri di belakangnya. Di lorong rumah sakit yang panjang, suster Fan di kejar oleh makhluk berwujud kuntilanak. Kuku cakaran panjang melayang menancap di dadanya. Dia mengambil jantung milik suster Fan lalu menghilang.
“Argh!” histeris para suster dan orang-orang melihat kematiannya.
__ADS_1
Wijaya mendapat laporan akan kematian suster Fan, dia langsung mengepal kedua tangan berjalan melihat melihat mayatnya di kamar mayat.
“Dok, ada kepentingan apa sampai dokter kesini?” tanya penjaga kamar mayat.
“Aku hendak melihat jasad suster Fan” jawab wijaya berwajah gusar.
“Tidak ada mayat suster di catatan saya dok, kabarnya jenazah sudah di bawa ke ruangan lain secara rahasia untuk di otopsi.”
“Rahasia? Siapa yang berani mendahului semua peraturan rumah sakit tanpa seijin ku?”
“Tuan besar Admaja Wijaya.”
“Ayah!” gumam Wijaya berjalan berbalik arah.
Ada 10 ruang rahasia yang sengaja di bangun oleh ayahnya. Tiga diantara di pakai khusus untuk melakukan bedah mayat, sebagai tugas yang di emban dari aparat kepolisian dalam menangani kasus. Lima ruangan di gunakan sebagai peristirahatan keluarga dan dua ruangan yang tersisa di pakai oleh para tenaga medis yang khusus melayani pasien VIP.
__ADS_1