
Dunia itu tidak sama lagi, sekarang dunia Lisa di kelilingi dengan para makhluk halus yang bergentayangan. Transo enggan menjawab panggilan dan pertanyaannya, dari dalam terdengar suara guyuran air bersama aroma anyir dan berbagai macam kembang menyengat indera penciuman. Bayi Jaka yang gelisah membuat bergegas memanaskan air untuk membuat susu di botol dot Jaka.
Ayunan dan tempat tidur goyang milik sang bayi masih tampak baru. Keadaan yang mencekam membuat Lisa tetap memantapkan diri untuk tidak melepaskan Jaka sedikitpun. Ketika Transo sudah selesai membersihkan diri, dia duduk di kursi makan memperhatikan gerakan Lisa yang masih sibuk mencuci piring.
“Lisa, buatkan aku secangkir teh” ucapnya garang.
Dengan sabar dia menghidangkan suami yang tidak memperdulikan rumah tangga. Wajahnya semakin masam.
“Aku tau kau tidak pernah menyukai ku karena aku sekarang berstatus pengangguran” ucap Transo lalu meneguk air.
“Mas, sejujurnya aku hanya tidak ingin engkau menjadi bahan cemoh orang-orang.”
Lisa memperhatikan kerutan pada wajah Transo, dia sudah semakin tua namun seolah pikirannya semakin ke kanak-kanakan. Lisa menghela nafas melanjutkan kegiatan membersihkan rumah.
“Tanpa bekerja pun aku memiliki banyak uang” ucap Transo begitu percaya diri.
Dia berjalan menuju kamar lalu membawa sebuah kotak besar yang dia letakkan di atas meja. Mengeluarkan beberapa batang emas dan tumpukan uang tampak masih baru.
“Tidak, aku tidak membutuhkan semua itu!” Lisa menyeka air mata yang sudah tumpah ruah.
__ADS_1
Transo menarik baju Lisa sangat kuat, kelakuan setan yang sudah tidak memperdulikan sang istri sedang menggendong darah dagingnya sendiri.
“Diam kau! Kau hanya tinggal menikmati semua ini” bisiknya.
“Tidak!”
Lisa berlari keluar rumah, di malam yang dingin dia berlari keluar tanpa beralas kaki.
“Lisa berhenti!” teriak Transo.
Dari dalam mobil, Wijaya terbangun dari tidurnya akibat mendengar suara berisik dan teriakan. Dia secepatnya berlari mencari Lisa yang di kejar oleh Transo.
“Lisa!” teriak Transo.
“Kau lagi! Kenapa kau bisa kesini?” tanya Transo mengepal tangan bersiap memukul.
“Jaga bicara dan perlakuan mu karena pukulan mu semalam sudah aku jadikan tanda bukti kepada pengacara ku” ucap Wijaya.
“Jadi sekarang kau mengancam ku?
__ADS_1
Bagaimana jika sekarang aku membunuh mu di tempat yang sunyi ini. Tidak ada satupun yang melihatnya” ucap Transo mengangkat tangan kanan yang sedang memegang sebuah pisau.
Lisa mendengar pembicaraan Transo dan Wijaya, dia tidak ingin Wijaya menjadi korban kekejaman suaminya. Terpaksa dia keluar dari persembunyian untuk melerai pertikaian itu.
“Hentikan mas, ini adalah urusan rumah tangga kita. Jangan kau kotori tangan mu untuk membunuh orang lain” kata Lisa mencari jalan pulang meninggalkan mereka.
Transo mengikutinya, gelagat dan cara jalan yang angkuh itu masih di amati oleh Wijaya.
“Aku harap kau bisa melalui semua ini” gumam Wijaya.
...----------------...
Wijaya kembali ke dalam mobil, dari dalam ada penampakan sosok wanita bergaun putih yang sangat cantik sedang menggodanya.
“Mas Wijaya” panggilnya sangat halus.
Wijaya mengucapkan lantunan ayat suci Al qur’an dalam hati. Kira-kira sampai satu jam berlalu, sosok tersebut pun menghilang. Dia melajukan mobil menuju rumah, fajar sudah menyingsing tapi pikiran Wijaya masih kacau akan nasib Lisa. Kepalanya seolah berputar mencari jalan keluar untuk masalah wanitanya.
Di depan ada tuan Sen yang sudah menunggunya, dia menundukkan kepala lalu menyodorkan sebuah amplop besar.
__ADS_1
Wijaya meremas sebuah surat yang sudah dia baca, dia berjalan menuju kantor pak Admaja. Ketika dia memasuki ruangan, pak Admaja sangat terkejut melihat penampilan lusuh dari sosok dokter muda yang biasa paling pembersih itu.
“Apa yang sudah terjadi pada mu? Engkau sekarang seperti pria paling buruk di dunia setelah mengenal wanita itu” ucap tuan Admaja.