Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Gabungan serangan ilmu Hitam dan putih


__ADS_3

Transo menghembuskan sihir ilmu hitamnya kembali, dia terjun secara langsung mendekati Surau. Sebelum menuju kesana melewati sebuah persawahan yang membentang luas. Pandangannya tertuju pada seorang wanita yang sedang membawa bakul berisi kain. Wajahnya putih berseri, dia memakai jilbab merah berkibar indah di terpa angin.


“Siapa wanita itu? Aku baru melihatnya di kampung ini” gumam Transo.


Perempuan itu bernama Miftah, anak ustadz Ali yang baru saja tiba setelah menyelesaikan studi sekolah tingginya. Karena mendengar situasi kampung yang genting, ustadz Ali selalu berpesan agar jangan pergi terlalu jauh dan harus pulang sebelum petang. Namun kali ini, langkah kaki Miftah terhenti melihat seorang pria berdiri di depannya. Di balik senyuman yang menyeringai itu, Transo memainkan pelet mantra agar dia menatap dirinya bagai pria paling sempurna di dunia.


Tapi sebuah tamparan mendarat di pipinya ketika tangan Transo mulai menyentuh pundak Miftah. Semula Transo tidak pernah mendapatkan perlakuan itu, terlebih lagi pelet yang di tuju pada korbannya berjalan dengan mulus. Transo mengulangi mantra, dia menghembus sebanyak tiga kali ke wajah Miftah. Wanita itu geram menunjukkan ekspresi wajah tidak senang hingga memukul selakangannya lalu pergi berlari secepat-cepatnya.


“Hei tunggu! Kurang ajar!” ucap Transo mengejar.


Karena panik akan kejaran pria itu, Miftah lupa arah jalan pulang. Dia baru dua hari tiba di kampung itu, jarak menuju sungai cukup jauh membuatnya tersesat. Ketika menoleh ke belakang, dia melihat pria yang mengganggunya semakin dekat. Miftah menuju jalur lain sampai menjatuhkan keranjang bakul miliknya.


“Kemana aku harus bersembunyi?” batinnya sambil ketakutan.


“Hei nona manis! Datang lah pada ku! Ahahah!” teriak Transo.


Salah satu warga yang mengintip dari rumah melihat Transo sedang mengejar seorang wanita. Dia langsung menuju pos siskamling untuk mencari bantuan. Sontak saja Karjo menyarankan agar memberitahu ustadz Ali supaya menghentikan niat jahat Transo dalam melancarkan ilmu hitamnya.


“Assalamualaikum, ustadz kami melihat Transo sedang mengejar seorang wanita berkerudung ke arah jurang” ucap Eno.

__ADS_1


“Ustadz, hal ini tidak bisa di biarkan. Pasti aka nada korban selanjutnya, nyawa warga kampung terancam dan penuh dengan gangguannya. Tolong kami ustadz” kata warga lainnya.


“Tenang semuanya, ayo sekarang kita menuju ke jurang” kata ustadz Ali.


Di sepanjang jalan sang ustadz terus berdo’a jika wanita berkerudung yang Eno maksud tadi adalah Miftah. Sesampai di tepi jurang, terlihat sebuah keranjang bakul berisi pakaian terjatuh di tanah. Ustadz Ali sangat terkejut, tanpa mengatakan aba-aba pada para warga langsung turun ke dasar jurang sambil berdzikir di dalam hati.


“Ustadz, tunggu kami!” teriak Karjo kesusahan turun karena sandal sebelah kirinya tersangkut akar pohon.


“Miftah!” panggil ustadz Ali.


Dia mempercepat langkah menuju pohon raksasa, di sana sudah ada Miftah yang terikat di pohon dengan jilbab yang sudah sudah terlepas dan wajah berlinangan air mata. Ingin sekali dia berteriak minta tolong pada ayahnya. Namun, saat ustadz Ali berjalan menghampiri di hadang oleh para pengikut Transo.


Mata mereka menyala, tubuh tiba-tiba berwarna hitam legam mengeluarkan gigi taring panjang. Para warga yang ikut terjun menyaksikan hal mengerikan itu dengan teriakan histeris. Ada tujuh pengikut Transo dan sosok Transo yang berdiri di samping Miftah sambil mengusap rambutnya. Ustadz Ali menghadap kiblat melafazkan surah Yassin.


Suara kesakitan para pengikut Transo menutup telinga, Transo yang tidak mau di kalahkan itu membaca mantra lalu menancaokan keris miliknya ke tanah lalu melemparkannya ke sang ustadz. Secara tidak terduga, benda itu terbang berbalik arah menusuk lengan kananya.


“Arghh!” rintih suara Transo kesakitan.


Sambungan surah ayat kursi hingga sajadah yang melingkar di leher ustadz Ali dia lemparkan ke salah satu pengikut Transo. Sosok manusia yang sudah di rasuki iblis dan setan itu hangus terbakar mengeluarkan belatung dari mulutna. Pukulan selanjutnya di layangkan ke para pengikut lainnya. Sudah tujuh pengikut berhasil di lumpuhkan oleh ustadz Ali. Kini tenaganya sudah terkuras habis, yang tersisa tinggal Transo sedang menyayat pergelangan tangan Miftah lalu melumuri darah itu ke kerisnya.

__ADS_1


“Ahahahh!” tawa riang Transo penuh bahagia melihat wanita itu kesakitan.


Wijaya melihat adegan mengerikan itu dari sisi pohon lainnya, hanya beberapa para warga yang menyadari kehadirannya. Sen yang ikut menemaninya berjaga jarak sedikit lebih jauh dari keramaian. Wijaya mengucapkan mantra meminta bantuan memanggil sosok iblis siluman keras hitam untuk menghabisi Transo.


Penyerangan ilmu hitam Wijaya dan ilmu putih ustadz Ali menerbangkan kembali sajadah dan tasbih miliknya. Dua kekuatan gelap dan terang memerangi si raja iblis ilmu hitam penguasa pohon raksasa. Angin kencang menggulung, suara halilintar tanpa tetesan hujan dan deru kekuatan membanting keduanya. Wijaya semaksimal mungkin kembali mengucapkan mantra.


Mata sosok dokter setengah iblis itu hingga berputar keatas. Dia menahan hantaman sihir Transo dan terus membantu ustadz Ali agar tetap berdiri kokoh melawan si raja ilmu hitam yang sangat dia benci itu. Tetesan darah keluar dari hidungnya, Sen memperhatikan tanda-tanda keanehan pada Wijaya. Dia berlari menghampirinya akan tetapi Wijaya bergerak memberi kode agar dia menjauh supaya tidak terkena ilmu hitam yang sedang dia keluarkan.


Meski sedang melawan si raja iblis, di sisi lain Wijaya merasa kepanasan bagai di siram oleh bara api karena mendengarkan lafazh lantunan ayat suci Al’quran dari ustadz Ali. Wijaya menahannya berusaha tetap menyerang Transo, dia terus membaca mantra pelebur jiwa karena hanya dengan cara itu bisa memusnahkan Transo.


“Aku tetap mengakui bahwa tidak ada ilmu yang lebih tinggi di atas ilmu putih. Meski harus jiwa ku yang melebur menjadi debu bersama si iblis siluman kera maka aku tidak pernah menyesalinya. Semoga dendam ku terbalaskan” gumam Wijaya.


Karena sudah tidak tahan menahan sakit, Transo mengganti tubuhnya menjadi pengikutnya yang ke delapan yang sengaja dia kurung di salah satu pohon sebagai alat cadangan jiwa. Dia secepat kilat menghilang. Tubuh pengikut ke delapan itu meledak melepaskan sekujur anggota tubuh memercikkan darah mengenai orang di sekitarnya.


“Arghh!” teriak para warga naik ke permukaan.


Wijaya jatuh pingsan, sekujur tubuh hangus di sela nafasnya yang hampir terputus. Sen berlari membawanya menuju mobil. Dia melajukan kendaraan membawanya ke Rumah Sakit.


“Tuan tolong tetap bertahan! Tuan apa engkau masih mendengar saya?” ucap Sen panik.

__ADS_1


Air mata darah Wijaya mengalir deras, dia mengeluarkan suara mirip Kera sesekali wajah berganti sosok kera hitam yang menatapnya. Sen enggan memperdulikan penglihatan itu, dia membuka jendela mobil lebar berharap aroma amis dan hangus bakaran di kulit Wijaya kering terkena angin.


__ADS_2