Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Kehilangan


__ADS_3

“Apa warna dinding rumahnya bu? Karena setelah sampai di kampung ini, tidak ada satu orang warga pun yang lewat atau keluar rumah.”


“Cat tembok warna putih, ada dua pohon rambutan yang berada di depannya. Tapi perlu bapak ingat jika di sepanjang perjalanan mendapatkan banyak gangguan maka bapak jangan sampai berbalik arah atau mengambil jalan lain. Bapak bisa tersesat dan menghilang” ucap Parsih.


“Baik bu terimakasih atas sarannya. Saya pamit.”


Keesokan harinya Parsih yang sudah tidak sabar menemui dukun Aes langsung buru-buru pergi bersama mbok Ida hingga dia lupa mengunci pintu rumah. Wanita itu masih tidak terima atas kepergian sang suami begitu pula sang anak yang tetap meraung menangis tidak mau di pisahkan oleh ayahnya. Wajah mayat semakin pucat, ada lebam biru pada bagian lehernya. Parsih ingat sekali bayangan ekspresi para pelayat yang melihat suaminya saling berbisik lebih pelan seakan sungkan menanyakan hal tersebut di sela pikiran mereka mengenai penunggu pohon raksasa.


...----------------...


Karena sudah banyak memakan korban, tidak ada warga yang berani mendekati pohon keramat iblis tersebut. Jadwal penebangan pohon raksasa yang seharusnya di lakukan hari ini, telah di tiadakan. Banyak kabar angin yang mengabarkan bahwa siapun yang berani menebang atau merusak pohon raksasa itu maka nyawa melayang. Ada juga yang mengatakan bahwa pohon tidak akan pernah bisa di tebang.


Di balik pohon dekat pohon raksasa, Transo mulai melakukan penyerangan menggunakan kekuatan setan yang dia terima dari darah Rume. Sesajiannya selalu tersedia, diam-diam dia mengutus seorang warga bayaran untuk membelikan sesajian dengan bayaran batang emas.


“Kurang ajar kau Wijaya. Sekarang kau sudah bisa melawan ku dengan. Ternyata kau sudah bersekutu dengan iblis kera hitam. Kau pikir bisa mengalahkan ku? Terima lah serangan ku ini!” ucap Transo.


Sudah berhari-hari dia tinggal di dasar jurang, salah satu pohon yang sudah dia anggap menjadi rumah kedua baginya. Semakin dia menyerang Wijaya, tubuh pria itu terasa seperti tercekik kembali oleh si iblis kera hitam. Saling melemparkan serangan, sosok penunggu iblis melindungi Wijaya membuat dia kebal terhadap serangan mendadak yang di lancarkan oleh Transo.


...----------------...

__ADS_1


“Bagaimana keadaan Lisa dok?” tanya Wijaya.


“Dok, ibu Lisa sudah merobek perutnya kembali. Kami sudah melakukan operasi darurat, kemungkinan akan terjadi komplikasi karena untuk saat ini sangat sulit bagi bu Lisa untuk melewati masa kritisnya” ucap dokter Pram menjelaskan.


“Ya saya mengerti, terimakasih atas kerjasamanya dok. Saya akan bersiap memeriksa Lisa sekarang” ucap Wijaya.


“Dokter Wijaya, menimbang kondisi kejiwaan bu Lisa. Sebaiknya tangan bu Lisa di ikat agar tidak melakukan hal ketiga kalinya yang dapat membahayakan dirinya dan bayinya lagi” ucap Pram.


Wijaya menghela nafas, dia mengganggukkan kepala sambil menepuk pundak Pram. Sosok pria maskulin yang biasanya selalu tampil elegan dan berwibawa, kini terlihat kacau dan berantakan. Pram memperhatikan cara jalan Wijaya berbeda begitu pula aroma parfum yang terasa anyir bercampur bunga kantil.


“Apa yang sudah terjadi pada dokter Wijaya?” gumam Pram.


Di dalam ruangan kerja, Wijaya melihat Sen sedang duduk di salah satu kursi sambil memijat kepalanya. Ada seorang suster yang baru saja merapikan peralatan tanpa menyadari kedatangannya. Saat menoleh mendengar langkah suara sepatu Wijaya sudah di dekatnya Wijaya bersama suster Ire langsung berdiri memberi salam.


“Saya pamit pergi dok” ucap suster Ire.


Wijaya meminta Sen untuk mengikat Lisa, kedua tangannya terikat pada bagian sisi atas tempat tidur. Wanita itu sayup-sayup membuka mata, dia ingin memberontak kembali berteriak histeris. Wijaya mengusap rambut wanita itu, dia menahan gerakan tubuhnya di bantu oleh suster Ire yang masuk lagi ke ruangan Lisa untuk membawakan infus.


Wijaya sangat mengkhawatirkan operasi kedua Lisa, perlahan suntikan obat bius sudah mulai masuk ke pembuluh darah. Melihat kembali tidak sadarkan diri, Wijaya perlahan meneteskan air mata. Igin sekali dia memeluk wanita itu begitu lama atau mengucapkan rasa cinta berlebihan yang anya dia miliki untuknya seorang. Melihat penderiataan wanita itu yang bertubi-tubi tanpa terasa tetesan air mata darah terjatuh membuat Wijaya secepatnya mengusap lalu berlari menuju toilet.

__ADS_1


Dia menahan air matanya yang terus mengalir mengeluarkan darah. Dia membilas wajah dengan air, di depan kaca wajahnya begitu pucat di pelupuk mata masih membekas sisa darah air mata. Manusia yang sudah bersekutu dengan setan, setelah kepulangan dari gubuk kera iblis hitam secara ghaib, dunia Wijaya semakin berubah.


“Kenapa darahnya masih keluar? Aku masih tidak percaya kini air mata ku berubah menjadi darah” gumam Wijaya.


Sen bersama suster Ire berdiri di dekat Lisa, semula mereka tidak memperhatikan gerakan pada perut Lisa, sampai suara aneh terdengar membuat dia melihat gerakan tonjolan aneh dari dalam perut yang semakin membesar setiap hari. Menyaksikan keanehan itu, seakan sepasang matanya hampir terlepas. Sekujur bulu kuduk merinding, mereka sangat terkejut melihat gerakan janin dari dalam seolah akan merobeknya.


“Tuan! Nyonya Lisa sepertinya akan melahirkan” teriak Sen mengetuk pintu kamar mandi.


...----------------...


Banyak orang-orang terdekatnya sudah menjadi korban. Meskipun sudah mencoba tapi tetap saja wanita itu terperangkap di dalam jerat si dukun iblis. Manusia bisa mencoba dan berusaha, hanya saja pilihan jalur perjalanan hitam menjadi sebuah hal kesesatan merusak iman dan kepercayaan kepada sang Khalik.


Jin kafir, setan dan iblis mencari cara agar menguasai manusia. Sekali saja darah menetes di persembahkan kepada sosok makhluk tersebut maka selamanya mengincar. Banyak rahasia besar di dalam lapisan alam dunia dan alam ghaib. Sebagian yang bisa menembus dua dimensi melalui bantuan mata setan setelah bersekutu hanya akan terombang-ambing jiwa dan menuntut banyak korban untuk di persembahkan.


“Anak dan Suami ku harus hidup kembali, walau bagaimana pun caranya! Aku tidak mau secepat ini terpisah darinya! Hiks! Ucap Parsih menangis pilu.


Dia kini bersama mbok Ida sedang duduk di depan meja ritual dukun Aes. Gemetar ketakutan tangan mbok Ida memberikan sebuah amplop coklat ke si dukun. Wajah dukun Aes sangat pucat, hingga cekungan kelopak mata hitam legam bersama sorot mata yang sangat tajam. Dia menerima amplop itu lalu membuka isinya.


“Hei wanita muda, kau pikir dengan uang segini cukup untuk membeli sesajian yang kau ingin kan? Pergi dan bawa kembali uang mu” ucap dukun Aes melihat Parsih penuh amarah.

__ADS_1


“Jadi berapa jumlah nominal yang bapak maksud?” tanya Parsih.


“Kau pasti berpikir bahwa aku adalah dukun mata duitan!”


__ADS_2