
Wilayah dusun jeruk Utara menjadi saksi bisu kematian suster yang secara misterius. Kini berita itu masuk ke dalam surat kabar yang berada di atas meja kantor Wijaya. Pada isi koran, di dekat bangunan tersebut, terlihat penampakan sosok anak kecil yang tidak jelas wajahnya. Suster Anya salah satu perawat yang bekerja di Rumah Sakitnya kini menjadi perbincangan hangat.
“Tuan, apakah saya harus menarik semua isi surat kabar mengenai Almarhumah suster Anya dari peredaran?” tanya Sen.
“Tidak usah, semua orang sudah mengetahuinya. Jika aku melakukan itu maka sama saja aku menutupi kejahatan Transo" ucap Wijaya.
Raut wajah dokter itu tampak lebih kusut dan kering, tubuhnya kurus seperti hanya tulang yang di bungkus kulit. Kopi hangat dan cemilan yang di suguhkan oleh Sen tidak tersentuh sedikitpun. Kini, dia hanya menyukai sesajian yang di sediakan untuk siluman kera hitam.
“Sen, bawa semua ini ke dapur. Aku sedang tidak selera apapun” ucap Wijaya.
“Baik tuan, mengenai bayi kedua nyonya Lisa. Apakah tuan tidak ingin memberikan nama untuknya?” tanya Sen sedikit takut jika Wijaya akan marah padanya.
“Bayi itu, melihatnya saja sekujur bulu kuduk ku sudah merinding. Sejujurnya hanya Jaka saja yang ada di hati ku. Tapi melihat kondisi Lisa maka aku akan menerima usulan nama dari mu. Apa nama yang cocok untuknya?”
“Saya tidak berani tuan.”
“Panggil saja dia Geni, sesuai dengan jati dirinya” ucap Wijaya.
...----------------...
Di dalam ruangan bayi, suster Ara dan Sese saling berbisik lalu menggantungkan sebuah benda di sudur ruangan. Benda mistis yang mereka terima dari salah seorang dukun karena selalu mendapatkan gangguan makhluk halus. Setelah mengetahui kabar kematian suser Ire, mereka semakin mawas diri dan tidak pernah lupa selalu memasang posisi berjaga.
“Sus, apakah engkau yakin kalau benda ini ampuh?” tanya suster Sese.
“Ya semoga saja” jawab suster Ara singkat.
“Sus, saya akan ke kamar lantai atas untuk ganti pakaian dinas. Jangan lupa bayi Jaka lima belas menit lagi di beri susu formula” ucap suster Sese.
__ADS_1
“Ya jangan lama-lama ya sus.”
Suara langkah sepatu yang baru saja keluar keluar dari ruangan berganti langkah lebih cepat masuk membuka pintu. Ara sangat terkejut sampai dia menjerit sekuat-kuatnya.
“Sus! Ini saya suster kepala!” bentaknya begitu heran melihat ekspresi di suster.
“Cepat panggil suster Sese ke ruangan saya. Kamu yang jaga bayi itu selagi dia masih bersama saya” ucap kepala suster kembali.
Suster Ara mengangguk lalu berjalan menuju ruangan bayi kedua Lisa. Dia bergetar berjalan penuh keraguan. Ketakutannya membayangkan wajah bayi itu, perlahan dia meraih gagang pintu mengintip melihat penampakan suster Ire sedang berdiri menghadap ke arah keranjang box bayi.
Suster Ara datang membuka pintu lebih lebar, dia masuk ke dalam lalu melihat kepala si suster Ire di penuhi dengan puluhan ular yang menggeliat di atasnya. Begitu pula isi box keranjang bayi terdapat seekor ular kecil berwarna hitam dengan mahkota di atasnya.
“Ahahah” tawa makhluk tidak kasat mata.
Langit-langit kamar berubah hitam meneteskan hujan darah, suster Ire membalikkan tubuh lalu melepaskan sendiri kedua bola matanya sambil menjerit. Teriakan histeris kembali terdengar kuat menggema sampai ke lorong rumah sakit yang sepi. Ara berlari meninggalkan tempat itu, sekujur tubuhnya bermandikan darah hingga pandangan kabur akibat terkena darah hitam.
Orang-orang yang melintas seolah tidak melihatnya, meskipun dia sudah menjerit sampai pita suaranya akan terlepas dari tenggorokan. Tenaganya sudah habis, suara parau begitu lemas terduduk sambil menangis. Dia merogoh saku mencari ponselnya, teringat saat berlari ponselnya pasti tanpa terasa terjatuh di sepanjang jalan. Ara pun menunduk mencari ponsel dengan pandangan berjaga, nafas tersengal-sengal ketakutan di sela menahan bau anyir yang menyengat di tubuhnya.
“Suster Ara tolong!” panggil sosok anak kecil membawa boneka.
“Arggh pergi!” Ara berlari menuju lantai atas.
Penampakan sosok hantu kecil itu tidak melepaskan Ara dan terus mengikutinya.
Sekarang suster itu berdiri tepat di pinggir lantai paling atas. Dia sudah bersiap melompat jika sosok itu terus mengganggunya.
“Ara, jangan kau lakukan itu!” gema suara Anya.
__ADS_1
“Anya! Tolong aku!” teriak Ara ketakutan.
Sosok hantu si anak kecil itu kini tepat di sampingnya, dia menyodorkan boneka miliknya. Tangisan darah keluar dari sudut mata, dia mencengkram kaki Ara kuat memaksa agar dia segera menerima boneka setan.
“Argggh!” jerit Ara.
“Cepat buat boneka itu dan lari!” teriak Anya.
...----------------...
Mantra menghunus aliran darah yang di tuju. Di dalam sangkar setan para sesembahan korban tumbal sedang menderita. Iblis dan setan mengumpulkan pengikutnya untuk membangun istana yang terbuat dari api serta batu agar bisa mencapai langit. Mereka mencambuk paksa arwah korban yang telah di tumbal kan tanpa henti meskipun sudah mengerang kesakitan.
Salah satunya Dana, arwahnya di tahan di salah satu dahan pohon iblis, anak yang tidak berdosa itu harus menanggung beban kurungan setan selamanya atas perbuatan kedua orang tuanya. Namun, tampak Ijah sama sekali tidak menyesali bahkan dia tidak ingin kembali hidup susah. Pada hari itu, Ijah mengusir Kasim dari rumah. Danu dan Dina menangis menyaksikan keributan mereka.
“Cepat angkat kaki dari rumah ini dan jangan kembali sebelum engkau mendapatkan uang! Biar Dini nanti aku saja yang merawatnya sendiri. Jika kau mengatakan bahwa rumah ini akan di jual atau di gadaikan jadi kita mau tinggal dimana? Di kolong jembatan?” teriak Ijah sambil bertolak pinggang.
“Ibu, tega sekali kau pada bapak” ucap Kasim menitihkan air mata.
“Dasar lelaki cengeng! Sudah tugas mu menghidupi anak dan istri! Pergi!” usir Ijah.
Di dalam dasar jurang, Kasim sudah di sambut oleh delapan orang pria pengikut baru si dukun Transo yang kini sudah bersemayam iblis penunggu pohon raksasa. Perawakan pria itu terlihat lebih besar, pupil mata mengecil putih sekitar berwarna merah. Dia memamerkan empat gigi taring dengan senyum menyeringai melihatnya.
“Kasim! Walau kau belum mengatakan apapun, aku sudah tau apa tujuan mu kesini. Apakah harta yang aku berikan itu tidak cukup?” tanya Transo dengan senyuman tajam.
Kasim menyatukan kedua tangan di depan dada, dia lalu memelas meminta berharap Transo mengabulkan permohonannya. Para pengikut Transo menariknya di depan pohon raksasa, salah satu dari mereka mengeluarkan keris lalu menyayat telapak tangan Kasim. Tetesan darah manusia yang segar di nikmati oleh para penghuni pohon.
Sembilan tetesan darah yang sudah membasahi akar pohon, Transo di tarik untuk duduk dan memakan hidangan yang mereka sajikan. Beberapa daging ayam rebus di atas daun pisang, lahap sekali Kasim mengunyah dan menikmatinya.
__ADS_1
“Bagus, ayo habiskan” ucap Transo.