
Kejahatan yang tidak bisa termaafkan
Setelah melakukan operasi jahitan, seharusnya Lisa masih berada di ruangan steril. Akan tetapi Wijaya meminta agar memindahkannya di ruangan VIP dan menyewa seorang dokter dan seorang perawat khusus untuknya dan tetap memberi ijin jika keluarga dekat ingin menjenguk. Kini Wijaya berdiri di sisi kanan, mengusap lembut pipi anak angkatnya kemudian sesekali melihat Lisa.
Di dalam benak pria itu tetap bertekad bahwa sampai tetes darah terakhirnya akan selalu menjaga mereka berdua. Melihat Lisa masih mengharu biru, memeluk Jaka hingga bekas air matanya menggenangi wajah. Tiba-tiba dia merasakan keanehan pada perutnya bergejolak sangat perih. Keringat dingin, mata Lisa berubah berwarna merah. Dia menjerit kesakitan,masih ada janin di dalam perutnya yang berusaha dia bunuh.
“Aku tidak menginginkan anak ini!” jerit Lisa.
Dia mengerang, tangannya memukul perutnya sendiri. Karena kondisinya yang tidak terkendali, para suster membius lalu meminta Wijaya dan lainnya untuk meninggalkannya. Bayi Jaka di bawa oleh bi Teti kembali. Sen mengantarkan mereka pulang, pikiran pria itu masih memikirkan keganjilan pada Jaka dan Lisa. Di depan pintu ruangan, Wijaya menunggu kabar Lisa dengan berjalan mondar-mandir tanpa henti. Setelah beberapa jam berlalu, dia mendekati dokter Pram sambil mengernyitkan dahi.
“Kenapa dokter tidak ikut memeriksa bu Lisa ke dalam?” tanya dokter Pram.
“Tidak, saya lagi kurang sehat dok. Bagaimana dengan keadaan Lisa?” tanya Wijaya.
“Kandungannya bisa di selamatkan, tapi kondisinya sangat kritis karena jahitan rusak akibat benturan. Oh iya, dimana suami bu Lisa dok?” tanya Pram.
“Saya tidak mengetahui dimana kini suaminya setelah berusaha membunuh Lisa” jawab Wijaya.
“Kasian wanita itu, sepertinya dia mengalami trauma besar. Terlebih lagi kandungannya__” Pram memutuskan pembicaraan.
“Apa maksud dokter?” tanya Wijaya.
“Maaf saya permisi dok, sebentar lagi saya akan melakukan operasi di ruangan lain.”
Semula Wijaya enggan memeriksa Lisa, dia tidak tega melihat sang kekasih yang dia cinta kesakitan atau melihat luka di tubuhnya. Hari ini dia terpaksa mempersiapkan diri mengganti baju di ruangan pribadi milik sang ayah lalu memanggil para suster untuk membantunya melakukan pemeriksaan di ruangan khusus yang dia sediakan.
__ADS_1
...----------------...
Rumah Transo sudah hangus terbakar, para warga melanjutkan pencarian memasuki jurang tanpa menunggu komando dari pak RT. Pirem dan empat warga lain yang sudah turun ke dasar jurang, pandangan kabur di samping rasa hawa dingin semakin menusuk tulang. Di area jurang, Karjo melihat bekas sandal yang menginjak lumpur. Dia semula berpikir itu adalah jejak Pirem sampai langkah menuju pohon raksasa. Sorot mata merah dari balik pohon memperlihatkan bentuk mengerikan, Pirem terjatuh tangannya seperti menyentuh sebuah kepala tengkorak.
“Arghh!” jeritnya berlari sambil merangkak.
Kakinya di tarik oleh sosok jin penunggu pohon, dia di bawa masuk ke dalam sampai suaranya tidak terdengar lagi. Pirem menjadi sasaran empuk bagi si penunggu pohon yang rakus akan darah daging manusia. Gema suara terakhir terdengar oleh ustadz Ali yang baru saja tiba tepat di depan jurang bersama pak RT dan warga lainnya. Ustadz Ali berdzikir lalu membacakan ayat kursi, perlahan kabut pekat putih menghilang terbawa angin.
“Ustadz, apakah kita sudah bisa turun ke sana?” tanya pak RT.
“Ya, sekarang ayo kita menuju pohon raksasa itu” ucap ustadz Ali.
Wajah-wajah setan menjelma di balik bayangan misterius, hampir saja sang ustadz di banting oleh salah satu jin yang merasakan panas bagai api yang menyala ketika melihat kehadirannya. Sepanjang jalan ustadz Ali membimbing para warga agar jangan melamun dan tetap membacakan surah pendek di dalam hati. Tepat beberapa langkah di dekat pohon, mereka menemukan bekas baju milik Pirem.
“Ini adalah baju Pirem yang dia pakai tadi” ucap pak RT.
Mendengar suara anaknya dari arah kejauhan, pak RT berlari meninggalkan gerombolan. Dia mencari hingga tersesat di tempat asing. Wilayah itu di kerumuni oleh akar pohon yang menjuntai, langit gelap di sekitar berterbangan burung gagak.
“Rume, dimana kau nak?” panggil pak RT.
Sosok wanita memakai baju putih terbang membawa Rume, mereka menghilang di balik kegelapan. Pak RT mengejar mereka hingga tergelincir memasuki jurang. Tulangnya retak, kepala terbentur batu besar tapi dia masih sadar menatap ke arah langit.
“Rume dimana kau berada nak? ayah akan menyusul mu” gumamnya.
Nafasnya hampir terputus, dia menguatkan diri untuk tetap terjaga sepanjang hari.
__ADS_1
“Pak RT! Bapak dimana?” panggil para warga.
“Ustadz, apa yang harus kita lakukan?” tanya Karjo.
“Kita harus mencari Pirem sebelum penunggu pohon raksasa itu merenggut jiwanya. Kalian bertiga tolong cari pak RT dan warga lain lakukan pencarian mencari pak Transo.”
“Baik ustadz” sahut para warga.
Transo bersembunyi di sebuah tempat di dalam pohon raksasa. Dia menyeringai menunggu mangsa dan tertawa melihat Parmo yang sudah di bawa oleh jin penunggu. Dia belum puas untuk mendapatkan ilmu yang lebih tinggi agar bisa melawan sosok kera hitam yang sudah membuat dia hampir kehilangan seluruh ilmunya.
Sesuai permintaan si penunggu pohon, darah dan daging persembahan. Transo mengendap-endap masuk ke dalam rumah menculik Rume. Parsih masih tidak sadarkan diri, sementara di rumah yang kosong itu hanya ada Rume sibuk membangunkan ibunya.
Perlahan Transo menutup mulut Rume dengan sapu tangan yang sudah dia beri obat bius. Gadis itu di bawa oleh Transo ke sebuah pohon kedua yang biasa tempat dia untuk bersembunyi. Dia adalah lelaki berkelakuan hewan dan berhati iblis, kerakusannya melakukan hal kepuasaan hawa nafsu merenggut daun muda yang kini di hadapan.
“Hahahah, ahahah” tawanya.
Bunga yang indah itu layu, kejahatan si dukun gila merajalela melancarkan niatnya. Tanpa busana, dia seolah tidak puas melakukan keinginannya kepada Rume. Sampai suara aneh berbisik di telinganya, Transo berhenti menunjukkan ekspresi tidak senang.
“Ya, aku tau keinginan mu. Tumbal” ucap Transo.
Kini tubuh Rume di lapisi oleh kain kafan, dia menyiram dengan air yang sudah di beri mantra. Kaki dan tangannya di ikat, ketika dia sadar hanya ada tangisan tersedu-sedu. Masa depan dan kehidupannya di renggut Transo. Tidak ada yang mengetahui hal ini, ingin sekali pada hari itu pula dia bunuh diri.
Transo tidak memperdulikan Rume meski dia berusaha melepaskan ikata menggeliat menatap dirinya penuh rasa marah.
Keris di tangannya sudah mengarah ke atas langit. Transo meneruskan mantra pemanggil jin raksasa di selubungi asap hitam tebal membuat Rume ketakutan.
__ADS_1
“Tuan, aku persembahkan dia untuk mu. Berilah aku ilmu yang sangat tinggi. Ahahahh” ucap Transo sambil tertawa terbahak-bahak.