Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Sesat


__ADS_3

Kini pria itu telah sesat, tertipu oleh permainan setan yang sudah mengobrak-abrik jiwanya. Penyembah makhluk yang seharusnya menjadi musuh malah di yakini menjadi sosok penolong diri.


“Bagaimana hasilnya?” tanya Wijaya dengan hati gusar.


Di dalam ruangan kerja, dia sudah sangat lama menunggu kehadiran Sen. Ketika Sen sudah berdiri di hadapan, tangan kanan Wijaya terasa sangat sakit seperti ada jari tangan yang sudah merobek kulitnya. Menahan rasa sakit hingga suara jeritan keluar dari mulutnya.


“Argh! Arghh!”


“Tuan, saya akan segera memanggil dokter kesini” ucap Sen bergerak meletakkan bungkusan lalu memutar langkah pergi.


“Tidak! Jangan sekarang Sen kembali ke tempat semula!” panggil Wijaya.


“Tuan, semua ini akibat ulah makhluk yang di gubuk Kera itu. Seorang pria berbaju hitam bertopi blangkon yang memberikan patung ini mengatakan bahwa bekas luka ku tadi akan berpindah ke pemakai aslinya. Maafkan saya tuan, andai saya tidak menuruti ucapannya” kata Sen menunjukkan raut wajah penuh penyesalan.


“Tidak, aku mengetahui siapapun yang sudah menyampaikan niat dan langkah kesana maka tidak akan bisa kembali menariknya lagi. Cepat ambilkan saja aku kotak P3K.”


“Baik tuan.”


Tangisan bayi Jaka terdengar sangat melengking, suara bayi kecil itu menembus langit-langit ruangan walau kini Wijaya sedang berada di lantai atas. DIa tidak bisa berlari seperti biasanya, hari ini Wijaya harus menyelesaikan urusannya agar berharap Lisa tidak mati di tangan Transo. Pukulan dan segala bentuk aniaya Transo kepada Lisa membuat dia semakin khawatir akan keselamatannya.


Selesai membersihkan luka, lalu membalut luka dengan perban pada tangannya sendiri. Tetap saja darah itu perlahan menetes tanpa henti, Wijaya sedikit meringis enggan memperdulikan darahnya yang kini seakan sudah membanjiri meja kerjanya. Melihat hal itu, Sen memindahkan semua benda-benda di atas meja ke sisi meja lain. Hanya ada bungkusan yang sudah dia buka, tubuh Sen bergetar melihat mata patung kera menyala berwarna merah.


“Tu_tu_tuan, mata patungnya berubah menjadi merah” tunjuk Sen ketakutan.


Wijaya melotot, dia meraih sebuah gulungan hitam berisi tulisan mengenai patung tersebut. Ketika dia masih membaca, Sen melihat sosok hantu kera yang mengikutinya tadi berdiri di belakang Wijaya. Sen jatuh pingsan, dia sangat terkejut tidak tahan melihat penampakan sosok itu.


“Sen! Ada apa dengan mu? Sen!” Wijaya mengguncangkan tubuhnya.


“Bi, bi Teti cepat panggil pak Anton” teriak Wijaya.

__ADS_1


Anton dan Wijaya mengangkat Sen di dalam kamarnya. Para pekerja tidak berani menanyakan apa yang terjadi. Bi Teti hanya membantu mengoleskan minyak angin di sekitar telapak kaki dan tangan. Melihat Wijaya kembali menuju ruang kerja, bi Teti dan Anton perlahan menutup pintu kamar Sen dan meninggalkannya.


“Pak Sen kenapa ya bi?” bisik Anton.


“Bibi tidak tau pak, bibi pekerja baru disini. Mungkin saja pak Sen kelelahan.”


“Ya mungkin saja, tapi saya mau cerita kalau semalam ketika terbangun tengah malam di depan pos ada sosok suster sedang mondar-mandir sambil melotot melihat rumah ini. Dia sangat mirip dengan salah satu suster yang menjaga Jaka” ucap Anton.


“Apa? Sepertinya memang dia yang bapak maksud. Sudah beberapa hari ini bibi tidak melihatnya.”


...----------------...


“Haki kau dimana? Kenapa panggilan telpon ku tidak kau angkat?” gumam suster Dini.


Dia memasukkan kembali ponsel di dalam sakunya lalu melanjutkan mengayun Jaka. Cuaca mendung, gerimis halus berselimut aura mencekam. Pintu terbuka sendiri, di balik kegelapan pagi yang mendung ada Haki berdiri dengan wajah pucat tanpa alas kaki menatapnya. Pakaiannya penuh lumpur, di ujung mata mengalir darah berwarna hitam tanpa henti.


Dini mengangkat Jaka, tangan sebelahnya menekan lampu berharap sosok tadi menghilang. Nyatanya tetap saja Haki berjalan membungkuk mendekatinya. Langkah mundur Dini sambil memeluk Jaka erat. Dini mengulurkan tangan dengan menangis.


“Haki kau kenapa? Apa yang terjadi pada mu?” ucap Dini.


“Dia bukan anak manusia” kata Haki menoleh ke arah jaka.


Dini pun melihat Jaka berubah menjadi sosok bayi mengerikan, sambil menjerit dia melemparkan Jaka ke atas lantai. Jaka tertawa merangkak mendekatinya, melihat hal itu Dini memecahkan kaca jendela lalu melompat keluar. Suara pecahan kaca, retakan tubuh yang terjatuh dari ketinggian lantai tiga. Di tengah hujan wanita muda itu meregang nyawa. Kedua bola mata melotot, di dalam derasnya hujan sang suster menjadi korban ilmu hitam Transo yang sudah tertanam di tubuh Jaka.


“Argghh!” jerit bi Teti dari dalam kamar bayi.


Tok, tok, tok.


“Tuan, gawat tuan!” jerit bi Teti.

__ADS_1


Mendengar teriakannya, Wijaya kembali menutup bungkusan patung kera. Dia membuka pintu melihat wajah panik bi Teti, ada Jaka di gendongan kain panjangnya yang tampak tertidur pulas.


“Ada apa bi? Tadi aku mendengar anak ku menangis.”


“Den Jaka sedari tadi tidur di ayunan bersama suster Dini, tapi ketika bibi hendak mengantarkan pakaian bayi yang kering di kamar den Jaka sudah berantakan. Kacanya pecah dan suster Dini melompat dari jendela” ucap bi Teti.


Wijaya berlari melihat keadaan kamar Jaka, begitupun sang suster yang sudah berbaring di luar rumahnya. Alangkah terkejutnya dia, jasad sang suster di bawa oleh ambulance ke rumah sakit miliknya. Aparat berwajib memasang garis pembatas polisi di sekitar rumahnya. Para pekerja yang melihat mayat Dini penuh rasa takut dan was-was.


“Apakah rumah ini berhantu?” tanya Anton.


“Ya, aku juga merasakan banyak hal aneh setelah kehadiran tuan Jaka” bisik Rian.


“Hushh, jangan sampai perkataan kalian di dengan tuan besar atau akan menjadi masalah nantinya” ucap bi Teti.


Di dalam ruangan kerja sebelum membuka bungkusan itu kembali. Dia memeriksa cctv yang sengaja dia pasang di dalam ruangan bayi. Sepasang bola mata Wijaya hampir terlepas melihat anak angkatnya merangkak hingga penampakan suster Haki yang mengganggu suster Dini.


“Jaka! Tidak mungkin anak ku terkena ilmu Transo” batinnya.


Dia memukul kepalanya sendiri, hati dan pikiran luluh lantak terlebih lagi urusannya dengan Transo semakin mengganggu hidupnya. Tanpa menyerah, Wijaya membulatkan tekad meneruskan langkah yang sudah dia ambil. Membuka bungkusan dan meneruskan membaca isi dari gulungan hitam.


Selesai membaca, Wijaya menutup semua tirai rapat-rapat. Dia menyalakan lilin-lilin membentuk lingkaran. Patung kera itu di lumuri oleh darahnya, Wijaya menabur bunga dari dalam bungkusan kemudian membacakan mantra.


...“Geni saka setan summoning manggon ing reca khetek iki. Senjata lan pengawal kanggo ngilangi wong sing di tuju. Ayo lan bantuan kula.”...


Sosok Kera besar berbulu hitam hadir, dia adalah penunggu patung yang di bawa oleh Sen. Wijaya menahan rasa takut, dia menyebutkan nama Transo sedikit terbata.


“Tran_tran_so” ucapnya.


Sosok makhluk ghaib itu pun mengangguk dan menghilang meninggalkan bekas belatung berbentuk telapak kaki raksasa.

__ADS_1


__ADS_2