Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Guncangan


__ADS_3

“Cepat panggil dokter Pram untuk menyiapkan operasi” ucap WIjaya panik.


Kondisi kritis Lisa akibat harus melakukan operasi Cesar di tengah gangguan makhluk halus kiriman Transo. Sosok yang sudah bersatu dengan Wijaya mengerang di ruang operasi. Menyadari keanehan pada dirinya, WIjaya memindahkan pisau steril ke tangan doker Pram lalu mempercepat langka keluar ruangan operasi.


Sen mengejar wijaya sampai ke ruangan pribadi di lantai tiga. Tapi di ketika WIjaya sudah memasuki ruangan, Sen kehilangan dirinya. Langit seketika mendung gelap gulita, dia mengeluarkan pematik untuk melihat keadaan sekitar.


“Tuan! Anda dimana?” teriak Sen.


Di situasi yang rumit ini, Wijaya bersembunyi di dalam ruangan pribadi yang hanya dia dan almarhum tuan Admaja ketahui letaknya. Dia menyalakan lilin-lilin kecil berbentuk melingkar menaburkan bunga dan menyalakan dupa. Merasakan sosok kera iblis hitam sudah merasuki tubuhnya, Wijaya mengucapkan mantra yang sudah dia hafal di dalam gulungan hitam.


...----------------...


...wahai jin lan iblis ingkang bersemayan wonten delam petengan . Dugi rawuh lah lan rencangi kula kangge nglawan transo. Paringi kula kekiyatan, dadosaken jaler puniku rekaos lan menderita. Balikkan sedaya teluh lan santet dhateng lebet dhiri transo. Patuhi gineman kula ! Wahai sosok pemangku jiwa iblis setan kera cemeng lestantun....


Sosok iblis Kera hitam menyerang kembali Transo di dalam sihir, teluh dan santet. Dua kekuatan kembali beradu, di pertempuran ini tampak Wijaya berhasil membalikan kembali semua serangan dari si dukun gila.


“Aku kuat! Tidak ada yang bisa membunuh dan mengganggu ku lagi! Transo! Kau tidak boleh mati begitu cepat, kau harus menderita terlebih dahulu seperti halnya Lisa yang telah kau sakit!” ucap Wijaya.


Dia menulis nama Transo dengan darah nya sendiri dari bagian ujung jarinya. Di atas kain kafan berukuran persegi tiga puluh sentimeter. Wijaya kembali mengulang mantra setan di iriingi petir yang menggelegar di malam hari.


Ctarr, duar!!! (Suara petir terdengar keras)


Di tempat dukun Aes.


“Bu, sebaiknya kita urungkan saja niat ini. Mbok khawatir, suara petir ini seperti pertanda buruk” bisik mbok Ida.

__ADS_1


“Husshh, kamu hanya cukup menemaniku saja kemari, Jika mbok takut, yasudah mbok tinggalkan saja saya sekarang.”


Parsih mengeluarkan satu tumpukan lagi dari dalam tasnya. Di dalam tas itu tersisa satu tumpukan uang di dalam amplop. Semua uang tunai yang sengaja dia bawa hanya untuk berharap bisa mengembalikan keluarga kecilnya lagi. Parsih menggelengkan kepala, dia mendorong amplop lebih dekat kea rah si dukun.


“Tidak, saya tidak berpikir bahwa bapak adalah mata duitan” ucap Parsih.


Pria itu meraih amplop kedua lalu melihat isisnya kembali, dia menganggukkan kepala kemudian memberikan sebuah kepala tengkorak kepadanya. Bau busuk menyengat, mbok Ida tidak tahan menahan aroma itu sampai berlari keluar mengeluarkan semua isi perutnya.


“Huueekkk!”


Mengeluarkan muntahan sembarangan di tempat yang baru dia singgahi. Mbok Ida tidak menyadari ada sosok lain yang sudah terkena kotoran itu. Kini kakinya di tarik sampai dia terbanting, pelipisnya berdarah secepatnya dia mengusap luka lalu berlari masuk ke dalam.


“Apa yang terjadi pada mu mbok?” tanya Parsih.


“Tidak apa-apa bu.”


“Lepas! Jangan kau sakiti dia pak!” jerit Parsih.


“Diam! Kau tidak tau wanita ini kerasukan?” ucap dukun Aes.


Parsih tidak mendengarkan perkataan si dukun,dia menarik paksa mbok Ida sampai tubuhnya terbentur salah satu patung di sudut ruangan. Dukun Aes hampir hilang kendali dan mengusir mereka, mengingat semua kelakuan mereka terhadapnya.


“Aku berusaha menyelamatkan wanita itu tapi kau malah menyerang ku!” bentak si dukun.


“Saya tidak melihat niat baik bapak, hampir saja dia tercekik mati!” jawab Parsih.

__ADS_1


“Baiklah, kalau kau tidak percaya maka aku akan melepaskan kembali makhluk itu” ucap si dukun.


Mbok Ida kembali kerasukan, dia kini mencekik Parsih lalu mengigit pundaknya hingga terluka. Parsih kesakitan mendorong lalu berlari berlindung di balik si dukun. Gemetar tubuhnya melihat perubahan pada wanita itu, rasa sakit bekas gigitan darinya pula terasa sangat sakit dan gatal. Parsih memohon pada si dukun untuk membantunya menyadarkannya.


“Apa sekarang kau percaya dengan perkataan ku?” tanya si dukun.


Setelah suasana kembali tenang, Parsih merasakan bekas lukanya tidak tertahankan. Dia meminta si dukun untuk mengobati lukanya. Meski rasa sakit telah hilang, rasa gatal menyerang membuat dia bertanya kepada si dukun.


“Pak, mengapa rasa gatal ini tidak hilang? Apakah bapak tidak bisa mengobati ku?”


“Setelah kau keluar dari tempat ini, rasa gatal akan menghilang dengan syarat jika bekas luka itu jangan sampai terluka untuk kedua kalinya” ucap dukun Aes.


Mbok Ida dan Parsih kembali pulang membawa kepala tengkorak yang di lapisi kain hitam. Si dukun berpesan agar meletakkan kepala tengkorak tepat di samping tempat tidur Parsih berada. Saat mereka akan memasuki rumah, pintu sudah terbuka lebar. Parsih dan mbok Ida melihat bekas jejak sepatu berlumpur di sepanjang ubin.


“Mbok, ada maling” bisik Parsih.


“Jangan masuk bu, mungkin saja dia masih di dalam” ucap mbok Ida menarik tangannya.


“Tapi brankas yang berisi uang dan harta benda lain belum terkunci mbok. Disana juga ada gaji para pekerja yang harus di bagi rata bulan ini”kata Parsih panik.


Dia kedalam rumah sambil membawa benda dari si dukun Aes. Pandangan mata melingak-linguk memandang ke segala arah. Dari belakang, sosok pria memakai topeng mengangkat pisau akan menusuknya. Mbok Ida langsung mendorong Parsih sehingga dirinya yang tertusuk.


“Tolong! Tolong! Arghh!” suara teriakan Parsih terdengar oleh pos penjaga.


Suara kentongan mengumpulkan warga menuju rumah Parsi, salah satunya melihat seseorang berlari dari rumahnya. Mereka berbondong-bondong mengejarnya sementara itu Karjo membantu Parsih membawa mbok Ida ke puskesmas terdekat. Sebelumnya Parsih memastikan branka itu masih belum tersentuh dan mengunci rumah. Dia bersama Karjo ikut memindahkan mbok Ida ke rumah sakit menaiki Ambulan yang di sewa oleh Parsih berharap mbok Ida secepatnya di selamatkan.

__ADS_1


Perkampungan itu jauh dari rumah sakit, di tengah perjalanan si mbok sesak nafas menahan sakit sambil menggenggam tangan Parsih. Tangis Parsih menyesal karena seharusnya dirinya yang tertikam. Pekerja yang sudah lama mengabdi pada keluarga nya itu melepaskan senyuman sebelum kepergiaannya.


“Mbok Ida bertahan ya mbok, sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit!” ucap Parsih.


__ADS_2