
Lisa berkaca di dalam kamar mandi, dia masih memakai handuk yang membungkus kulit putihnya yang basah. Di sekitar leher dan punggungnya terlihat bekas cengkraman Transo beberapa minggu lalu, hal itu membuat dia merasa sangat jijik akan dirinya sendiri.
Lisa mengetahui bahwa di saat itu ada sosok lain yang bersemayam di tubuh suaminya. Ingin dia menolak, tetapi dia tidak ingin lebih menderita jika harus menerima pukulan darinya. Kali ini dia berusaha menahan air mata, dia tetap pada tujuan hidupnya adalah tetap bernafas dan berdiri demi Jaka. Harapan terbesar di dalam hatinya adalah bisa bersama kembali dengan buah hatinya.
“Mas Transo!” sayup-sayup suara menggoda manja itu datang dari luar kamar mandi.
Lisa membuka pintu melihat tingkah pola suster Kela yang tertawa kegirangan sedang mengganggu suaminya. Pakaian suster itu yang terlalu mini dan sifatnya yang tidak mempunyai tata karma. Lisa bergegas memakai pakaian, tanpa riasan atau polesan di wajah dia mencari dimana suster dan Transo berada.
“Kamu mau mengajak aku kemana mas?” ucap suster Kela.
“Berisik kamu!” Transo melengos menatap Lisa.
“Mas kamu mau aku buatin minuman apa?” sela suster Kela tanpa memperdulikan Lisa.
__ADS_1
Mereka berjalan menuju jurang, Transo membawanya ke pohon raksasa tempat sarang iblis itu berada. Seorang warga yang melintas melihat mereka menuruni jurang, hal tersebut langsung di sampaikan kepada Lisa.
Tok, tok, (Suara ketukan pintu)
“Assalamualaikum Lisa” ucap wanita berumur yang sedang menggendong anak laki-lakinya.
“Walaikumsalam bu, mari masuk” kata Lisa.
Sorot mata memperhatikan anak laki-laki yang di gendongnya, dia membayangkan Jaka yang seharusnya nantinya akan tumbuh besar di dalam buaiannya kini seolah tembok penghalang yang sangat tinggi di antara mereka. Hampir saja dia menangis, Lisa menekan air mata, dia bergerak mengusap kepala anak kecil itu.
“Ibu ini ada hubungan apa dengan mbak Dita sampai ibu mau membantu orang asing seperti ku?” tanya Lisa.
“Aku adalah tetangga dan sahabat baiknya, aku mendengar semua cerita mu. Lisa, jalan satu-satunya untuk terlepas dari penjara di rumah ini dan menjadi korban suami mu sendiri adalah dengan membunuh suami mu dan membakarnya di dekat pohon raksasa itu” ucap wanita itu.
__ADS_1
“Aku tidak memiliki naruli untuk membunuh ataupun bisa menyakiti makhluk di dunia sekalipun aku di sakiti. Bu, aku ucapkan terimakasih engkau telah meringankan langkah mendatangi ku” tegas Lisa meletakkan kedua tangan di depan dada.
“Lisa, sekarang yang paling penting adalah menyusul suami mu ke bawah jurang. Dia bersama seorang wanita cantik berpakaian suster. Mereka terlihat sangat mesra.”
“Apa? gelagat mereka dari tadi mencurigakan!” gumam Lisa mengernyitkan dahi.
“Terimakasih atas informasinya bu. Aku akan segera kesana.”
Langit mendung, rintik gerimis membasahi tanah yang masih basah. Lisa kesudahan untuk menuruni jurang dengan berpegangan pada akar pohon raksasa yang menjalar di sekitarnya.
“Arghh!” Lisa tergelincir akibar tanah yang berlumpur.
Dia mengalami pendarahan, darah yang mengalir itu sampai ke kaki. Perutnya sangat sakit, Lisa meringis merintih melingak-linguk suasana jurang yang mulai gelap.
__ADS_1
“Tolong! Tolong aku!” teriaknya.