
Gambaran para tumbal serta manusia Kafir penyembah selain Allah Yang Maha Esa akan masuk ke dalam lautan api untuk menemani para iblis, setan dan jin di dalam siksaan teramat perih. Mereka kekal selamanya disana. Tidak ada yang bisa menolong, semua hal urusan dunia yang telah mereka pilih tanpa memikirkan neraka jahanam.
...🔥🔥🔥...
...----------------...
Orang tua yang bersifat iblis dan makhluk kafir, rela menumbalkan anak mereka demi kekayaan yang bersifat sementara. Seolah si anak bukanlah berasal dari darah dan dagingnya sendiri. Tanpa mereka sadari, gangguan datang silih berganti bahkan setiap waktu mengganggu. Para arwah anak-anak yang tidak tenang.
Kasim kekenyangan menikmati suguhan daging ayam rebus hingga air liurnya tanpa terasa menetes deras. Transo menyeringai memintanya terus menghabiskan tulang rawan muda yang melekat pada tulang ayam itu hingga bersih. Pria itu menuruti perintahnya, pada suguhan hidangan kedua terdapat sebuah batok kelapa berisi darah hitam.
“Habiskan!” bentak Transo lalu melemparkan sebuah bungkusan dan sepincuk daun pisang.
Setengah mati Kasim menahan rasa mual meneguk darah tersebut. Dia menekan dada dan perut berusaha agar tidak sampai memuntahkannya.
“Cepat bawa itu semua, jangan lupa isi yang ada di dalam daun pisang harus kau makan tepat pukul dua belas malam” pesan Transo.
“Terimakasih tuan” ucap Kasim.
Sesampainya di depan rumah, Ijah berdiri melotot melihat suaminya itu dengan penuh amarah dan benci. Dia masih tidak percaya bahwa Kasim bisa memberikannya harta lagi. Dia menyodorkan bungkusan itu ke Ijah dengan raut wajah cemas karena dia tidak sempat menanyakan apa yang berada di dalam bungkusan itu. Sementara bungkusan daun pisang yang sudah dia pisah di sembunyikan di balik pot depan rumah. Ijah tersenyum bahagia kegirangan mengeluarkan semua isi di dalam bungkusan di atas meja. Ada beberapa batang emas, tumpukan uang tunai dan bebatuan berkilau berwarna merah.
“Ahahah, kita kaya kembali pak! ibu senang sekali!” Ijah memeluk Kasim lalu mengusap batu permata dengan ujung bajunya.
__ADS_1
Prang, trak. (Suara benda yang terjatuh di dapur)
Kasim dan Ijah berlari mencari sumber suara, jeritan kuat dari Ijah menyaksikan Dini meninggal di dalam lilitan ular besar. Kasim memukul ular itu, hampir saja dia terkena semburan bisanya. Melihat ular tadi tiba-tiba menghilang secara misterius, tubuh Dina di bawa menuju Rumah Sakit. Sepanjang perjalanan, Ijah tidak henti menangis dan menjerit. Dia memeluk Dini merasakan tubuh anaknya sudah dingin berwarna biru terlihat buih keluar dari mulutnya.
“Pak, kita pulang saja. Dini harus secepatnya di kubur, ibu tidak mau para warga membicarakan keadaannya” ucap Ijah.
Kasim tidak menjawab sepatah katapun, dia menuruti kemauan si istri sambil melajukan kendaraan di dalam pikiran panjangnya yang berputar-putar. Dia teringat terakhir kali makan daging ayam rebus juga darah yang dia teguk. Kini dia menyadari semua itu ibarat darah dan daging milik Dini.
Sesampainya di rumah, Kasim langsung mengurus proses pemakaman anaknya. Dia membayar beberapa orang warga untuk segera menggali kuburan dan meminta ustadz Ali agar membantu mengurus jenazahnya.
“Pak Kasim, saya tidak menerima uang ini. Saya ikhlas membantu, terlebih lagi kalau boleh saya memberi sarah agar segera melaksanakan takziah untuk almarhum Dana dan almarhumah Dini” ucap ustadz.
Kasim mengerutkan dahi, dia hanya menjawab dengan gelagat seperti orang kebingungan. Anggukan dan gelengan kepala, manik mata tertuju pada sosok penampakan di sudut ruangan melihatnya. Mamang yang mengetahui kabar kematian anak kedua Kasim segera berlari ke pos siskamling memberitahukan pada warga lainnya.
Ketika mereka berjalan beramai-ramai ke rumah Kasim, terlihat jenazah sudah di masukkan ke dalam keranda. Proses pemakaman yang berjalan sangat cepat membuat mereka saling tanda tanya. Sampai beberapa menit para pelayat meninggalkan TPU, indera penciuman paa pelayat merasakan aroma anyir amis seolah menempel di hidung mereka.
...----------------...
Tidak ada lagi yang lebih indah dari sebuah kata kesabaran. Wijaya menekan kebahagian untuk dirinya sendiri. Meski cinta di hati wanita sudah sangat lama terpendam untuknya, dia tetap bersabar berjuang mendapatkannya kembali. Kesalahannya memilih jalan hitam, semula dia berpikir dengan jalan itu akan lebih mudah menyelamatkan Lisa dari pelet dan ilmu Transo tapi malah menjerumuskannya melakukan perbuatan musyrik.
Menjalani tiga kali operasi jahitan perut, luka Lisa sampai saat ini masih butuh perawatan khusus. Tidak hentinya Wijaya selalu memeriksa bahkan meminta para dokter bedah yang bekerja di Rumah Sakit peninggalan ayahnya itu untuk memeriksa Lisa secara rutin. Dia adalah pria pekerja keras dan tidak hanya mau duduk ongkang kaki di atas meja menunggu setoran atau menikmati harta almarhum ayahnya yang tidak habis sampai tujuh turunan.
Dia tetap mengenakan baju dinas, stetoskop yang menggantung di lehernya dan melaksanakan kewajibannya sebagai dokter. Meski terkadang di merasakan dirinya kini mendapatkan gangguan ghaib dan terkadang berkelakuan seperti seekor kera. Di dalam ruangan kamar bayi Geni, Wijaya mengucap dagunya yang tidak berjenggot itu lalu menarik sedikit senyuman mengganggu.
__ADS_1
“Kemari lah, biarkan aku menggendong mu” ucap Wijaya.
Tidak ada satupun suster dan perawat yang berani masuk ke dalam ruangan itu sebelum Sen ikut menemani mereka. Wijaya memperhatikan sorot mata si bayi, seolah anak itu ingin memakannya di balik rahan mulut mengeluarkan seluruh gigi taring. Dia menggelengkan kepala kemudian memejamkan mata memastikan lagi dengan apa yang di lihat.
“Wijaya, cepat kembalikan anak itu ke dalam keranjangnya dan siram dengan air bunga milik ku sebelum dia menggigit pergelangan tangan mu!” bisik suara siluman iblis kera hitam.
Pria itu meletakkan bayi Geni lalu berlari keluar ruangan. Saat melihat Sen akan masuk, Wijaya memberi pesan agar dia tetap berjaga di depan ruangan bayi sampai dia kembali. Dalam hitungan lima menit, Wijaya kembali membawa sebotol air yang berisi bunga di dalamnya.
“Apa yang akan tuan lakukan dengan air itu?” tanya Sen.
“Cepat kunci ruangan ini dan tutup semua tirainya” perintah Wijaya.
Dia menyiram sekujur tubuh si bayi dengan air mantra, Sen memperhatikan gigi taring yang ada pada bayi itu perlahan menghilang. Jika bayi normal maka dia sudah meninggal akibat guyuran air yang memasuki mulut dan hidungnya.
“Tuan, bagaimana keadaan bayi ini?” tanya Sen khawatir.
Dia mengambil satu persatu kelopak bunga yang berada di tubuh bayi yang tampak tidak menangis atau merasakan sakit sedikitpun. Sorot mata yang semula mengerikan berubah normal, begitu juga gigi taring perlahan menghilang berganti gusi merah.
“Bagaimana ini tuan? Jika dia tetap mempertahankannya maka akan ada korban selanjutnya” ucap Wijaya.
“ Aku akan menanyakan hal ini pada mas Yuno. Jangan lupa tetap pantau Geni, Lisa dan anak ku Jaka dari CCTV ruang kerja yang sudah aku persiapkan untuk mu.”
“Baik tuan. Mengenai suster Ara, apakah tidak sebaiknya kita bawa dia ke orang yang mengerti masalah hal mistis?” tanya Sen kembali.
__ADS_1
“Suster Ara sedang mengalami koma, jika kita membawanya keluar dari rumah sakit pasti akan menimbulkan berbagai macam pertanyaan dari para tenaga medis” kata Wijaya.
...🔥🔥🔥🔥🔥...