Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Sinar Kejahatan


__ADS_3

“Hei Partim, engkau pikir dengan mengikat ku maka kau bisa menghentikan ku untuk membawanya pergi? Ahahah” suara Tumi terdengar berbeda.


“Siapa pun engkau yang berada di dalam tubuh istri ku segera enyah dari sana!” bentak Partim.


Dubraghh. ( Suara dobrakan pintu)


Mamang dan Ujang masuk tampak terkejut melihat Tumi yang sedang melayang di atas langit kamar di atas kasur dengan tubuh terikat. Suara teriakan Tumi memekik gendang telinga, memecahkan jendela kaca hingga membuat mereka semua terbanting ke lantai.


Dia memuntahkan darah berwarna hitam, tanpa mereka ketahui di balik layar semua itu adalah permainan dari iblis penguasa jiwa Transo. Dari dalam, kiriman sihir sebagai tumbal penambah ilmu dan syarat yang harus di laksanakan sebagai persembahan kepada si iblis.


Tumpahan darah itu mengeluarkan cacing dan belatung yang menggeliat. Tumi menjerit sebanyak tiga kali lalu menghembuskan nafas terakhirnya.


“Tidak! Tumi! Bangun! Jangan tinggalkan aku!” pekik Partim.


Dia menyesali perbuatannya seolah menyiksa istri dengan mengikat kaki dan tangan agar tidak kembali berlari mencari Transo. Namun semua sudah terjadi, Tumi terkena ilmu hitam Transo bahkan dia tidak bisa menyembuhkan istrinya sendiri. Partim berlari ke dapur, dia mencari pisau yang paling tajam lalu berlari menebas lehernya sendiri di dekat jasad istrinya.


“Partim! Jangan!” teriak Ujang.


Mayat mereka pada malam itu segera di kebumikan, meski kain kafan milik Tumi selalu mengeluarkan darah hitam yang mengalir deras dari tubuhnya. Orang-orang yang membantu proses pemakamannya hampir lari terbirit-birit melihat keganjilan yang terjadi pada si mayit.


“Bagaimana ini ustadz? Liang kubur almarhumah Tumi di banjiri dengan cairan darah hitam” tanya Eno.


“Semua ini adalah rahasia Illahi, kita doakan saja yang terbaik untuk almarhumah semoga Allah mengampuni segala dosa-dosanya, melapangkan alam kuburnya dan menempatkannya ke Surga Firdaus. Amiinnn” jawab ustadz Ali.


Beliau terlihat sangat pucat, terkadang sang ustadz berpegangan pada benda yang berada di dekatnya terlihat cara berjalan seperti orang mau pingsan. Ilmu putih melawan ilmu hitam, seolah ustadz Ali sedang kehabisan tenaga dalam setelah melawan raja jin dan setan penghuni pohon raksasa.

__ADS_1


“Ustadz, mari saya antar pulang” ucap Karjo.


“Tidak usah pak terimakasih banyak. Hari semakin larut, sebaiknya bapak pulang karena keluarga bapak pasti khawatir” ucap ustadz Ali.


...----------------...


Arwah Tumi masuk di rantai di dalam pohon iblis. Di tempat rahasia pada dasar jurang, terdengar suara tawa Transo bergembira karena telah berhasil mendapatkan tumbal. Para pengikutnya bertekuk lutut berbaris rapi. Mereka menunggu perintah dari Transo, tidak ada yang berani menentangnya. Transo menyediakan daging mentah untuk mereka santap di bawah bulan yang sedang bersinar berwarna merah.


...Panguwasa pepeteng. Tampa kabeh pengorbanan saka aku. Sampeyan bakal tetep ing salawas-lawase ing awakku. Tulungi aku adoh saka kabeh gangguan sing diarahake marang aku, paringana kekuwatan gedhe....


Mantra iblis menyebar di udara, kebinasaan hati yang bersih menghitam banyak yang menjadi pengikut aliran sesat dengan harapan semu di setiap permintaan yang mereka kehendaki.


Salah satu musuh nyata Transo di dalam balutan setan yang telah hidup di dalam tubuh manusia penuh dendam di masa lalu. Dia masih mengingat kelakuan bejad si dukun ilmu hitam itu merenggut masa depannya secara paksa dan menjadikannya tumbal di pohon pemujaan.


“Oh, ternyata ilmu dukun yang sudah aku itu kini masuk seutuhnya di dalam paku itu. Kau harus kembali ke tuan ku iblis pohon raksasa. Ahahah” teriak Transo.


“Tidak!” jerit Rume.


Aksi si dukun gila itu di hentikan oleh Parsih, wanita itu menikam punggung Transo dengan parang tajam hingga terdengar suara retakan tulangnya dari dalam. Parsih mengetahui dimana anaknya pergi setelah membaca sebuah buku diary milik Rume yang berada di kamarnya.


Beberapa jam sebelum kejadian


Untuk ibu yang selalu mencintai dan menyayangi ku


Sekarang aku bukan lah Rume yang dahulu. Setelah berhasil hidup kembali dari kematian, secara keseluruhan hati serta pikiran ku sudah menghitam di penuhi dengan rasa dendam. Transo telah memperkosa ku dan menjadikan tubuh ku ini persembahan untuk iblis yang dia puja.

__ADS_1


Ibu maafkan lah anak mu ini, Rume bukan lah seperti diri Rume seutuhnya, dia (sosok lain) telah bersemayam tinggal sebagai pengganti kehidupan yang telah pergi.


...-Catatan Kelam Rume-...


Air mata Parsih menetes deras, bagai tersambar petir di siang bolong hatinya begitu hancur melihat garis nasib anak semata wayangnya itu. Di dalam hati dia mengutuk Transo dan bersumpah sekalipun dia mati maka arwahnya akan penasaran mengganggunya dan keluarganya.


“Transo! aku tidak akan pernah memaafkan mu!” ucap Parsih.


Di dalam hutan setelah berhasil menusuk si dukun gila, dia di seret oleh para pengikut Transo di atas meja ritual. Tubuhnya di ikat dan mulutnya di tutup dengan sumbatan kain. Sempat beberapa menit Rume menghilang, tapi saat melihat Parsih akan di jadikan persembahan maka dia menampakkan wujudnya. Dia tidak bisa membawa ibunya pergi karena Transo telah mengirim mantra menekan jiwa pada Parsih yang sudah menggigil kedinginan di sela urat matanya berubah menonjol berwarna merah.


“Hei mayat hidup, cepat kembali ke asal mu atau ibu mu ini akan Mati! Ahahah” ucap Trasnso bersama Tawanya.


Parsih menggelengkan kepala, dia tidak mau usahanya kerasnya menghidupkan dan menyelamatkan dari cengkraman iblis raksasa menjadi sia-sia belaka. Di dalam batin Parsih menginginkan anaknya selamat dan kembali bahagia.


“Jangan turuti perkataan pria iblis itu! Rume dengarkan bahasa batin ibu nak! Dia hanya iblis setan penipu!”


Rume mendengar apa yang di dalam dada ibunya, setelah berubah menjadi hantu arwah penasaran di dalam tubuh jasad nyata. Dia setengah hati untuk mematuhi perkataan ibunya. Transo berjalan mendekati Parsih, dia mencabut paksa parang dari tubuhnya lalu menyayat pergelangan tangan Parsih sampai mendekati bagian urat nadinya.


Wajah kesakitan Parsih bercucuran darah dan air mata, dia menahan rasa sakit sekali lagi memberikan bahasa batin kepada Rume agar segera pergi meninggalkannya. Para pengikut Transo berdiri mengelilinginya, mantra ritual pemujaan di persiapkan secara sempurna.


“Inilah malam yang baik untuk kita. Di bawah sinar bulan merah maka kekuatan kita akan bertambah besar! Aku Raja iblis dan setan penguasa ilmu hitam yang tidak terkalahkan! Ahahah!” ucap Transo.


Delapan para pengikutnya melayang akan menancapkan keris mereka tepat di perut Parsih. Suara jeritan Rume terbang memeluk tubuh Parsih sehingga benda mistis itu mengenai punggungnya.


“Arrgghh!” jeritan Rume mengerikan menggema di udara.

__ADS_1


__ADS_2