
CATATAN DIARY LISA
Kau boleh sebut ini kegelisahan
Sebab semuanya masih tetap membekas di tempat yang sama
Dahulu, aku adalah bunga yang paling indah di seberang sana
sampai engkau datang memetik nya
Jaka
adalah matahari yang kini berusaha menghidupkan nafasku yang sempat terhenti
Di sela tangis tanpa bujukan mu
...----------------...
Manusia yang tidak berhati, Transo tertawa dengan mengikuti tari-tarian iringan musik. Setelah pertunjukan jaran kepang selesai. Semalaman suntuk yang biasanya di kelilingi hawa senyap itu berganti keramaian. Ada seorang penari ronggeng yang memakai selendang merah. Wajahnya yang ayu di selimuti sosok kuntilanak dari susuk yang dia dapat melalui pohon raksasa.
Bagi khalayak ramai melihat dia teramat cantik jelita. Tapi, semua kepalsuan itu hanya lah bersifat sementara. Tanpa sengaja ada salah satu pengunjung yang memperhatikan nya. Sosok yang menakutkan di belakang wanita itu menghilang mendengar suara ayat-ayat suci Al-Qur'an yang di lantunkan oleh salah seorang pemuda bersarung yang berdiri di dekatnya. Tariannya terhenti, wanita itu menekan wajah nya sendiri yang terasa sangat panas seolah terbakar bara api.
__ADS_1
"Arghh!" jeritnya berlari meninggalkan panggung.
Orang-orang saling bertanya apa yang terjadi. Transo yang mengetahui hal tersebut Langsung melotot lalu mendorong si pemuda menjauh dari rumahnya.
"Akang, aku adalah Kabaya. Aku salah satu mahasiswa fakultas ilmu pendidikan Islam yang sedang melakukan studi di kampung ini. Aku melihat sosok mengerikan di balik wanita tadi" ucapnya menjelaskan.
"Pergi!" Transo mengusir secara paksa.
Kedua temannya yang lain menyusul. Salah satunya mengerutkan dahi lalu berjalan mendekati. "Kang Transo?" tanya pemuda berbaju putih sambil menunjuk.
"Ya, siapa kau berani menyebut nama ku?"
"Lisa sedang sibuk" kata Transo ketus kemudian berjalan meninggalkan mereka.
"Sudahlah, Abang ipar mu tidak menerima kehadiran mu. Ayo kita pergi dari sini" ucap Denis.
"Benar, dia sangat kasar!" ucap Dadang.
Jarak surau di dekat perkampungan itu sangat jauh. Mereka berjalan kira-kira sampai satu jam barulah menemukan balai desa sebagai tempat menginap.
"Semua ini salah ku, jika saja tidak mengikuti sumber suara musik itu. Pasti kita tidak berjalan sejauh ini" ucap Denis.
__ADS_1
"Tidak, sejujurnya saat bertemu kang Transo tadi aku menanyakan dimana rumahnya agar kita singgah disana."
Kabaya menyenderkan tubuhnya. Dia ingat masa itu, pernikahan sepupunya Lisa yang menunjukkan raut wajah tidak bahagia. Sekarang, dia sangat mengkhawatirkan keadaan nya.
"Kang Transo tidak menganggap mu. Kau tetap ingin kesana?" tanya Denis.
"Ya, aku ingin itu tentang sepupu ku. Aku mendengar dari ibu, mengenai sosok Transo yang memuja ilmu hitam. Besok pagi aku akan mencarinya lagi" ucap Kabaya.
Dadang dan Denis hanya terdiam menatapnya.
...----------------...
Pagi yang di sambut ramai orang-orang pesuruh Transo untuk membereskan barang-barang. Acara yang di gelar semalam begitu meriah hingga pagi hari banyak yang masih membersihkan sampah dan Merapikan tempatnya. Lisa memperhatikan dari jendela, segala aktivitas mereka.
Dia melirik ke seorang pemuda yang nampak familiar. Secepatnya Lisa membuka pintu menyambut kehadirannya.
"Dik Kabaya?" Lisa berjabat tangan tersenyum ceria.
"Mbak Lisa, aku sudah berputar-putar sebanyak tiga kali dan menanyakan kepada warga sekitar dimana rumah mu."
Suara tangisan bayi Jaka membuat Lisa berlari masuk ke dalam kamar. Sementara Kabaya duduk di sofa menatap sekitar mengamati patung dan benda-benda antik di dalam sebuah lemari yang terbuat dari kayu Jati.
__ADS_1