Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Calon mayat


__ADS_3

Hati menjerit pilu, suami yang tidak bisa di andalkan dan berhati dingin itu semakin membuat nya kecewa. Jarum jam sudah menunjukkan waktu tengah malam sementara bayi Jaka masih saja menangis. Transo berjalan membawa bungkusan kain hitam lalu membuka pintu tanpa memperdulikan mereka.


"Mas, jam segini kamu mau kemana? anak mu tidak berhenti menangis" ucap Lisa.


Angin berhembus kencang menerbangkan daun dan ranting kering. Pintu rumah masih terbuka lebar namun punggung Transo sudah tidak tampak lagi. Di dalam kegelapan, mata merah bertubuh besar itu kembali hadir menemuinya.


"Arghhh!" teriak Lisa.


Wijaya tiba-tiba hadir menemuinya lalu membantu menutup pintu rumah.


"Lisa, apakah engkau tidak apa-apa?" tanyanya penuh rasa khawatir.


Wijaya meraih bayi Jaka yang masih menangis, begitu lembut dan penuh kasih sayang membuainya hingga tangisan terhenti. Dia menepuk pelan bayi Jaka sambil mengecup dahinya.


"Ayah tidak akan pernah mengijinkan mu bersedih" bisiknya.


"Mas kamu ngapain kesini? buka pintunya.

__ADS_1


Aku tidak mau jadi bahan omongan tetangga. Apakah kamu mau mas, Lisa di cap sebagai wanita tidak baik karena memasukkan pria ke dalam rumah ketidak suaminya pergi" ucap Lisa mendorongnya kemudian menarik batang pintu.


"Baiklah aku akan kembali ke mobil untuk menjaga mu dari luar" jawab Wijaya.


Lisa melihat dari balik jendela, kendaraan Wijaya yang terparkir di dekat rumahnya.


"Mas, kenapa engkau tetap baik dengan ku? Lihatlah hidup mu bagai terlunta-lunta. Engkau berasal dari keluarga terpandang namun engkau tidak pernah lagi merasakan tidur nyenyak dan memilih tinggal di luar" gumam Lisa.


Sesekali Wijaya menjerit dan terganggu ketika tidur di dalam mobilnya. Malam ini, hampir saja dia tercekik oleh iblis yang di kirim oleh Transo.


"Kenapa sulit sekali membunuhnya?" ucap Transo memegang keris.


...----------------...


"Cepat lakukan yang terbaik untuk keselamatan Wijaya!" bentak tuan Admaja di dalam sebuah gubuk bersama pak Sen dan sosok pria berpakaian hitam tua memakai topi blangkon.


Bakaran api menyala di dalam sebuah wadah yang terbuat dari batu. Kemenyan dan asap dupa menyelimuti seluruh tempat itu. Wajah pria itu merah padam, tubuh bergetar lalu bola mata berputar. Dia terbanting, kepala terbentur ke tanah dengan sigap pria itu menegakkan tubuh kembali. Setelah beberapa menit, keadaan tampak kembali normal.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya tuan Admaja.


"Sangat sulit, harus ada syarat yang harus di lakukan!" ucap pria tua itu sambil memperbaiki blangkon nya yang hampir jatuh.


Dia telah mengeluarkan darah hitam kental, tenaga dalamnya hampir habis. Peperangan ghaib di malam itu hampir membuat nyawanya menghilang.


"Cepat katakan apa syaratnya?" tanya tuan Admaja.


"Tumbal!" ucap pria tua tersebut.


"Hei pak tua, setahuku mengenai tumbal adalah seseorang yang menyembah dan meminta kepada iblis untuk kekayaan sedangkan aku memiliki harta berlimpah dengan kerja keras ku sendiri!" bentak tuan Admaja.


"Tuan, sekarang tidak ada waktunya untuk berdebat. Nyawa putra mu sedang di ujung tanduk" ucap pria tua itu.


"Lalu, tumbal apa yang harus aku berikan kepada iblis terkutuk itu?" kata tuan Admaja.


"Jiwa manusia."

__ADS_1


Lilin yang tersusun mengelilingi mereka seketika padam. Suara erangan iblis dan jin bersahutan gelak tawa.


__ADS_2