
“Ayah, dia tidak seburuk yang ayah pikirkan” ucap Wijaya.
Tuan Admaja melempar asbak rokok mengenai pelipisnya. Wijaya sengaja tidak mengelak atau menepis benda yang melayang itu. Dia berjalan mendekat menggenggam tangannya.
“Ayah, beri sedikit saja belas kasihan mu kepada wanita malang itu. Dia menjadi korban kekejaman suaminya sendiri. Tolong jangan halangi aku untuk membantunya” ucap Wijaya.
Tuan Admaja memukul meja dengan keras, matanya melotot menunjukkan ketidak kesetujuannya. Dia memukul wajahnya hingga membengkak mengeluarkan muntahan darah. Tenaga dalam tuan Admaja begitu besar, dia mantan pemain olahragawan yang memenangkan medali kejuaraan di negaranya. Wijaya berbalik meninggalkan ruangan lalu membanting pintu.
“Wijaya!” teriak tuan Admaja.
“Tuan, apakah saya harus menghentikan tuan besar?” tanya pak Sen.
“Tidak perlu. Suatu saat dia akan menyesali perbuatannya” ucap tuan Admaja.
...----------------...
Dua orang pria berpakaian rapi mengetuk pintu dengan sangat keras. Transo membuka pintu sementara Lisa sedang sibuk di dapur menyiapkan air hangat untuk bayi Jaka. Dari depan sana, Lisa mendengar suara tawa Transo dengan beberapa suara pria lainnya. Lisa melihat dari balik pintu, para pria yang berpakaian rapi dengan sebuah koper di atas meja.
__ADS_1
“Apa yang sedang mereka bicarakan?” gumam Lisa.
Lisa membawa gelas di atas nampan, mereka memperhatikan kedatangan Lisa sambil tersenyum membungkuk.
“Selamat pagi mbak” ucap salah satu dari mereka.
“Selamat pagi” sahutnya menggendong bayi Jaka dekat Transo.
‘”Begini, kedatangan kami kesini untuk mengajak pak Transo bekerja kembali ke perusahan, sekalipun rumah ini bukan lagi milik rumah perusahaan” ucap salah satu pria berdasi.
Empat puluh hari yang lalu
Setelah Transo merasa terganggu dengan perkataan orang yang mengatakan dia pria pengangguran yang mendapatkan uang dengan cara pesugihan. Dia menggunakan ilmu gendam untuk menaklukkan para pembesar perusahaan yang pernah memecatnya bekerja.
“Kini mereka berhasil masuk dalam perangkap ku” gumam Transo.
Tanda tangan kontrak kerja pun selesai banyaknya lembar surat dan dokumen bersama kesepakatan kerja. Saat salah satu pria berdasi putih akan meneguk kopi, dia menjatuhkan gelas itu lalu berteriak ketakutan.
__ADS_1
“Arghh! Ada cacing di dalamnya!” ucapnya.
Dua pria lain mencari dan mengamati cacing yang pria berdasi putih itu maksud. Akan tetapi mereka tidak melihat seekor cacingpun.
“Maafkan atas ketidak sopanan kami” ucap pria berdasi hitam.
Mereka berpamitan meninggalkan rumah, di selah gelagat Transo yang mencurigakan tanpa memperdulikan pecahan gelas dan selebaran kertas kontrak kerja yang seharusnya dia simpan dengan baik. Dia menuju kamar rahasianya, dupa dan lilin sudah dia siapkan. Mantra komat-kamit meniupkan angin memadamkan api.
Lisa membersihkan pecahan .gelas, bersusah payah dia menggendong bayi Jaka hingga hampir saja bayinya terlepas dari gendongan. Rengekan bayi Jaka, suara tangis tidak bisa berhenti sekalipun Lisa sudah menenangkannya. Transo keluar dari kamar, dia mendengus kesal lalu membisikkan kata-kata yang menyakitkan di telinga Lisa.
“Berisik! Kau jadi ibu kenapa tidak becus mengurus anak? Aku sedang melakukan ritual!”
“Mas! Ini anak mu! Setelah kelahirannya, engkau tidak pernah menyentuh atau menimangnya” ucap Lisa.
Lisa memasuki kamar kemudian berusaha menenangkan bayi Jaka yang tidak bisa berhenti menangis. Semalaman bayi mungil itu masih menangis hingga suaranya sama-samar dalam tangisan.
“Lisa, kenapa dia tidak bisa berhenti menangis? Aku tidak mau tangisannya memicu para makhluk di luar sana masuk ke rumah ini” kata Transo dari dalam kamarnya.
__ADS_1