Lingkaran Tipu Daya Setan

Lingkaran Tipu Daya Setan
Menggerogoti iman


__ADS_3

Meskipun keadaan ustadz Ali belum berangsur membaik, tubuhnya tidak pernah meninggalkan sholat. Kulitnya selalu basah dengan air wudhu. Sampai pada hari ini kerinduannya melantunkan suara adzan membuatnya berjalan ke Surau meskipun langkah tertatih.


Dia terkejut melihat keadaan di dalam Surau yang tampak kosong dan tidak terawat. Hanya bagian depan saja yang tersapu bersih. Seorang pria meletakkan gagang sapu ketika melihat kehadirannya. Senyuman lebar, sapaan bersama jabatan tangan.


“Assalamualaikum ustadz, bagaimana keadaan ustadz sekarang?” tanya pria itu.


“”Walaikumsalam, saya masih di dalam masa pemulihan. Pak, sekarang sudah hampir waktunya sholat zuhur tapi surau masih tampak sepi” ucap ustadz Ali.


“Sebenarnya para warga sedang ketakutan dengan ilmu hitam Transo. Terlebih lagi setelah ustadz sakit, mereka semakin ketakutan dan tidak berani keluar rumah saat mulai mulai petang.”


“Astagfirullah al’adzim.”


Lantunan sayup-sayup suara adzan menggema di perkampungan yang kini menjadi momok menakutkan dengan sihir dan teluh. Suara itu bagai memecah telinga para setan yang berada di dekat Surau yang sering menghantui para warga ketika melaksanakan ibadah. Ranting dan dahan pohon jatuh tanpa ada angin yang menerpa.


Satu-persatu langkah para warga berbondong-bondong memasuki Surau.


Selesai melaksanakan sholat, mereka berkumpul membicarakan mengenai keresahan warga akan ilmu hitam Transo dan segala penampakannya. Ustadz Ali menyarankan akan malam ini melaksanakan sholat hajat, membaca Al’Quran dan dzikir panjang dengan harapan agar mereka dapat perlindungan dan keselamatan dari Allah Yang Maha Esa.


Di balik tirai kegelapan, seperti biasa si dukun iblis memainkan peran mengganggu orang-orang yang akan mendekatkan diri pada sang Khalik. Dia mengucapkan mantra di atas bakaran kemenyan lalu meniupkan sihir di udara. Gangguan dari makhluk astral, batang pohon menjatuhi atap Surau hingga reruntuhannya hampir mengenai orang di dalamnya. Mereka yang kaget dan ketakutan langsung berlari berhamburan keluar hingga pulang tanpa memakai alas kaki.


“Awas ada ilmu hitam Transo!” teriak para warga ketakutan.


Ustadz Ali berusaha menenangkan para jamaah yang lain. Mereka membersihkan reruntuhan dan atap yang hancur. Meski sudah di serang gangguan ghaib, ustadz Ali menyarankan agar mereka meneruskan ibadah agar melawan serangan ilmu tersebut.


“Kurang ajar! Kenapa mereka masih berani melawan ku!” pekik Transo.


Dia kembali menyerang menancapkan keris ke tanah, seketika angin berhembus kencang menghantam Surau di iringi suara burung gagak ramai berterbangan di atasnya. Di dalam Surau, ustadz Ali tiada henti melantunkan ayat suci Al’Quran bersama para jamaah lain.

__ADS_1


“Allahuakbar!” ucap sang ustadz.


Seketika ilmu Transo terhempas menjatuhkan pertahanan tubuhnya. Dia mengeluarkan muntahan darah, para pengikutnya membantunya berdiri namun amarah Transo yang menggelegar membuat dia menghajar mereka hingga babak belur.


“Pergi! Jangan ganggu aku bersemedi!” pekik Transo.


...----------------...


Mimpi buruk Lisa.


Malam yang penat untuk jiwa yang kelelahan, dunia neraka tidak pernah merasakan setipis senyuman di sudut bibirnya. Di alam bawah sadar, Lisa berdiri di antara keramaian orang-orang yang sedang berlalu lalang. Seolah tidak ada yang melihatnya bahkan tubuhnya bisa di tembus oleh salah satu pejalan kaki.


“Ada apa dengan ku?” gumamnya menggerakkan tubuh menyentuh salah satu wanita yang berhenti di dekatnya.


“Ibu, gendong lah aku!” suara sosok bayi berwujud mengerikan merangkak menarik bajunya.


Kakinya di tarik paksa hingga dia tidak bisa bergerak, dari arah belakang terdengar suara tawa Transo lalu menyentuh pundaknya. Lisa menghentakkan tubuh, menendang bayi mengerikan itu lalu berlari menyusuri jalan yang gelap. Dia sangat ketakutan hingga tersandung kemudian tergelincir ke dalam jurang.


“Argghh! Tolong!”


Suasana di dalam jurang yang tidak asing baginya. Tempat yang terkutuk yang selalu menghantui hidupnya. Jurang tempat pohon raksasa, akar-akaran terlihat seolah tampak hidup bergerak melilit tubuhnya. Lisa di bawa tepat di depan pohon, ada Transo yang sudah menunggunya bersama sosok bayi yang mengganggunya tadi.


“Lisa, dia adalah anak mu! ahahah!” ucap Transo.


“Tidak! Dia bukan anak ku!” jawab Lisa memberontak berusaha melepaskan diri.


Perlahan sosok bayi itu berdiri menyeringai menatapnya. Aroma amis menyengat, lendir tanpa henti menetes, dia menusuk bola mata Lisa dengan ujung jarinya yang tajam. Sambil tertawa terbahak-bahak. Lisa kesakitan mengerang di sela tubuhnya yang masih terikat akar semakin kuat seolah sudah mematahkan tulang-tulangnya.

__ADS_1


“Arrghh! Arghh!”


...🔥🔥🔥...


“Nyonya bangun! Nyonya Lisa!” ucap Sen.


Lisa terbangun dari mimpinya, dia kesakitan sangat sulit untuk bergerak. Sen berlari memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya. Lisa terlihat sudah jauh lebih tenang, wanita itu meminta Sen agar jangan membangunkan Wijaya atau memberitahu mengenai keadaannya. Kaki tangan Wijaya itu mengangguk setuju lalu meminta ijin untuk pergi.


Di dalam ruangan dia melamun akan mimpi yang terasa nyata baginya. Di dalam benak berpikir ternyata sosok bayi yang dia lahirkan adalah bayi setan yang ingin membunuhnya. Lisa kini mengkhawatirkan nasib Jaka. Teras suhu tubuh Lisa terasa panas seolah ada akar hidup di dalamnya. Gerakan akar itu menonjol di bagian kedua lengan tangannya.


“Ada apa dengan ku?” gumam Lisa mengusap lengan dengan gerakan cepat.


Dia melepas paksa infus lalu perlahan berjalan sambil memegang perutnya yang masih terasa sangat sakit. Di dalam kamar mandi, dia bercermin melihat akar pohon hidup itu menjalar sampai di sekujur tangan. Lisa mengusap, menggaruk bahkan menyayat kulit tangannya sendiri berusaha mengeluarkan akar tersebut.


Seorang suster yang mengetahui hal itu langsung berlari minta tolong ke para petugas medis lainnya. Lisa di bawa keruang UGD di damping oleh dokter Pram dan Sen. Kabar mengenai Lisa belum terdengar oleh Wijaya, dia seolah menghilang setelah terakhir kali berbincang-bincang dengan Sen di dalam ruangan kerjanya. Penanganan Lisa selama dua jam berhasil melewati masa kritisnya. Dokter Pram mengernyitkan dahi menanyakan informasi mengenai Lisa dengan pandangan sinis.


“Tuan Sen, apakah hubungan nyonya Lisa dengan dokter Wijaya? Kenapa saya melihat beliau memperlakukannya secara khusus?” tanya dokter Pram.


“Mohon maaf dok, tapi saya tidak bisa memberitahu kepada orang lain mengenai urusan pribadi dokter Wijaya. Silahkan dokter tanyakan secara langsung pada beliau” ucap Sen.


“Ya baiklah kalau begitu, saya berharap semua hal yang menimpa nyonya Lisa bisa segera selesai. Sejujurnya saya melihat kekacauan setelah kehadirannya disini.”


“Apa maksud dari perkataan dokter?” tanya Sen.


“Saya mengetahui semuanya. Ironisnya lagi saya mendapatkan informasi kematian para suster akibat ilmu hitam yang mereka bawa. Tuan Sen, jika hal ini terus berlanjut maka kemungkinan Rumah sakit ini akan di tutup” ucap Pram lalu pergi berlalu.


Sen mengamati sikap dokter Pram yang sangat mencurigakan. Dia teringat akan suster Cindi sebagai orang kepercayaannya. Sen pun menelepon Toni agar dia dan kedua para algojo berjaga ketat rumah terutama Jaka dan suster Sese.

__ADS_1


__ADS_2