
"Mama...Papa...tidak! Mama, papa! Jangan tinggalkan aku sendiri! Maaa! Pa!"
Hhhhh!
Mimpi sialan itu lagi! Karena kemarin emosiku terkuras. Aku merasa bodoh karena mereka berhasil menipuku. Mereka berhasil mempermainkanku dan tertawa di belakangku.
"Max, kamu baik-baik saja?" Tanya Lea kepadaku.
Anehnya, aku merasa lemas saat wanita ini pergi. Jadi aku menahannya. Entah siapa yang mendorongku melakukan itu, aku pun tidak tau.
"Tidak usah pedulikan aku!" Tukasku menghardiknya. Aku cukup sakit hati kepadanya. Kenapa juga aku bisa jatuh ke dalam permainannya? Tapi aku juga tidak bisa jauh darinya. Aku akan tetap menjaga wibawaku.
Lea mengusap keringatku, "Jangan bergerak dulu! Aku akan mengelap keringatmu. Apa kamu bermimpi buruk?" Tanyanya tanpa mempedulikan gertakanku.
"Max, kamu sudah tau identitas asliku. Hanya kamu yang mengetahuinya. Saat bentol-bentol Eleanor muncul, itu hanya dugaan saja yang melakukannya kami. Itu benar, tapi kami tidak pernah membuka identitas kami di depannya." Ucap Lea.
"Aku tidak peduli mau siapa pun kamu atau kalian! Aku hanya ingin mimpi ini hilang!" Aku mencoba menggertaknya kembali.
"Apa mungkin karena ada aku jadi kamu bermimpi buruk? Ijinkanlah aku disini sebentar lagi sampai aku mendapatkan uang. Mungkin setelah aku dan Rue pergi, kamu tidak akan bermimpi buruk lagi." Jawab Lea.
"Apa sepenting itu uang untuk kalian?" Aku bertanya kepadanya.
"Oh, tentu saja. Tujuan kami turun ke bumi memang untuk menetap sementara di bumi maka itu kami butuh uang untuk kami bertahan hidup disini kan?" Lea balik bertanya.
"Apa yang kamu bisa?" Tanyaku lagi.
"Aku bisa apa saja. Di tempat asalku, aku bisa membuat madu, aku bisa membantu kembang sari bunga untuk menempel di putik, aku bisa membantu orangtuaku bertambang emas. Aku juga bisa memasak." Jawab Lea.
"Pekerjaan macam apa itu? Mendengar ceritamu aku jadi mengantuk. Aku tidur. Kamu tidurlah kembali!" Sahutku.
Mungkin karena suaranya yang seperti pendongeng dan ceritanya yang di luar akal sehat, membuatku mengantuk sekali tiba-tiba. Aku kembali ke ranjangku dan tidur. Semoga mimpi burukku tidak datang lagi.
...----------------...
Pagi harinya, aku terbangun karena suara berisik dan bau harum masakan berhasil tembus ke kamarku. Aku tidak pernah meminta siapa pun untuk masak. Siapa yang memasak? Lea!
Aku bergegas turun dari ranjangku dan memanggilnya, "Lea! Lea!" Sahutku.
Aku melihat Lea dan pengawalnya sedang menerbangkan sayuran yang sedang dipotong dengan pisau, bumbu-bumbu yang memercikkan diri mereka sendiri ke dalam panci, piring dan panci-panci sambil dengan santainya mereka mengobrol.
Wait! Piring terbang? Panci terbang? Sayuran terpotong sendiri?
Aku memutuskan untuk merebahkan diriku sebentar lagi, aku rasa aku kurang tidur. Aku kembali ke kamarku dan merebahkan diriku kembali. Sampai 5 menit kemudian, aku kembali beranjak dari ranjangku dan keluar kamar.
Aku melihat Lea dan pengawalnya sedang menikmati sarapan. Lea menangkap tatapanku, "Pagi Max. Mau sarapan bersama?" Tanya Lea dengan santai.
__ADS_1
Aku masih meyakinkan diriku sendiri apa tadi hanya mimpiku atau itu benar mereka yang melakukannya? Aku tersenyum, dan mendekati mereka. Dengan takut-takut aku duduk berhadapan dengan mereka.
"A...apa yang kalian makan? Apa kalian membelinya?" Tanyaku.
Mereka menggeleng, "Kami membuatnya sendiri. Cobalah. Maafkan kami tadi memakai peralatan dapurmu, tapi sudah kami bersihkan kembali kok." Kata Lea lagi sambul menyeruput sup jagungnya.
Lea kemudian mengambilkan semangkuk sup untukku dan beberapa lembar roti panggang dan meletakannya di hadapanku, "Makanlah." Katanya.
Dengan ragu aku menyuapkan sesendok sup ke dalam mulutku, "Hmmm...ini enak." Kataku tanpa kusadari begitu saja keluar dari mulutku. Dan seperti tersihir, aku menyuapkan sendok demi sendok ke dalam mulutku hingga mangkuk itu bersih.
Lea menatapku sambil tersenyum lebar, "Sudah kukatakan kepadamu tidak ada yang tidak bisa kulakukan." Sahutnya.
Tanpa sadar, aku melukiskan senyuman untuknya.
...----------------...
Lea POV
"Lea! Bagaimana menghilangkan bentol-bentol ini?" Tanya Eleanor ketakutan sore itu, saat Max mengetahui kebohongan kami.
Karena kesalahan kami itu, aku harus memohon kepada Max nanti agar aku boleh diijinkan tinggal disana sementara, atau bahkan aku akan ikut dengan Eleanor saja.
"Aku tidak tau. Mungkin ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari kami." Sahutku.
"Ayolah Lea! Rue!" Desaknya.
"Kenapa kamu membongkarnya?" Tanya Vivi kepadaku.
Jari telunjuk Eleanor terulur ke arahku, "Benar! Kenapa kamu tega membocorkan hal ini?" Katanya mendukung Vivi.
"Apa pernah aku menghianati kalian?" Tanyaku kepada Vivi dan Rose.
Mereka menggeleng.
"Apa kamu tau, dengan siapa saja Max berbicara?" Tanya Eleanor.
Aku mengangkat bahuku, "Aku tidak tau. Hanya saja dia sering berbicara dengan seseorang lewat kotak yang bisa berbicara itu. Apa namanya itu? Ponsel." Sahutku.
Senyum Eleanor tersungging di wajahnya, "Nelson." Katanya dalam bisikan.
"Perjanjian apa yang Max maksudkan?" Tanyaku penasaran.
"Itu rahasia antara keluargaku dan keluarga Max." Jawabnya.
"Kenapa kamu banyak berbohong kepadaku, Eleanor? Aku pikir kamu teman kami?" Tuntutku.
__ADS_1
"Kamu terlalu naif, Lea. Tapi pada akhirnya Max mengetahuinya karena aku tidak senekat kamu yang berani bertanya ini dan itu." Jawab Eleanor.
"Kenapa kamu bisa menyukainya?" Tanyaku lagi.
Blush!
Wajah Eleanor memerah, "Max teman mainku sedari kecil. Dulu dia tidak seperti ini. Suatu hari orangtuanya dibunuh oleh sekawanan mafia di depan matanya. Setelah itu dia tinggal bersama keluarga kami, orangtuaku mengasuhnya sampai Max sudah cukup umur, dia berpamitan untuk merantau. Yang terakhir kutau adalah, orangtuaku terlibat hutang dsn ternyata penagih hutangnya adalah orang suruhan Max. Setelah tau hal itu, orangtuaku dan Max membuat suatu perjanjian." Jelas Eleanor
Apakah dia bisa di percaya entah kenapa aku ragu mendengar ceritanya, "Apa kamu berkata jujur?" Tanyaku menyelidik.
"Itu terserah padamu kan, mau percaya atau tidak." Katanya santai.
"Aku akan pergi!" Sahutnya lagi.
"Kenapa kamu tidak kembali kepada Max?" Tanyaku.
"Untuk apa? Dia sudah mengusirku dan membatalkan semua perjanjian kami. Untuk apa aku disana? Aku tinggal mencari bukti kejahatannya saja dan lagi hutang orangtuaku sudah kulunasi, aku berhak memperoleh kebebasanku." Jawab Eleanor.
Aku menghela nafas panjang dan mengikuti Eleanor. Dia menoleh memandangku, "Kenapa kamu mengikutiku?" Tanya Eleanor.
"Aku tidak punya tempat tujuan lagi. Aku belum bisa kembali di tempat asalku, jadi kami akan mengikutimu kemana pun kamu pergi." Jawabku tertunduk. Begitu juga dengan Vivi dan Rose.
Eleanor tampak gusar, "Terserahlah. Orang akan mengenali Vivi dan Rose. Tapi tidak denganmu dan dia." Katanya sambil menunjuk ke arah Rue.
"Kami akan cepat dikenal, kamu bisa tenang." Sahut Rue. Eleanor melihat Rue, benar juga. Karena Rue berbadan tegap dan tinggi sekali. Warna kulit Rue tidak putih tidak juga hitam. Dengan mata berwarna biru cemerlang, seperti ada ombak di bola matanya. Akan mudah menarik perhatian banyak orang memang.
Eleanor memperhatikanku, Vivi dan Rose, "Aku tidak tau darimana asal kalian. Kalian mencolok sekali." Sahutnya, "Baiklah, ikut aku." Kata Eleanor akhirnya, berbaik hati.
Aku dan teman-temanku saling memandang dan tersenyum lebar.
Namun, tiba-tiba ada yang menahan tanganku.
Aku menoleh, "Max?" Tanyaku.
"Jangan pergi. Tetaplah disampingku." Katanya. Wajahnya tersipu.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Karena sepertinya rumahku akan sepi tanpa kehadiranmu, Lea." Jawabnya.
Deg
Deg
Debaran ini lagi...
__ADS_1
...----------------...