
Max POV
Setelah kematian Nelson aku seorang diri di tempat seluas ini. Aku tidak tau kemana Eleanor, kemana anak buahku, dan kemana hartaku akan kuserahkan.
Ada seorang kawan yang menyarankanku untuk ke kota besar di barat untuk mencoba berbisnis disana,
"Untuk apa aku berbisnis?" Tanyaku.
"Lalu apa yang mau kamu lakukan disini? Bercocok tanam atau berkebun? Sayang sekali kemampuanmu Max." Sahut temanku itu.
Aku memikirkan ucapannya, benar juga apa yang akan aku lakukan di kota kecil ini? Tidak ada seorang pun disini! Setelah pertempuran itu banyak warga sini pergi untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Aku tidak melarangnya, itu hal yang sangat wajar dan manusiawi.
"Baiklah, bantu aku Ed untuk memulai semunya dari awal." Ucapku.
"Pasti! Kita tinggalkan tempat penuh kenangan ini." Ucap Ed.
"Aku hanya ingin mencari seseorang disana. Mungkin saja dia disana." Sahutku.
Ya, aku bertahan selama setahun disini hanya untuk menunggu Lea. Aku takut dia akan menyusulku disini dan aku tidak ada.
Ed kemudian menatapku seakan mengscan wajahku, "Hmmm...kamu harus merubah penampilanmu Max." Kata Ed.
"Untuk apa?" Tanyaku.
"Astaga! Tidak akan ada orang yang percaya kalau kamu mempunyai banyak uang jika penampilanmu seperti ini! Percayalah padaku." Ucap Ed lagi.
"Memang bagaimana penampilanku? Aku merasa baik-baik saja." Sahutku tersinggung.
"Kamu seperti seorang buronan yang menyeramkan dan sangat lusuh Max! Rambutmu tak ada bedanya dengan rambut kelapa, kulitmy kusam tak terawat, pakaianmu aku tidak bisa berpendapat lagi. Kamu butuh sentuhan seorang wanita. Ikut aku! Kita akan bersenang-senang." Seru Ed dan menarik tanganku untuk segera masuk ke dalam mobilnya.
Di dalam perjalanan aku memasrahkan diriku di tangan Ed. Kalau dia macam-macam denganku maka aku akan segera menghabisinya.
Ed membawaku ke kota besar, kota ini jauh lebih ramai dari kota yang aku tinggali. Gedung-gedung bertingkat menjulang tinggi dan memenuhi kota ini, suara kendaraan yang sangat bising dengan cepat masuk ke dalam auditoriku. Belum lagi orang berlalu lalang dan berjalan dengan cepat entah mau kemana dan mau bagaimana.
Tak lama mobil kami berhenti di sebuah pusat perbelanjaan yang sangat megah, "Ikut aku dan kali ini aku yang akan menjadi bos." Ucap Ed.
"Baiklah." Sahutku. Aku melihat ke sekeliling tempat itu, lampu yang besar dan terang sekali, musik terdengar di seluruh penjuru tempat megah itu.
Ed membawaku, lebih tepatnya menarik tanganku ke sebuah salon. Begitu aku masuk ke dalam tempat yang bernama salon itu harum yang aneh menusuk hidungku.
"Uhuk! Uhuk!" Aku terbatuk-batuk ketika ada sesuatu yang masuk ke dalam hidungku. Aku mengibaskan tanganku untuk menghalau bau wangi itu.
Ed menarikku untuk duduk, "Duduk disini dan tolong turuti kata-kata orang yang akan memegangmu." Ujar Ed.
Selesai Eddie bicara, seorang pria manis mendatangiku dan mengusap rambutku, "Mau diapakan ini?" Tanya pria manis itu.
__ADS_1
"Terserah, aku mau dia harus seperti manusia yang terlahir kembali, fresh from the oven." Jawab Ed.
Aku mengerutkan keningku dan pasrah.
Setelah kurang lebih dua jam aku duduk disitu dan akhirnya, "Taraaaa! Bagaimana? Suka? Suka pasti! Kamu sebenarnya seksi dan tampan loh! Gemes jadinya." Kata pria manis itu mencubit pipiku.
Eddie yang baru saja membaca segera melihatku dan terperangah, "Max! Astaga! Eleanor akan menyesal kalau melihatmu! Ya sudah sana bayar!" Seru Eddie.
"Kenapa aku yang harus membayar?" Tanyaku heran.
"Kan kamu sudah berubah menjadi tampan, jadi kamu yang bayar. Cepatlah sedikit, jadwal kita padat!" Tukas Ed lagi.
Sialan Ed ini! Tanganku kembali di tarik oleh Ed dan sekarang pemberhentian kami di toko pakaian. Ed kembali meminta pegawai di toko itu untuk memilihkan pakaian untukku.
Pegawai itu memilihkan beberapa jas dan kemeja juga dasi, namun Ed memintaku untuk membeli semua yang ada di toko tersebut.
"Hei! Hei! Aku bangkrut! Bagaimana mau membuat perusahaan jika uangku sudah kamu habiskan untuk hal-hal yang tidak berguna seperti ini!" Tukasku kesal.
"Kamu lihat saja pesonamu, wanita-wanita itu memandangmu tanpa berkedip." Jawab Ed santai.
Akhirnya tibalah kami di suatu tempat makan, "Aku akan mengenalkanmu kepada seorang temanku. Kebetulan dia juga ingin mencari partner untuk perusahaan barunya. Sebentar lagi dia akan datang." Ucap Ed.
Aku tidak peduli dengan itu! Pikiranku melayang kepada Lea, dimana dia? Apa yang sedang ia lakukan? Apakah dia kembali ke atas awan? Aku sangat merindukannya.
Tak lama seorang pria seumuranku datang, berkulit tidak hitam tidak juga putih yang mengingatkanku pada Rue. Hatiku serasa dicubit sakit sekali, mengingat Rue otomatis aku kembali mengingat Lea.
Aku berdiri dan mengulurkan tanganku juga, "Aku Max." Jawabku.
Bradley seorang pria yang periang, senang berbicara dengannya. Tapi sepertinya otakku membeku karena terlalu lama berteman dengan Nelson dan aku tak pernah belajar tentang bisnis.
"Aku mempunyai dua pegawai baru. Mereka adik kakak dan manis-manis. Mereka nantinya akan kutempatkan di perusahaan baruku ini. Aku mau kamu Max yang menjadi CEOnya karena sahammu lebih dari lima puluh persen, bagaimana?" Tanya Bradley.
"Kamu saja yang mengatur semuanya, aku percayakan kepadamu." Ucapku tak mau ambil pusing.
Bradley menganggukkan kepalanya, "Baiklah kalau begitu. Besok kita akan bertemu dengan seluruh tim. Bersiaplah Max. Senang mengenalmu." Kata Bradley.
***
Keesokan harinya, seperti janji Bradley dia sudah menungguku di sebuah gedung tinggi menjulang.
"Ed, aku tidak suka ini." Sahutku.
"Aku yang akan mengikuti pertemuan itu. Kamu cukup bermain di balik layar sambil belajar." Jawab Ed.
"Bolehkah begitu?" Tanyaku.
__ADS_1
Ed mengangguk, "Bradley seorang yang professional dalam bekerja, dan dia cukup asik untuk dijadikan teman. Tidak ada salahnya kamu berteman dengan dia." Ucap Ed lagi.
Aku menanggapinya dengan malas, "Ya." Jawabku.
Ed melemparkan kotak kepadaku, "Itu ponsel, sudah ada nomor di dalamnya, pakailah." Kata Ed.
Aku melemparkan kotak itu kembali, "Aku tidak butuh itu." Sahutku.
Ed menjitak kepalaku, "Kamu akan membutuhkannya! Lalu bagaimana caramu kalau ingin menghubungi seseorang? Telepati?" Tanya Ed galak.
Telepati mengingatkanku kembali pada Lea, aku segera mengambil kotak itu lagi, "Aku sudah punya ini tapi sekarang tidak berguna lagi untukku karena aku sudah tidak punya siapapun yang ingin kuhubungi." Ucapku.
Aku menenggelamkan wajahku pada kedua tanganku, "Aku hanya ingin bertemu dengannya Ed." Sambungku lagi.
Ed menghampiriku, "Eleanor maksudmu? Buang saja wanita tidak tau di untung seperti itu!" Katanya.
Aku meraup mulutnya, "Berhentilah mr. Sok Tau." Tukasku gusar, "aku tidak membicarakannya. Aku sedang merindukan Lea. Aku rindu sekali kepadanya." Sambungku lagi.
"Lea? Siapa dia?" Tanya Ed.
"Sudahlah!" Aku berjalan menuju lemari pendingin dan mengambil sebotol bir kemudian aku menenggaknya.
"Dia cinta sejatiku Ed. Saat kejadian itu, aku memintanya untuk pergi karena kupikir aku akan mati dan aku takut dia juga mati. Ternyata aku hidup! Lebih baik aku mati kan?" Tanyaku kepada Ed.
"Pegawai baru Bradley bernama Lea. Nama Lea termasuk asing dan tidak banyak orang mem..."
"Benarkah? Benarkah itu Ed? Aku akan datang ke pertemuan itu." Sahutku.
Dengan semangat aku merapikan diriku sendiri. Aku memakai pakaian terbaikku dan kurapikan rambutku sedemikian rupa.
Ed sangat senang melihatku bersemangat. Jantungku tidak melambat sedikit pun saat nama Lea disebut oleh Ed.
Sesampainya disana Bradley sudah menyambut kami dengan senyumnya yang menawan.
"Hai Max. Kupikir kamu tidak akan datang dan digantikan oleh Ed." Ucap Bradley.
Aku tersenyum dan mencari berkeliling dimana Lea.
"Duduklah, sebentar lagi tim kita akan datang." Kata Bradley.
Aku mengangguk dan duduk di tempat yang sudah ia tempatkan.
Tak lama seorang pria tinggi, bermata biru laut serta seorang gadis mungil berkepang dua berjalan ke arah kami.
Lea...itu Lea!
__ADS_1
Aku mendekati dan memeluknya, "Lea! Aku merindukanmu! Syukurlah kamu masih hidup!" Sahutku dan aku bersumpah aku tidak akan pernah melepaskan Lea lagi.
...----------------...