
Anthem POV
Pertengkaran Matt dan Lea telah memasuki babak baru dan sangat merepotkan. Aku yang di repotkan, tentu saja. Sore itu, Rue datang tergopoh-gopoh ke rumahku. Karena terlalu panik, ia datang tidak lewat pintu dan tidak mengetuk pintu rumahku, alih-alih pintu rumah, ia mengetuk jendela rumahku yang berada di lantai dua.
Tuk! Tuk!
"Anthem!" begitu sapanya.
Awalnya aku tidak mendengar panggilan Anthem, karena aku sedang membantu Alesya membersihkan rumah. Kemudian aku mendengar suara ketukan di jendela, aku pikir itu adalah seekor burung yang meminta remahan roti atau biskuit.
Jadi aku ke atas dengan membawa segenggam remah roti dan biskuit. Dan betapa terkejutnya aku ternyata yang kulihat bukan sayap burung, melainkan sayap Rue.
"Bodoh sekali! Kamu bisa datang lewat pintu!" tukasku.
Rue memandangku dengan aneh.
"Tidak perlu tertawa, aku sedang membantu istriku!" aku menyampirkan kain lap di sekitar leherku, dan memakai head band untuk melindungi mata dari rambutku yang suka terjatuh.
"Dan lagi, jika kamu sudah menikah nanti lalu kamu membantu istrimu maka ketampananmu akan bertambah bahkan ketampananmu mampu menyinari dunia," jawabku bangga.
Rue tampak mual sekali saat aku bicara seperti itu.
"Baiklah ada perlu apa kamu kesini dan datang lewat jendela seperti ini?" tanyaku.
"Lea akan membuang Matt di tengah langit," jawab Rue singkat.
"Hah!! Wanita gila itu! Dimana pikirannya! Ayo cepat kita berjaga-jaga di sekitar langit!" ucapku.
Tak lama aku dan Rue sudah melayang menunggu Matt. "Kenapa Lea bisa semarah itu? Maksudku wajar saja jika manusia mabuk kan memang pasti berbuat kebodohan. Aku sering melihat Alesya begitu saat aku belum mengenalnya," ucapku.
Rue mengangkat kedua bahunya. "Mungkin ada kesalahan lain yang di lakukan oleh Matt yang membuat Lea sangat marah," balas Rue.
Aku berpikir. Ini sulit, karena Matt tidak mudah mengungkapkan perasaan cintanya apalagi setelah ia berbuat kesalahan. Ia akan menjauh, bukan mendekat.
Aah, ribet sekali!
"Anthem, itu dia!" Rue menunjuk ke arah 200 meter di sampingku.
Benar saja, si bodoh itu!
"Lea! Waaaaa!" Matt berteriak ketakutan, tapi Lea menjauh dan terbang ke atas.
Aku dan Rue melayang dengan cepat,
__ADS_1
Bruk!
"Ouch! Kau berat sekali, Matt. Aku pikir ini berat dosamu, terbanglah sendiri!" tukasku.
Rue memberikan Matt bubuk terbang, dan aku mengajaknya ke rumahku, dengan syarat :
"Kalau kakimu kotor, jangan injak lantai itu! Melayanglah kalian!" perintahku.
Rue dan Matt saling berpandangan dan melayang sampai ke ruang makan.
"Bagaimana kamu bisa di buang oleh Lea di tengah langit seperti itu, Matt?" tanyaku.
Aku memberikan mangkuk kecil sebagai wadah kepada kedua temanku saat mereka menggigit biskuit. Aku tidak mau remahannya terjatuh ke lantai.
Matt menceritakan kejadiannya kepada kami. "Begitulah ceritanya," kata Matt.
Aku dan Rue mengangguk-angguk. "Kalau jawabanmu seperti itu, aku setuju dengan Lea. Kamu egois sekali, Matt!" ucap Rue sambil menyesap susu putih hangat yang telah kusiapkan.
"Kenapa kamu membela Lea? Aku adalah korban disini!" kata Matt berseru.
"Bukan itu masalahnya. Kalau berbicara soal korban, jelas Lea korban sesungguhnya. Apa yang telah kamu lakukan, membuatnya sangat terluka. Bahkan mungkin ia harus memperbaiki hatinya yang sudah kamu lukai," Rue menambahkan.
"Matt, sebenarnya kamu ingin kembali dan menikah h dengannya. Namun, tidak ada yang kamu korbankan. Itu namanya egois," aku ikut menyambung pendapat Rue.
Matt terdiam dan menganggukan kepalanya. "Pukul aku yang kencang," pinta Matt tiba-tiba.
Aku dan Rue saling berpandangan dan mengerutkan kening kami, tidak paham apa maksud Matt.
"Untuk apa?" tanyaku.
"Pukul saja," tukas Matt lagi.
"Baiklah kalau itu yang kamu minta, aku tak akan ragu melakukannya tapi jangan menyesal," kataku.
Matt mengangguk. Aku mengambil tongkat pemukul bisbol milik Leslie. Dan Matt panik. "Hei! Hei! Untuk apa itu?" tanyanya menghindar.
"Memukulmu," jawabku santai.
Matt mengambil tongkat bisbol dari tanganku. "Ini namanya membunuhku bukan memukul, lakukan dengan tangan kosong atau carilah barang yang,-"
Buughhh!
"Ouch! Brengsek! Sakit!" seru Matt.
__ADS_1
Rue memukulnya dengan tangan kosong, dan sekarang wajah Rue sangat puas. "Bagaimana Matt? Seperti itu?" tanya Rue polos.
Aku tertawa terbahak-bahak melihat mereka. Matt hanya minta di sadarkan, karena dia tau dia melakukan kesalahan yang bodoh dan hampir saja kehilangan seseorang yang luar biasa yang di cintainya.
Aku dan Rue mengantar kembali Matt ke atas, ke tempat Lea. Pengawal berkata kalau Nona Lea sedari tadi bermain bersama duyung.
Tidak biasanya Lea bermain bersama duyung. Rue memandangku dengan bingung. Kami segera ke.pantai para duyung dan benar saja, Lea ada disana.
Namun, ia tidak bermain bersama duyung. Ia sedang menyiksa seekor kepiting hitam, atau lebih tepatnya Hades dalam bentuk kepiting.
"Nona, hentikan itu. Kasihan kepitingnya," pinta Sirine, ia menatap Hades dengan tatapan kasihan.
"Aku benci dia! Karena dia, Matt berubah menjadi tidak punya hati dan kami gagal menikah!" jawab Lea sambil mencebur-ceburkan Hades ke dalam pasir dan ke dalam air bergantian.
Hades yang malang, dia tidak punya kesempatan bernafas. Aku mengambil tongkatku, mengibaskannya, dan membantu Hades melepaskan diri dari Lea.
"Bagaimanapun dia adikku, Lea. Dan kami tidak gagal menikah," ucapku.
"Bicaralah kembali kalian berdua, aku akan menunggu bersama Wren. Dimana ayahmu, Lea?" tanyaku.
"Sedang membantu ibu memasak karena aku meminta ibu untuk membuatkanku sup kepiting jagung untuk makan malamku nanti," kata Lea enteng.
Aku mengajak Rue menemui Penguasa. "Mereka sama-sama belum dewasa dan masih sangat egois, biarkanlah mereka bicara apa yang mereka inginkan ke depannya," sahutku.
"Kau semakin dewasa, Anthem. Aku bangga kepadamu," ucap Rue.
Aku tersenyum bangga. Hidup mengajarkanku untuk lebih dewasa, apalagi jika kamu tinggal di bumi, kalian akan dewasa lebih cepat. Keras sekali kehidupan di sana.
"Anthem! Rue! Kejutan yang menyenangkan," sapa Wren begitu melihat kami.
"Apakah Lea bersama Matt?" bisik Raja Wren.
Aku mengangguk. "Biarkanlah mereka sama-sama mendewasakan diri mereka, Wren," ucapku menenangkan Wren yang jelas tampak khawatir.
"Aku tidak tau apa yang terjadi tapi kuharap Matt sanggup menekan egonya. Kalau memang dia mencintai anakku, maksudku," kata Raja Wren.
Aku tersenyum kecil. "Matt mencintai Lea. Kita lihat saja bagaimana hasilnya. Aku rasa selama mereka saling mencintai mereka punya kesempatan untuk terus bersama walau pun nantinya akan banyak keributan yanh terjadi tapi itu justru bagus, kan?" jawabku.
Raja Wren mengangguk. "Benar katamu. Selama mereka saling mencintai apa pun pasti berhasil mereka.lewati. Anthem, makan malamlah disini, ajak Alesya. Istriku memasak sup kepiting sekuali besar," kata Raja Wren lagi menawarkan.
"Hahahaha. Aku bisa mencium wanginya, nikmat sekali. Baiklah, aku akan menjemput Alesya setelah ini dan mengajaknya makan bersama disini. Dia pasti akan senang," sahutku tersenyum.
Sebelum turun ke bawah, aku mengintip Lea dan Matt. Mereka masih saling cemberut tapi aku yakin itu tak akan lama. Berjuanglah, Matt karena Penguasa punya rencana besar untukmu.
__ADS_1
...----------------...