Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
On Duty


__ADS_3

Anthem POV


Aku tau kenapa si bodoh satu ini sangat berbahagia. Lea!


"Aku tidak tau kenapa dia tiba-tiba menciumku, seperti ini... seperti ini Anthem." Kata Matt dan mempraktekkan cara Lea menciumnya.


Aku menepiskan tangan Matt, "Hentikan itu!" Tukasku.


Aku tau bagaimana kisah selanjutnya antara Matt dengan Lea, tapi aku tidak tau bagaimana kelanjutan ceritaku dengan Alesya.


"Ini berat untukku." Sahutku kepada Rue.


"Maksudku aku punya deadline untuk membawa dia, akan tetapi aku tidak mau membawanya. Kalau pun aku harus membawanya aku akan membawanya untukku sendiri tidak akan aku antarkan jiwanya kepada Penguasa. " Ucapku.


"Itu melawan kehendak alam, Anthem." Jawab Rue mengingatkanku dengan bijak.


"Aku tau! Tapi haruskah aku membawanya di saat dia sudah mempunyai keinginan hidup yang tinggi? Dan di saat aku sedang menikmati waktu bersama dengannya?" Tanyaku lagi.


Terkadang aku tidak paham rencana Penguasa untukku. Sebelumnya aku tidak pernah seperti ini, aku selalu menuruti kehendakNya saat melakukan tugas-tugasku.


"Sepertinya aku harus berlibur. Temani aku, Rue!" Perintahku.


"Kemana?" Tanya Rue.


"Ayah Lea, seperti biasa." Jawabku.


"Bukankah kamu sedang marah kepadanya?" Rue bertanya lagi.


Aku lupa! Aku sempat marah kepadanya karena Raja Wren memberitahukan rahasiaku kepada Penguasa


"Aku sudahlah! Aku sudah memaafkan dia, aku sadar aku tidak bisa jauh darinya. Dan aku butuh dia saat ini. Ayo, temani aku." Kataku melembut.


Malam itu akhirnya aku bersama Rue mengunjungi Raja Wren,


"Huh! Aku pikir kamu marah kepadaku!" Tukas Raja Wren.


"Ternyata tidak bisa kan?" Aku mencoba membujuk Raja Wren.


"Bagaimana Lea?" Tanya Raja Wren.


Aku mencibirkan bibirku, "Mereka berhasil berciuman malam ini." Jawabku.


Raja Wren terpaku dan membeku, "Secepat itu?" Tanyanya terkejut.


Aku mengangguk, "Ya, secepat itu. Hebat sekali bukan putrimu?" Ucapku menggoda Raja Wren.


"Dia selalu penasaran, Anthem. Oh, kenapa kamu kesini? Apa kamu merindukanku?" Tanya Raja Wren.


"Kamu sudah mengetahui masalahku?" Tanyaku

__ADS_1


"Manusia kan? Hahaha, manusia selalu saja membuat masalah." Jawab Raja Wren


"Kali ini aku yang membuat masalah bukan manusia." Ucapku lemas.


"Ya, cinta. Sama seperti putriku yang jatuh cinta kepada manusia." Sahut Raja Wren.


"Begitulah."


Raja Wren tampak berpikir dan mengusap-usap janggut panjang kesayangannya, "Aku pun seperti itu. Penguasa menciptakan manusia dengan segala keajaibannya. Mereka bisa menumbuhkan rasa ke hati kita. Bukan begitu? Hahaha." Ucap Raja Wren tergelak.


Apa yang diucapkan Raja Wren sangat benar, Penguasa menciptakan manusia dengan suatu keajaiban yang luar biasa. Mereka memiliki hati yang mana makhluk lain tidak memilikinya dan yang lebih luar biasa lagi mereka mampu menumbuhkan rasa itu kepada kami, para makhluk yang tidak memiliki hati.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanyaku.


"Apa penyebab kematiannya berubah?" Raja Wren balik bertanya kepadaku.


Aku mengangguk, "Sebelumnya bunuh diri, yang saat ini belum tertulis. Aku tidak mau membawanya apa pun penyebab kematiannya nanti." Sahutku.


"Menikahlah dengannya. Itu cara yang paling ajaib yang aku tau, karena Penguasa akan melihat kesungguhan cinta kita ketika menikah." Bisik Raja Wren.


Raja Wren dan Penguasa memang bersahabat, dan tentu saja Raja Wren tidak enak kepada Penguasa jika ia membantuku.


Aku mengetuk-ketukan jariku, "Menikah yah?"


Deg!


Tiba-tiba aku teringat saat awal aku bertemu dengan Alesya. Saat itu aku melihat jika dia tidak mati akan ada pria yang menikahinya dan kupikir pria itu adalah pengunjung yang sangat perhatian kepadanya. Kalau ternyata bukan pria itu melainkan aku, bagaimana?


"Kenapa tiba-tiba?" Tanya Raja Wren.


"Ada sesuatu yang harus aku lakukan, Wren. Terimakasih nasihatmu, itu sangat berarti untukku." Ucapku.


"Anthem!"


Aku masih mendengar Wren memanggil namaku, namun aku sudah tidak sanggup melewatkan kesempatanku untuk segera menikahinya.


Malam itu ketika hari menjelang subuh aku mengetuk pintu rumah Alesya,


Tok...tok


Alesya segera membukakan pintu untukku dan memelukku, "Anthem, tolong. Tolong Leslie." Katanya menahan tangis.


Aku segera melihat kondisi Leslie, matanya menatap kosong ke arah langit-langit, nafasnya sesak dan terkadang ia memejamkan mata cukup lama.


Aku menggendongnya, "Ayo kita bawa ke rumah sakit sekarang." Sahutku tenang.


Notebookku berdering, tanda pemberitahuan masuk. Dan seketika aku tau siapa yang harus aku bawa pagi ini.


Jantungku berdetak dengan cepat bahkan aku tidak berani menatap mata Alesya dan mengatakan yang sesungguhnya bahwa aku adalah malaikat kematian yang seharusnya menjemput dia dan Leslie.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Leslie segera di beri pertolongan. Aku merangkul Alesya tanpa bicara, mulutku serasa terkunci rapat.


Begitu Alesya melepaskan pelukanku, aku segera melihat notebookku dan benar saja firasatku, Leslie Simpson pukul 07.40 di rumah sakit.


Kekuatanku segera menguap seketika dan bayanganku tentang menikah hilang sudah. Aku melirik ke arah jam tanganku, 06.55


Apa yang harus kukatakan kepada Alesya? Jiwa Leslie sudah mulai terlepas dari raganya. Dia melihat ke arah tubuhnya dan memeluk ibunya yang menangis.


Aku memberanikan diriku untuk mendekat dan memanggilnya dalam bisikan, "Leslie."


"Paman Anthem!" Kata jiwa Leslie riang, ia memelukku.


"Kenapa mama menangis?" Tanya Leslie


"Karena mama takut Leslie pergi." Sahutku dengan berat hati.


"Pergi? Memang Leslie akan pergi? Pergi kemana?" Tanya Leslie terus bertanya.


Aku kembali melihat jam tanganku, 07.25


Haruskah kukatakan ini kepada Leslie? Aku mengubah diriku ke wujud semulaku,


Wussh!


Leslie terkejut, "Paman Anthem memiliki sayap? Apa Leslie juga akan punya sayap?" Tanya Leslie polos.


Aku berlutut di depan Leslie, "Leslie sayang, paman adalah seorang malaikat yang akan membawa Leslie pergi. Leslie tidak bisa bertemu atau bersama mama lagi. Tapi Leslie bisa bertemu dengan banyak orang baik disana, tempatnya sangat indah, dan Leslie tidak akan kesakitan lagi." Sahutku berusaha untuk tidak menangis di depannya.


"Bagaimana dengan mama? Mama akan kesepian kalau tidak ada Leslie." Tanya Leslie khawatir.


Anak baik ini masih mengkhawatirkan mamanya. Sesak sekali rasanya dadaku. Belum pernah aku sesedih ini saat menjemput manusia mau besar atau kecil. Namun, kali ini mengapa aku sangat sedih?


"Nanti mama akan ada yang menemaninya. Leslie tidak perlu khawatir dengan mama." Jawabku, suaraku sudah susah untuk keluar.


"Oh iya, mama kan punya paman Anthem sekarang jadi mama tidak akan sedih terlalu lamaa. Iya kan paman?" Tanya Leslie.


07.40


"Iya sayang, mama punya paman Anthem. Sekarang Leslie peluk mama dulu, ucapkan terimakasih karena sudah melahirkan Leslie dan berjuang untuk Leslie sampai Leslie sebesar ini." Ucapku lembut.


Leslie mengangguk, "Tunggu Leslie ya paman. Leslie juga mau minta maaf sama mama karena Leslie sering merepotkan mama dan membuat mama nangis setiap malam." Sahutnya.


Aku menggeleng, "Leslie tidak salah sayang. Ayo berpamitan kepada mama." Aku mengantar Leslie kepada Alesya dia berbisik, memeluk, mencium, dan yang terakhir ia lakukan adalah memberikan berkat untuk Alesya di dahinya.


"Ayo paman, kita pergi." Kata Leslie menggandeng tanganku.


Seketika itu juga suara mesin ECG berbunyi panjang,


Piiiiiiip

__ADS_1


"Leslie! Leslie! Bangun nak! Jangan tinggalkan mama! Leslieeee!" Suara raung tangisan Alesya seakan menyayat hatiku, sangat pedih mendengarnya.


...----------------...


__ADS_2