Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Shoted!


__ADS_3

Max POV


Aku melangkah menuju ruangan bawah tanah tempat Lea di sembunyikan. Aku tidak habis pikir kenapa Lea malah menyerahkan dirinya sendiri? Padahal dia mempunyai kemampuan sihir yang tinggi lalu mengapa dia pasrah? Aku tidak pernah paham jalan pikirannya.


Sama seperti saat itu, belum ada dua puluh empat jam Lea berkata menyukaiku, tapi begitu aku menyatakan cintaku kepadanya, dia menolakku.


Krieet..


"Hai, aku masuk yah." Sahutku begitu sampai di ruang bawah tanah.


Aku melihat Lea sedang berdiam diri saja, tidak tersenyum, tidak menyapaku balik, bahkan dia juga tidak bicara.


"Hei, kamu tidak apa-apa?" Aku bertanya kepadanya.


"Aku hanya sedikit kesal kepadamu, Max! Kenapa bukan kamu yang menjauh dari temanmu itu? Dan ini rumahmu kenapa kamu tidak mengusirnya?" Tanya Lea.


Aku juga bertanya-tanya kenapa aku tidak mengusir Nelson dari sini, "Mungkin aku berhutang budi kepada Nelson, dan aku belum bisa membayarnya." Jawabku.


"Apa yang telah Nelson lakukan untuk hidumu sampai kamu harus berhutang kebaikan kepadanya? Dia tidak pernah baik menurutku." Sahut Lea geram. Raut wajahnya terlihat kesal sekali.


"Aku sudah menceritakannya kepadamu, kamu ingat? Di bawah pelangi?" Tukasku.


"Membantumu untuk membantai orang yang sudah menghabisi keluargamu? Dan kamu anggap itu sebagai hutang budi? Bodoh sekali!" Sahut Lea gusar.


"Lebih bodoh mana aku atau kamu yang menyerahkan diri ke dalam sarang serigala?" Tanyaku kepadanya.


"Tentu saja kamu! Aku tidak akan datang begitu saja kalau tidak punya strategi! Kalian mengajariku bahwa nyawa itu tidak ada harganya, akan tetapi aku akan mengajari kalian bahwa nyawa itu sangat berharga!" Jawab Lea.


"Dengan cara apa?" Tanyaku lagi penasaran. Lea selalu membuatku ingin lebih mengenalnya. Dia seperti bawang yang harus di kupas satu demi satu untuk melihat dalamnya.


"Kalian meminta mutiara dan kehidupan dariku, maka aku akan meminta imbalan itu kepada kalian! Dan kamu Max, harusnya menyelamatkanku bukan malah mengajakku berbicara seperti ini!" Jawab Lea lagi, kembali memarahiku.


Aku tersenyum melihatnya gadis yang sangat berani, sayang dia tidak tau apa yang dia hadapi.


Tak lama, Nelson dan Eleanor masuk ke dalam ruangan bawah tanah dengan gaya penting.


"Hoho, sudah ada yang mengunjungi ternyata." Sahut Nelson.


Eleanor menggelendot manja pada lenganku. Aku menepisnya, tapi Eleanor tidak bergeming.


"Apa yang kamu bicarakan dengan gadis kita yang luar biasa ini Max? Pembebasan bersyarat? Atau negosiasi biasa? Hahaha. Eleanor kemarilah!" Seru Nelson.


"Aku dan Max setuju kalau Max berkencan dengan gadis ini, bukan begitu Max? Hahahaha," Nelson bertepuk tangan, "pasangan baru telah lahir. Selamat Max!" Tukasnya.


Aku mengepalkan tanganku, "Aku tidak pernah setuju akan hal itu Nelson! Tutup mulutmu!" Seruku kepada Nelson.


Akhir-akhir aku semakin membencinya, mungkin benar kata pepatah kalau seseorang sudah jahat maka selamanya akan jahat, begitu juga sebaliknya. Aku rasa aku percaya pada pepatah itu.


Sikap Nelson semakin lama semakin menjadi. Benar kata Lea, seharusnya aku bertindak dari sebelum masalah ini membesar.


Eleanor memegangi kedua tangan Lea sedangkan Nelson mengusap wajah Lea dengan tangannya, Lea memalingkan wajahnya dengan kasar.


"Lepaskan tangan kotormu dari wajahku!" Tukas Lea.

__ADS_1


Nelson tertawa dan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Lea, "Aku penasaran darimana mutiara itu berasal?" Tanya Nelson seakan-akan mengendus bau mutiara di tubuh Lea.


Lea berjengit saat Nelson mendekatinya, "Menjauhlah dariku!" Sahutnya.


Nelson tertawa dan mengecup pipi Lea, aku menghampiri Nelson dan,


Bugh!


Nelson tersungkur


Satu buah tinju mendarat di pipi Nelson, "Dia sudah bilang kan agar menjauh darinya!" Tukasku.


Nelson bangkit berdiri dan mengangkat tangannya kemudian tertawa, "Hahaha, aku lupa kamu kekasihnya. Maafkan aku Max Tampan!" Katanya menepuk pipiku.


Kemudian Nelson berjalan lagi mendekati Lea, aku menghadangnya, "Kumohon Nelson lepaskan dia." Pintaku


"Kamu akan menikmatinya seorang diri?" Tanya Nelson, "janganlah begitu serakah Max. Berbagilah dengan teman tuamu ini." Ujar Nelson.


"Eleanor lepaskan dia!" Titahku.


Eleanor mengalihkan pandangannya ke arah Nelson untuk meminta persetujuannya. Nelson menggerakkan lehernya ke samping.


Begitu tangannya terlepas Lea menantang Nelson, "Nelson, apa yang kamu inginkan dariku? Bisakah aku bicara berdua saja denganmu?" Tanya Lea.


Nelson menengok ke arah Lea dan tersenyum puas, "Gadis pintar. Tinggalkan kami!" Perintah Nelson.


Aku menghardik Lea, "Kamu gila? Mau apa kamu sama dia? Dia penembak ulung! Dia bisa mengulitimu kapan pun dia mau!" Sahutku berseru kepada Lea.


Nelson tertawa dan bertepuk tangan, "Bravo! Aku jadi semakin menyukaimu, Lea. Begitu namamu? Lea oh Lea." Kata Nelson.


Dua orang anak buah Nelson menyeretku untuk keluar, "Lea! Lea! Awas kamu berani macam-macam dengannya Nelson! Aku akan menarik pelatukku dan menembak kepalamy sebelum kamu selesai menyebut namaku!" Tukasku.


Brak!


Sialan! Nelson brengsek! Aku terusir dari rumahku sendiri, aku tak akan mengampuninya jika terjadi sesuatu kepada Lea.


Masih kuingat jelas wajah puas Nelson yang tersenyum lebar sambil melambaikan tangan ke arahku.


Aku menempelkan telingaku ke pintu ruangan itu tapi kemudian aku sadar aku membuatnya kedap suara. Aaahhh! Kenapa harus aku buat kedap suara sih?


Rue!


Aku bergegas keluar untuk mencari Rue,


"Max! Max! Kamu mau kemana? Tunggu aku! Aku tidak mau sendiri disini Max!" Seru Eleanor.


Tapi aku tidak mempedulikan panggilannya. Aku pergi ke kedai Tom yang jaraknya hanya beberapa blok dari rumahku. Aku melihat Rue sedang membantu Tom merapikan kedainya yang masih berantakan.


"Rue!"


"Tuan! Saya mohon tuan jangan kesini lagi nanti Tuan Nelson menembaki segala yang ada disini, saya juga yang akan mengalami kerugian." Sahut Tom.


"Aku hanya ingin bertemu Rue. Maafkan aku dan terimalah i ini untuk mengganti segala yang rusak." Ujarku sambil memberikan sejumlah uang kepada Tom.

__ADS_1


"Rue! Lea..."


"Aku tau dia berada bersama Nelson. Tenanglah Max dan jangan pernah pergi dari sisinya. Satu hal yang harus kamu lakukan jadilah berani! Lea melakukan ini supaya ramalan Meltem tidak tergenapi. Lea memilih jalan yang bertentangan dengan kata hatinya." Sahut Rue.


Aku tidak tau harus berkata apa kepadanya,


"Max, kalau kamu tidak bisa melindunginya maka aku sarankan kamu untuk mundur. Menghilangkah dari hidupnya." Ucap Rue lagi.


Bola mata biru langit itu memandangku tajam dan seolah-olah menyeretku ke tengah lautan. Akan tetapi mata itu menyadarkanku apa yang harus kulakukan, "Aku...aku akan mencoba menjadi lebih berani Rue. Aku tidak akan membiarkan Lea berada dalam bahaya." Ucapku kemudian aku segera bergegas pulang.


"Tidak sekarang Max biarkan Lea berbicara dengan Nelson dahulu!" Tukas Rue


"Aku tidak peduli. Aku ingin Lea cepat keluar dari sana!" Sahutku.


"Max, kamu akan mati jika tetap kesana." Kata Rue lagi memperingatkan.


Aku terdiam memandangnya, "Tidak masalah bagiku selama Lea selamat." Jawabku.


Aku melangkah dengan yakin dan pasti.


"Max! Max!" Aku mendengar Rue yang terus memanggil namaku, aku tidak menggubrisnya.


Aku hanya fokus untuk menyelamatkan Lea.


Sesampainya di ruangan bawah tanah aku menggedor pintunya.


Dok...dok


"Nelson! Buka pintunya! Ini rumahku!" Tukasku.


Aku tidak menyerah. Aku terus menggedor pintunya, "Nelson buka pintunya!"


Pintu itu terbuka, namun tepat di depanku lima senapan mengarah ke dadaku. Aku mengangkat tanganku pertanda damai, "Aku hanya ingin Lea keluar dari sini Nelson. Pakailah aku dan bebaskan dia." Pintaku memohon kepada Nelson.


Nelson tersenyum, "Tembak dia!" Perintah Nelson.


Dor! Dor! Dor! Dor!


"Tidak! Max!" Serunya.


"Ouch!"


Aku mendengar Lea berseru, sesaat setelah aku melihat sekelebat bayangannya terbang ke atasku.


"Lea!"


Dor! Dor!


Satu peluru berhasil mengenaiku saat aku hendak menangkap Lea.


"Aarrgghh! Sialan!"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2