Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
With Brad


__ADS_3

Lea POV


One Year Later


"Lea, bantu aku dengan pengunjung yang disana." Teriak Rue dari meja sebrang.


"Baiklah." Aku berseru menanggapinya.


Sudah setahun aku tinggal di bumi dan sudah setahun pula aku tidak bertemu dengan Max. Kadang aku bisa tidak memikirkannya tapi terkadang bisa seharian aku memikirkannya.


Dia dimana, dia sedang apa, dia bersama siapa dan yang terpenting adalah apakah Max masih hidup ataukah? Aku tidak sanggup membayangkannya.


Saat ini aku tinggal di kota besar. Kami membuka usaha Taco's ternyata Rue pandai sekali membuatnya. Jadi kami mencari uang dengan berjualan taco. Mengasyikan menurutku.


Oh iya ,kami dibantu oleh seorang kenalan kami disini bernama Bradley, aku memanggilnya Brad. Dia baik dan membantu kami saat awal-awal kami disini. Brad juga yang mengajari kami membuat taco.


Brad juga membantu kami mencari tempat tinggal dan ternyata dia memberikan kami rumah kecil tepat di depan rumahnya untuk kami tinggali.


Dan sekarang kami sedang melayani para pengunjung yang ingin membeli taco buatan Rue. Kami berjualan di truck. Awalnya aku bingung tapi pada akhirnya aku terbiasa.


"Aah lelahnya." Ucap Rue sambil meregangkan badannya.


"Aah, aku juga." Timpalku mengikuti gerakan Rue.


Rue menatapku kesal, "Apa yang kamu kerjakan sampai merasa sangat lelah?" Tukasnya.


Aku berkacak pinggang, "Loh, kalau tidak ada aku, kamu akan kesulitan seorang diri. Apalagi hari ini yang datang banyak sekali!" Sahutku.


"Ya, ya. Terimakasih Lea." Kata Rue mengacak-acak rambutku.


Kami kemudian bergegas kembali ke rumah untuk bersih-bersih. Rue selalu mengemudikan trucknya. Namun dia melarangku untuk mengemudikannya, "Aku tidak rindu dengan Anthem!" Sahutnya.


Sesampainya di rumah kami bersih-bersih dan Rue menyiapkan makan malam.


"Kita belum belanja lagi. Setelah makan kita belanja, temani aku!" Perintah Rue.


Aku menggeleng, "Tidak mau! Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk berdiam diri di rumah!" Seruku.


"Ikut aku!" Kata Rue memaksa.


Aku mengeluarkan tongkat kecilku begitu pula dengan Rue. Kami saling memutari dengan tongkat teracung di depan wajah kami.


Ting...tong


Kami segera menyembunyikan tongkat kami lagi ke saku masing-masing.


"Hai Brad." Sapaku ketika membukakan pintu.


Brad tersenyum dan melangkah masuk. Tentu saja ini rumah miliknya, dia bisa bebas masuk tanpa harus di persilahkan. Cita-citaku selanjutnya adalah membeli rumah di bumi.


"Sudah makan malam belum?" Tanya Brad.


Kami menggelengkan kepala kami, "Belum, baru mau membuat makan malam." Jawab Rue.


"Bagaimana kalau kita makan bersama. Aku membawakan kalian makanan dan aku akan ikut makan bersama kalian disini, boleh?" Tanya Brad.


Rue tersenyum, "Tentu saja boleh. Lea, bantu aku menyiapkan piring." Sahut Rue.

__ADS_1


Aku bergegas membantu Rue. Brad seorang pria berperawakan tinggi, dia seperti Rue tidak hitam juga tidak putih. Senyumnya manis sekali. Dia mempunyai sesuatu di bawah dagunya yang menurut Rue itu adalah sumber ketampanan seorang pria.


Tak lama suara dentingan piring memenuhi ruang makan kami yang kecil.


"Tidak terasa yah sudah mau setahun? Apa kalian akan terus menetap atau pindah ke tempat baru?" Tanya Brad.


Deg! Apakah kami akan di usir? Aku bertukar pandang dengan Rue.


Brad menangkap tatapan mata kami lalu tertawa, "Hahahaha, aku tidak mengusir kalian. Tenang saja. Aku hanya bertanya tanpa ada maksud mengusir. Aku malah senang kalian menempati rumahku ini." Katanya.


Aku tersenyum, "Terimakasih Brad." Sahutku.


Rue berdeham, "Ehem, kami belum mempunyai rencana akan pindah kemana, mau apa atau tujuan kami bagaimana. Kami memang tanpa rencana datang ke kota ini karena satu dan lain hal. Dan begitu bertemu denganmu lalu kamu menawarkan segala sesuatunya untuk membantu kami saat itu kami sangat menghargai itu Brad." Ucap Rue.


"Tidak masalah." Jawab Brad tersenyum.


Awal pertemuan dengan Brad adalah setahun yang lalu. Saat itu kami sedang berjalan tak tentu arah dengan aku yang terus menangis karena memikirkan Max.


Rue membawaku ke toko es krim dan memberikanku es krim cokelat dan strawberry, "Makanlah." Katanya saat itu.


Aku mengambil sesendok es krim dan menangis lagi, mutiara-mutiaraku berjatuhan saat itu dan aku tidak peduli. Kebanyakan orang mengembalikan mutiara itu kepadaku karena mereka pikir perhiasanku putus. Ada yang tidak mengembalikannya. Aku juga tidak begitu peduli saat itu.


"Hiks...rasanya beda dengan buatan Tom." Tangisku.


Rue menatapku z "Ya sudah kalau kamu tidak mau makan kita kembali saja ke tempat ayahmu." Ucap Rue mengancamku.


"Baiklah aku makan!" Tukasku dan mengambil sesendok besar es krim itu untuk dimasukkan ke dalam mulutku.


Begitu kami keluar dari toko es krim itu, sebuah mobil hampir menabrak kami,


Din...din!


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya pria itu.


Aku bertanya-tanya dalam hati, sejak kapan anak buah Max berubah menjadi sopan seperti ini?


Aku mengangguk, namun tidak dengan Rue. Rue menatap pria itu dengan kesal, "Lain kali berhati-hatilah saat berkendara!" Tukasnya.


Pria itu melepas kacamata hitamnya kemudian menunduk, "Aku benar-benar minta maaf jika adikmu terluka aku akan bertanggung jawab. Aku akan membawanya ke rumah sakit sekarang juga." Kata pria itu dan dengan mudah ia menggendongku dalam dekapannya kemudian dia memasukanku ke dalam mobilnya.


"Aku akan mengantar adikmu ke rumah sakit untuk pengecekan lebih lanjut." Ucap pria itu lagi.


Rue terdiam dan mematung, "Ti... tidak perlu seperti itu. Aku hanya memintamu untuk berhati-hati saja." Kata Rue.


Pria itu tertawa, "Masuklah." Ujarnya.


Rue akhirnya masuk dan duduk di sebelah pria tampan itu, "Kalian mau kemana? Aku akan mengantar kalian sebagai permintaan maafku." Kata pria itu lagi.


"Ka...kami..." Aku hendak menjawabnya tapi Rue sudah memotong jawabanku,


"Kami sedang mencari tempat tinggal dan pekerjaan. Kami baru datang dari kota kecil di daerah selatan." Kata Rue.


Pria itu mengetuk-ngetukan jarinya ke sisi setiran, "Hmmm, bagaimana kalau aku membantu kalian. Tinggalah di rumahku nanti aku akan mencari pekerjaan untuk kalian. Bagaimana? Dan lagi aku tertarik dengan adikmu, dia cantik." Kata pria itu.


Mungkin pria itu seumuran dengan Max, begitu pikiranku saat itu.


"Siapa namamu?" Aku bertanya kepadanya.

__ADS_1


"Bradley. Kamu bisa memanggilku Brad. Dan siapa namamu gadis manis?" Tanya Brad sambil tersenyum.


"Lea. Lea saja. Dan dia Rue." Jawabku.


"Lea. Nama yang manis sekali. Aku suka denganmu, tinggalah bersamaku Lea dan Rue." Kata Brad.


"Benarkah? Kamu mau membantu kami?" Tanya Rue tidak percaya.


Brad mengangguk, "Aku tidak pernah bercanda. Aku suka dengan kalian." Jawab Brad.


Aku dan Rue mengucapkan terimakasih kepadanya dan sampai detik ini kami masih tinggal bersamanya walau pun tidak serumah. Begitulah pertemuanku dengan Brad.


"Aku ingin kalian bekerja denganku tidak sebagai penjual taco tapi sebagai partnerku di kantorku, bagaimana?" Tanya Brad.


Rue tampak berpikir, "Ilmu yang kami pelajari beda dengan disini Brad. Dan itu terlalu tinggi untuk kami." Kata Rue.


"Tidak masalah. Rue bisa menjadi asistenku sedangkan Lea bisa menjadi sekretaris pribadiku. Aku sedang kehilangan pegawaiku akhir-akhir ini karena pekerjaan mereka yang terus menurun." Sahut Brad.


"Besok kalian ikut denganku yah. Aku akan menjemput kalian. Dan, ah aku sudah membawakan kalian baju untuk besok kalian pakai. Nanti cobalah." Sambung Brad lagi wajahnya berseri-seri.


Setelah Brad pulang aku bertanya kepada Rue, "Apa dia benar baik atau bagaimana Rue?" Tanyaku.


"Dia benar orang baik dan dia menyukaimu. Luar biasa Leaku ini." Jawab Rue.


Aku mencubitnya gemas, "Tidak usah berlebihan." Ujarku, "apa tidak apa-apa menerima begini banyak dari Brad?" Aku bertanya lagi.


Rue berpikir, "Untuk saat ini Brad aman, kita bisa percaya kepadanya." Jawab Rue.


Semoga...


***


Keesokan paginya Brad benar-benar menjemput kami, dan karena Rue berkata kita tidak boleh membuatnya kecewa jadi aku menuruti Rue untuk bersiap pagi ini.


Sesampainya di kantor Brad, kami mulai di perkenalkan sebagai asisten dan sekretaris pribadi barunya. Brad memperkenalkan kami sebagai adik dan kakak.


"Silahkan duduk disana untuk Lea, dan Rue aku minta tolong untuk ambilkan jadwalku di ruangan itu." Kata Brad sambil menunjuk ruangan yang ada di depannya.


"Lea bagaimana pendapatmu?" Tanya Brad kepadaku.


Aku mengangkat bahuku, "Aku tidak tau. Aku sangat baru dalam hal ini jadi aku belum bisa memberikan pendapatku untukmu." Jawabku.


Brad tertawa, "Nanti aku akan mengajarimu." Sahut Brad.


Aku tersenyum kepadanya,


"Lea, aku..."


Belum selesai Brad bercerita tiba-tiba seorang wanita dengan tampilan yang sangat menawan datang ke ruangan Brad, "Hai Brad. Kenapa kamu tidak menghubungiku?" Tanya wanita manja itu dan duduk di pangkuan Brad.


Tangan wanita itu sangat aktif bermain di rambut Brad kemudian turun dan semakin turun, aku menyibukkan diriku dengan apa pun yang ada di meja kerjaku,


Prang!


Tempat pensilku terjatuh ke lantai, dan mengalihkan aktifitas wanita itu dari Brad.


"Maafkan aku Brad. Aku tidak sengaja menjatuhkan ini." Ucapku sambil memungut alat tulis yang berserakan di lantai.

__ADS_1


Wanita itu mendekatiku dan berjongkok di depanku. Dengan kasar dia menaikkan daguku hingga aku berhadapan dengannya, "Sudah kuduga, aku sangat mengenal suaramu. Senang berjumpa denganmu lagi Lea." Katanya.


...----------------...


__ADS_2