Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Marriage Life


__ADS_3

Lea POV


Setelah menikaj dengan Matt, aku pikir aku akan bertemu dengannya setiap hari, bermain dengannya setiap hari. Tapi sayang sekali, ternyata aku salah. Dia sibuk sekali mengurus pekerjaannya.


Katanya ada karyawan baru, dan karyawan baru ini cukup oke untuk bersanding bersamanya. Jadi, mereka lebih sering menghabiskan waktu berdua. Lalu, untuk apa aku menikaj kalau pada akhirnya aku sendiri?


Aku akan bermain bersama Alesya saja. Aku bergegas memakai mantelku dan sepatu bootku, karena sedang musim dingin disini. Walaupun tidak mempengaruhiku, tapi aku ingin di pandang sebagai seorang manusia oleh orang lain.


Sesampainya aku di rumah Alesya, aku mengetuk pintunya. Mungkin saja Alesya masih bersama Anthem, kan? Aku tidak mau mengganggunya.


Alesya membukakan pintu untukku dan menyambutnya dengan senyum yang manis. "Hai, masuklah, Lea," kata Alesya mempersilahkanku untuk masuk.


Aku masuk ke dalam rumah Alesya, dan serbuan hangat dari perapian yang dinyalakan dengan cepat menyelimutiku.


"Duduklah. Anthem baru saja jalan, dia mempunyai karyawan baru yang katanya akan menggantikan Anthem. Karena dia ingin menjadi manusia," jawab Alesya.


"Ya, aku sudah mendengar kabar itu dari Anthem sendiri sebelum kami turun ke bumi sehari setelah pernikahan kami," balasku.


"Sebenarnya, aku melarang Anthem untuk menjadi manusia. Aku tidak mau dia mati atau sakit," sahut Alesya.


Aku terdiam. Apa yang akan di pikirkannya tentang Matt? Dia akan menjadi abadi, tidak akan sakit dan jauh dari kematian.


"Bagaimana dengan kalian?" Alesya bertanya kepadaku, memecah keheningan di antara kami.


"Aku? Aku menyedihkan. Matt sedang sangat sibuk dengan kekasih barunya," jawabku cemberut.


Kedua alis Alesya bertaut. "Kekasih baru? Apa maksudmu?" tanya Alesya.


"Aiden Sebastian, kekasih baru Matt. Mereka selalu menghabiskan waktu berdua. Apalah aku ini di bandingkan dengan Aiden yang cerdas dan tampan?" sahutku lirih.


Alesya tertawa. "Lea, kamu selalu bisa membuatku tertawa. Kenapa kamu cemburu kepada pria? Aku pikir Aiden itu wanita. Astaga, Lea. Tapi begitulah pria, kalau mereka sudah bertemu dengan soulmatenya, mereka akan lupa segalanya," kata Alesya.


Aku mengangguk setuju. "Benar sekali!" aku mendukung pernyataan Alesya.


"Kamu boleh menemaniku disini seharian, bagaimana?" tanya Alesya menawarkan tempatnya.


Mataku berbinar ceria. "Ide bagus. Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanyaku.


Alesya mengajakku ke dapur, meminjamkan apronnya dan membantu Alesya membuat kue. Aku senang kepada Alesya. Ia pintar dalam berumah tangga. Dia pintar memasak, dia pintar membuat kue atau makanam ringan, dan aku paham kenapa Anthem ingin menjadi manusia dan menua bersamanya.


"Alesya, apakah kamu mau menjadi manusia abadi? Maksudku, seperti kita tau Anthem seorang malaikat, dan kenapa kamu tidak mau menjadi abadi supaya kalian tidak mati? Dan tidak akan terpisahkan?" tanyaku.


Alesya tersenyum. "Aku sempat tergiur dengan tawaran itu, Lea. Tapi kemudian aku berpikir, aku pasti akan bingung apa yang mau aku kerjakan di bumi jika umurku sudah banyak? Lagipula, untuk apa hidup abadi karena sesungguhnya tidak ada yang abadi di dunia ini. Akan melelahkan bukan?" jawab Alesya.

__ADS_1


Deg!


Benar juga yah? Karena ayahku seorang raja dan hanya memiliki aku dan ibu, jadi ayah memilih hidup abadi sampai aku menikah dan menemukan penggantinya.


Tunggu dulu! Apakah begitu Matt menjadi abadi, ayah akan melepaskan keabadiannya dan mati? Karena usia ayah sudah ribuan tahun. Aku belum siap! Aku belum siap kehilangan ayah!


"Alesya, ajarkan aku cara membuat kukis. Aku akan memberikannya kepada ayahku sore ini. Apa kamu mau menemaniku?" tanyaku.


Alesya mengangguk. "Baiklah, aku pasti akan membantu dan menemanimu nanti. Apa kesukaan ayahmu?" tanya Alesya.


"Ayahku sangat suka cokelat, jadi kita buat kukis cokelat saja," usulku.


"Oke," jawab Alesya.


Kami pun mulai sibuk membuat adonan, mengaduk ini dsn itu, mencampur bahan, menghias, dan memanggang. Seru sekali ternyata membuat kukis itu. Aku harus mencobanya sesekali untuk Matt. Biarkan dia menjadi kelinci percobaanku dahulu, hihihi.


***


"Kamu mau kemana?" tanya Matt sore itu. Ia mampir bersama Aiden ke rumah. Untung baginya aku sudah selesai membuat kukis, sehingga bisa kembali ke rumah dengan cepat.


"Ke tempat ayahku, kamu kan akan bermain dengan Aiden, daripada aku sendiri disini," sahutku.


Aiden tersenyum malu. "Maafkan aku, Lea. Tapi aku perlu banyak belajar dari Matt ini," kata Aiden.


Matt tersipu. "Tapi kamu tidak menginap, kan?" tanya Matt lagi.


Matt mengecup keningku. "Ada, selalu ada. Sampaikan salamku kepada ayah dan ibumu," bisik Matt. Ia merengkuh pinggangku dan menciumku lembut.


Selepas kepergian Matt dan Aiden, aku menjemput Alesya.


"Aku membawakan beberapa kukis untuk Anthem. Sepertinya akan asik menikmati teh hangat dan makan kukis disana," kata Alesya.


"Berkunjunglah ke pondok Nyonya Titipati, dia akan menyediakanmu apa pun! Apapun!" sahutku.


Alesya mengangguk antusias. Tak lama, aku sudah mengajaknya terbang ke atas.


Sesampainya di Kerajaan Awan. Aku segera menemui ayahku setelah sebelumnya aku mengantar Alesya ke tempat Anthem.


"Ayah, lihatlah apa yang aku buatkan untukmu," sahutku saat ayah menyambutku.


Ayah menerima kotak kukisku dengan wajah bahagia. "Apa ini?" tanya ayah, membuka kotak itu dan terkejut melihat isinya.


"Anakku? Ini kamu yang membuatnya?" tanya ayah.

__ADS_1


Aku mengangguk. "Huum. Cobalah segigit, ayah. Ini enak, aku berani menjamin," sahutku meyakinkan.


Ayahku agak ragu saat menggigit kukis buatanku. Aku tau kalau ayah ragu, karena aku pernah membuat Matt buang-buang air setelah memakan roti bakar buatanku dan aku juga sempat membuat Anthem dan Rue sakit perut, tidak bisa bangun karena aku menbuatkan mereka sup kepiting favoritku.


"Lebih baik kamu tidak memasak, Lea. Kamu akan di tangkap oleh polisi dengan dugaan perencanaan pembunuhan dengan meracuni makanan, astaga, LEA!" begitu kata Anthem saat ia tidak bisa bergerak karena makan sup buatanku.


Akhirnya setelah kejadian itu, aku tidak pernah memasak lagi daripada aku membunuh orang lain, kan?


Jadi, aku tidak mengharapkan ayah akan memakannya dengan senang hati.


Ayah menggigit kukisku dengan menyipitkan sebelah matanya. Dalam sesaat, mata ayah membesar dan wajahnya di penuhi dengan senyuman. "Ini enak, Lea. Kami sudah pintar membuat kukis. Anak ayah sudah bisa memasak. Ayah bahagia sekali," kata ayah terharu, dan memelukku.


Aku harus datang ke rumah Alesya setiap hari untuk belajar memasak kepadanya.


"Tumben sekali kamu menjenguk ayah?" tanya ayah.


"Apakah kalau nanti Matt sudah menjadi abadi, ayah akan mati?" tanyaku, menyuarakan ketakutanku.


Ayahku tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha! Siapa yang mengatakan itu? Apakah kamu memikirkan hal itu?" tanya Ayah, sambil mengusap air matanya.


"Tentu saja! Aku tidak mau kalian mati!" tukasku. Ucapan Alesya menyadarkanku bahwa waktuku bersama ayah dan ibuku sangat kurang.


Aku pun menceritakan percakapanku dengan Alesya saat kami membuat kukis tadi kepada ayahku.


Ayahku terdiam, dan mengusap-usap sayang kepalaku.


***


"Hei, duduklah disini," kata Matt malam itu, ia memintaku untuk duduk di pangkuannya.


Aku menghampiri Matt dan duduk di pangkuan Matt.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Matt, mengendus lenganku.


"Apakah kamu menyetujui ide ayah untuk menggantikannya?" tanyaku.


Matt mengecup lenganku lembut. "Hmmm, aku belum memikirkan itu. Memang kenapa? Kamu mau aku menjadi raja supaya kamu bisa menjadi putriku?" Matt menggodaku.


Aku menghindar dari kecupan Matt supaya aku bisa fokus pada pembicaraan kami. "Ayolah, aku serius," sahutku.


Matt menghela nafasnya. "Aku belum memikirkan itu, karena aku sedang menikmati waktuku di bumi. Aku tidak bisa membayangkan jika aku menjadi raja. Apa yang terjadi dengan kebijkan yang aku buat? Aku lebih senang disini," jawab Matt.


Aku memikirkan ucapan Matt. Kalau aku yang menjadi manusia, kemungkinan besar orang tuaku tidak akan mengijinkanku, karena mereka pasti sakit kalau harus melihatku mati.

__ADS_1


Sedangkan, Matt belum mau memikirkan menjadi raja atau menjadi manusia abadi. Ah, persoalan ini harus segera kupecahkan sebelum kami membuat anak!


...----------------...


__ADS_2