Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Philosophy Of Death


__ADS_3

Rue POV


Deg!


Firasatku sangat tidak nyaman sekali sejak kedatangan Max. Aku mendapatkan penglihatan yang sama tidak enaknya dengan firasatku.


Lea, apakah kamu baik-baik saja?


Perasaan tidak nyaman itu semakin lama semakin menderaku. Aku tidak tahan jika hanya terus menunggunya disini!


Aku bergegas berlari ke tempat Max, semua pengawal tidak berada pada tempatnya. Apa yang terjadi? Aku melesak masuk ke dalam dan menemukan Max dengan kondisi mengerikan.


"Rue, Lea. Bantu Lea." Katanya terisak.


Aku yang sedari tadi mencari Lea akhirnya menemukannya tergeletak tak berdaya di lantai dengan darah terus mengalir.


Aku berlutut di samping tubuh Lea, dan mengangkat kepalanya, "Lea, bangun!"


Aku menggendong Lea dalam dekapanku, "Kamu bilang kamu akan menolongnya! Kamu bilang kamu akan melindunginya Max! Tapi Lea yang selalu saja melindungimu!" Tukasku.


Aku mengebaskan sayapku dan terbang ke tempat Lea seharusnya berada.


"Putriku!" Seru Raja Wren begitu melihat kondisi Lea yang sudah sangat lemah kehabisa darah.


"Letakkan dia di singgasanaku! Aku akan mengeluarkan benda sialan yang membuat gadisku menjadi seperti ini!" Tukas Raja Wren lagi.


Dengan tongkat ajaib kebesarannya, Raja Wren mengayunkan tongkatnya ke atas tubuh Lea. Hingga beberapa kali di lakukan sampai akhirnya dua peluru terangkat dari tubuh Lea. Raja Wren menangkap peluru-peluru tersebut


Dengan murka ia melihat ke arahku, "Bawa Max kesini hidup-hidup! Aku yang akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!" Perintah Raja Wren.


"Baik Yang Mulia. Segera laksanakan." Ucapku.


Aku kembali turun ke bumi dan segera menuju kediaman Max.


Sesampainya disana aku tidak menemukan siapa pun, aku mengelilingi rumahnya dan begitu akan memasuki ruangan Max aku mendengar suara keributan.


"Kamu mau membunuhku? Bunuhlah aku Nelson! Jangan dia!" Aku mendengar suara Max berteriak.


Aku tau Max hanya ingin menyelamatkan Lea tapi aku juga kesal karena Max tidak mendengarkanku untuk menunggu.


Krieet!


Aku membuka pintu ruangan Max dan melihat Nelson sudah dalam posisi tertembak di bagian kakinya. Sedangkan luka tembak pun belum di obati.


Begitu Max melihatku ia segera berlari mendekatiku, "Bagaimana dengan Lea?" Tanya Max.


"Ayahnya mencarimu Max." Jawabku.


Max melihat kembali ke arah Nelson, "Akan kupastikan kamu mati di tanganku Nelson! Sementara ini aku akan membuatmu tidak akan pernah bisa bergerak!" Seru Max menatap Nelson dengan penuh kebencian.


Dor!


Dor!


Dor!


Tiga tembakan sengaja di arahkan ke kedua kaki Nelson.


"Aaarrrggghhh! Awas saja kamu Max brengsek! Aku akan membalasmu!" Tukas Nelson.


Dor!


Nelson mengarahkan tembakannya ke arah Max,

__ADS_1


Klep!


Aku melambatkan waktu untuk menangkap peluru Nelson, setelah itu aku menormalkan kembali waktu.


"Hentikan! Lain kali aku pasti akan membiarkan kalian berdua untuk saling membunuh!" Ucapku dan melempar peluru itu ke arah Nelson yang tertegun.


***


"Ba...bagaimana dengan Lea?" Tanya Max ketika kami sudah meninggalkan ruangan tempat Max dan Nelson beradu peluru.


"Berdoa saja dulu supaya kamu masih bisa melihatnya dalam waktu satu jam ke depan." Ucapku.


"A..apa?" Tanya Max gugup.


"Ayah Lea ingin membunuhmu saat ini. Kuatkan dirimu!" Tukasku.


Kegugupan di wajah Max semakin terpahat dengan jelas, namun meski begitu Max mengangguk mantap.


Aku meminta Max untuk naik ke atas punggungku, "Naiklah ke punggungku, aku akan menggendongmu sampai atas." Ujarku.


Max menolak mentah-mentah, "Tidak mau. Berikan saja aku sesuatu yang membuatku terbang seperti kemarin. Mengerikan sekali kalau aku harus naik ke atas punggungmu." Jawab Max.


"Memang kenapa? Cepatlah naik!" Tukasku tidak mau kalah.


"Sekali aku bilang tidak ya tidak! Aku tau aku akan mati dan kalau aku naik ke atas punggungmu aku seperti di bawa oleh malaikat kematian. Tidak! Tidak!" Seru Max.


Aku tertawa tergelak, "Hahaha. Apa kamu ingin bertemu malaikat kematian? Dia tampan sebenarnya hanya saja karena profesi yang sudah terlanjur disematkan kepadanya jadi banyak manusia takut kepadanya. Dan kalau kamu mati, nanti di depan sana dia akan menunggu serta mengikutimu." Kata aku menjelaskan.


"Benarkah malaikat kematian tampan? Tidak seram? Aku akan bertanya kepadanya kalau bertemu nanti apa mati itu menyakitkan atau tidak." Sahut Max.


Aku mengangkat Max ke atas punggungku,


"Waaa...waaa.. Rue!" Teriaknya panik.


"Mati itu adalah kehidupan tingkat selanjutnya Max anggap saja begitu. Kalau kamu memang mati hari ini maka terimalah dengan tenang dan itu akan terasa tidak menyakitkan." Ucapku kepadanya.


Max terdiam. Aku tau dia sangat ketakutan sekali namun hebatnya dia menutupi rasa takutnya itu. Rasa bersalah dan khawatirnya karena Lea lebih besar dari rasa takutnya.


Aku tersenyum sendiri saat membaca isi hatinya, "Kita sudah sampai Max." Sahutku dan membantu Max untuk turun.


"Apa tadi kita tidak bertemu dengan malaikat kematian?" Tanya Max sedikit berharap.


"Ah, kudengar dia menunggumu disini Max. Nanti akan kuperkenalkan kamu dengannya." Ucapku menggodanya.


"Ba...baiklah." jawab Max.


Kami memasuki gerbang keemasan dan benar saja malaikat kematian sudah menunggu disana dan dengan sigap menjabat tangan Max,


"Maximilianus? Saya dengan Anthem. Mari saya antar." Ucap Malaikat itu yang kemudian melirik ke arahku, "Rue, kabar baik?" Tanyanya.


Aku tersenyum sopan, "Sangat baik, Anthem." Jawabku.


Kami melanjutkan perjalanan kami namun langkah Max terhenti, "Tu...tunggu! Saya mau diantar kemana?" Tanya Max ketakutan.


"Ke tempat pemberhentian terakhirmu, Max." Jawab Anthem.


Anthem adalah seorang malaikat kematian. Dia selalu tampan aku akui itu. Tidak seperti yang sering diceritakan, Anthem selalu membawa notebook jika ingin menjemput seseorang. Dia satu-satunya malaikat yang selalu berkunjung kesini karena Anthem adalah teman baik ayah Lea.


Max akhirnya berjalan mendekati kami kemudian ia berbisik kepadaku, "Rue, bisakah aku melihat Lea." Kata Max.


"Dia akan ada disana." Jawabku.


Benar saja, begitu kami sampai di singgasana Raja Wren tampaklah sebuah peti kaca tempat Lea dibaringkan.

__ADS_1


Max berlari menghampiri Lea, "Lea! A...apakah dia mati? Apa dia tidak bisa tertolong? Aku akan membawanya ke rumah sakit sekarang!" Ucap Max dan mengeluarkan Lea dari peti kaca itu.


"Turunkan aku!" Seru Max menggendong Lea dalam dekapannya.


Raja Wren berdiri dan mengetuk tongkat kebesarannya, segara saja gerbang tinggi dan besar itu menutup.


"Max, kembalikan putriku!" Kata Raja Wren dengan suara menggelegar.


Max melihat kepada Raja Wren, "Dia harus segera di tangani jika ingin Lea selamat. " Jawab Max.


"Nyawa harus di tukar dengan nyawa Max. Kamu sudah membuat Lea menjadi seperti itu." Kata Raja Wren.


Max tertegun dan meletakkan Lea kembali ke dalam peti kaca lalu melangkah dengan berani menghampiri Raja Wren, "Baiklah ambil nyawaku sesuai janjiku." Kata Max.


Raja Wren tersenyum, "Aku akan melakukannya tanpa ragu, Max." Sahutnya.


Tongkat Raja Wren teracung ke depan Max, dan tak sampai hitungan menit Max tersungkur jatuh di depan Raja Wren.


"Boleh kubawa?" Tanya Anthem.


Raja Wren menghadang Anthem dengan tongkatnya, "Jangan bawa dia. Aku hanya membuatnya tertidur sementara. Kamu bisa membawa jiwanya berkeliling." Sahut Raja Wren.


"Yang Mulia sampai berapa lama Yang Mulia akan menidurkan Max?" Tanyaku kepada Raja Wren.


"Aku hanya ingin melihat kesungguhan dia untuk menepati janjinya." Jawab Raja Wren.


Tak lama Lea terbangun, dia mengerjap-ngerjapkan matanya. Raja Wren dan Ratu Edwina menghampiri Lea "Anakku, kamu sudah bangun?" Tanya Raja Wren.


"Apa yang terjadi ayah?" Tanya Lea.


"Tidak ada yang terjadi anakku." Jawab Raja Wren memeluk Lea.


Lea melihat sekeliling singgasana, dan menatap tubuh Max yang tergeletak. Lea berlari menghampiri tubuh Max, "Max! Max! Rue, jelaskan padaku apa yang terjadi dengannya?" Tanya Lea. Airmatanya mulai berlinang membasahi pipinya.


"Dia sedang berjalan-jalan." Jawab Raja Wren.


Lea menatap ayahnya dengan kesal, "Jadi? Ayah membunuhnya?"


Aku berusaha membantu untuk menenangkan Lea, "Lea tenang dulu." Sahutku.


"Rue, kemana Max pergi?" Tanya Lea kepadaku.


Aku melihat Raja Wren dan Raja mengangguk, "Anthem membawanya." Jawabku tertunduk.


"Antar aku kepada Anthem!" Seru Lea.


"Tidak! Bagaimana kalau kamu tidak kembali?" Tanya Raja Wren melarang Lea untuk menyusul Max.


"Apakah ayah memikirkan itu juga kepada Max? Bagaimana jika Max tidak kembali?" Tuntut Lea.


"Rue! Antar aku kesana." Desak Lea.


Ratu Edwina sudah menangis tersedu-sedu di balik punggung Raja Wren.


"Baiklah kalau itu kemauanmu Lea. Aku tidak bisa melarangmu lagi. Kamu bukan lagi seorang anak kecil yang bisa ayah takut-takuti lagi. Berhati-hatilah dan pilih jalanmu dengan benar." Ucap Raja Wren


"Rue temani Lea dan jaga dia." Perintah Raja Wren lagi.


Aku mengangguk dan mengantar Lea naik ke atas, ke tempat para malaikat berkumpul. Disana ada salah satu tempat yang bernama Lembah Kematian, tidak boleh ada satu makhluk hidup pun yang boleh masuk ke dalam sana atau mereka tidak akan bisa kembali. Tubuh dan jiwanya akan terkurung disana selamanya walau belum saatnya mereka mati.


...----------------...


Guys, sekalian mau promoin novel karya temanku yah

__ADS_1



__ADS_2