
Max POV
Tatapan mata Brad yang penuh cinta kepada Lea membuatku ingin membunuhnya bahkan memotong-motongnya menjadi beberapa bagian.
Brad memberikan waktu hanya untuk Lea supaya ia tidak bosan. Kenapa Brad tidak memperhatikanku juga yang bosan? Kenapa hanya Lea? Ed juga tampak mengantuk tadi, tapi Brad hanya fokus kepada Lea.
Seperti saat ini, aku dan Brad secara bersamaan memegang tangan Lea.
Namun hanya dalam sepersekian detik, Lea menghilang dan sudah berada di tempat kami duduk tadi sambil melambaikan tangannya ceria. Gadis pemberani itu semakin membuatku menyukainya.
"A...apa itu tadi Max? Bagaimana Lea bisa ada disana padahal jelas-jelas aku tadi memegang tangannya disini? Apa aku bermimpi atau aku terlalu lelah atau pandangan mataku berbayang?" Tanya Brad.
Aku tersenyum, "Tenang saja. Lea mempunyai kemampuan khusus, kamu tidak bermimpi dan yang jelas kamu tidak gila Brad." Jawabku, bergegas menyusul Lea yang sudah menunggu kami.
Rue juga sudah ada disana dengan senyumnya yang lebar. Anak-anak nakal ini ternyata masih sering menggunakan kemampuannya di kota besar.
Kami selesai begitu senja menghilang, Brad dengan cepat mengajak Lea untuk makan bersamanya.
"Maafkan aku Brad. Aku dan Rue akan membeli keperluan kami yang sudah habis, bukan begitu Rue?" Lea bertanya kepada Rue dengan mata mengerikan.
"Benar Brad. Bahan memasak kami pun hampir habis." Jawab Rue.
"Biar aku yang mengantar." Sahutku dan Brad bersamaan.
Aku dan Brad saling memandang, ternyata tujuan kami sama. Aku tidak akan membiarkan Brad melangkah lebih dulu.
"Bisa aku bicara berdua saja denganmu Brad? Ed tolong antarkan Lea dan Rue kemana pun mereka mau." Tanyaku kepada Brad, dan menghampiri Ed sekaligus memberikannya kunci mobil serta kartu sakti untuk membayar semua keperluan mereka.
Brad menatapku, dia tau apa yang baru saja aku lakukan kemudian dia tersenyum, "Pikiran kita sama." Katanya.
Aku mempersilahkan Brad untuk duduk, "Oh yah? Tapi memang sepertinya sama." Ucapku.
Brad memesankan minuman untuk kami berdua, "Minumlah." Ujar Brad beramah tamah.
Aku menenggak minuman itu dalam satu kali tenggak, "Terimakasih." Sahutku.
"Soal Lea, benar bukan?" Tanya Brad.
__ADS_1
Aku tersenyum, "Aku mengenalnya sejak beberapa tahun yang lalu dia wanita yang sangat menarik bahkan mampu membuka pintu hatiku." Ujarku memulai percakapan dengannya.
"Aku mempunyai trauma dan dia berhasil membuatku melupakan trauma itu sekaligus mengusir mimpi burukku bertahun-tahun lalu. Sekarang aku jauh lebih tenang, tidurku pun berkualitas." Sambungku lagi.
"Ah jadi kamu memanfaatkannya?" Tanya Brad dengan kesal.
"Awalnya iya, tapi semakin lama aku mengenalnya semakin aku menyukainya." Jawabku.
"Apakah Lea seorang penyihir?" Tanya Brad lagi.
Aku tersenyum, "Apa yang kamu simpulkan?" Tanyaku.
Brad tertawa, "Aku menyangsikan kewarasanku, hahaha. Maksudku, di era modern ini apa masih ada penyihir?" Katanya.
"Itu tergantung opinimu kan?" Sahutku. Brad tidak pernah tau apa yang kualami, di luar nalar manusia. Aku pergi ke atas awan, bertemu duyung, dan lebih gilanya aku berjalan-jalan dengan malaikat kematian. Apa itu tidak gila? Jika aku teringat tentang itu aku berpikir apakah aku mimpi?
Bahkan aku membayangkan aku menjadi seorang penulis novel fantasi setelah kematian Nelson, kupikir novelku itu akan cukup laris saat di terbitkan.
Brad tampak berpikir keras, aku mengalihkan pikirannya, "Yang ingin kubicarakan denganmu adalah apa kamu menyukainya? Lea maksudku. Apa kamu menyukai Lea?" Tanyaku.
"Sangat jelas. Dia milikku Brad. Mungkin kita bisa berteman untuk urusan bisnis namun untuk urusan cinta kita akan menjadi musuh." Sahutku menegaskan kepadanya bahwa Lea milikku.
"Apa tanda kepemilikanmu terhadap Lea? Aku tidak melihat cincin di jari manis atau jari tengahnya." Tanya Brad menuntut bukti.
"Aku tidak menandai Lea sebagai milikku, tapi hubungan kami sudah sangat jauh Brad." Ucapku bias. Tentu saja, dia rela mengarungi Api Penyucian untuk menyelamatkan jiwaku. Itu bukan hal sepele dan tidak bisa dilakukan oleh manusia mana pun. Oh, aku lupa Lea bukan manusia.
Brad termenung dalam pemikiran dan definisinya sendiri tentang hubungan yang sangat jauh. Aku tidak akan mengoreksi hal itu.
"Setauku, kamu sudah mempunyai seorang kekasih." Sahutku lagi teringat cerita Lea tentang Eleanor dan Brad.
Brad mendengus, "Eleanor maksudmu? Dia kuanggap sebagai adikku sendiri. Aku tidak pernah berbuat lebih kepadanya. Dia sering meminta uangku, dan kuberikan karena aku hanya menganggapnya sebagai adik tidak lebih." Jawab Brad menegaskan.
"Bagaimana kalau Eleanor melihatmu sebagai seorang pria?" Tanyaku.
Brad menggelengkan kepalanya, "Tipe wanita seperti Eleanor bukan mencari cinta, dia hanya mencari kesenangan semata." Jawab Brad
Tepat sekali! Sangat Eleanor.
__ADS_1
"Kita kembali ke Lea, Max. Sebelum undangan pernikahanmu dan Lea tersebar, aku masih memiliki kesempatan untuk mendekatinya. Bukan begitu, friend?" Kata Brad tersenyum.
Sial! Mana mungkin aku langsung mengajak Lea menikah? Bisa-bisa aku di masukan ke dalam Lembah Kematian lagi sebelum aku bisa melamar Lea.
Aku menatap Brad kesal, "Baiklah, akan kupercepat undangan kami!" Tukasku.
***
Sejak pertemuanku dengan Brad, kami menjadi teman dekat. Brad seseorang yang menyenangkan dan enak diajak berbicara tentang apa pun. Pribadinya baik dan ramah. Aku masih harus banyak belajar darinya.
Ketika aku kesal biasanya aku akan mengokang senjataku untuk membuat anak buahku menurut kepadaku tapi tidak dengan Brad. Dia merangkul semua pegawainya supaya mau bekerja sama dengannya.
"Kamu baik sekali Brad. Aku tidak biasa seperti itu." Sahutku suatu hari.
"Biasakan saja, cukup mudah melakukan itu." Jawab Brad.
Tak lama Lea datang menghampiri Brad, "Brad, aku sungguh tidak paham tentang ini. Kepalaku berputar-putar. Ijinkan aku membuat taco saja daripada harus mengerjakan semua kertas-kertas ini." Keluh Lea.
Brad tersenyum sabar, "Nanti malam aku akan berkunjung ke rumah untuk mengajari kalian bagaimana cara memasukan data ini melalui komputer atau laptop." Sahutnya.
Cih! Sedekat itu.
"Aku juga akan ke rumahmu malam ini untuk membawakan sesuatu untukmu, Lea. Apa yang kamu inginkan?" Tanyaku.
Lea berpikir sejenak, "Hmmmm...apa yah? Oh, es krim kayu manis dengan taburan coklat kecil di atasnya. Aku sudah lama tidak makan es krim itu. Disini tidak ada yang menjualnya. Aku rindu Tom." Jawab Lea.
"Baiklah, aku akan membawakanmu malam ini." Sahutku puas dan penuh kemenangan.
"Siapa itu Tom?" Tanya Brad.
"Oh, dia penjual es krim di dekat rumah kami dulu, ya kan Max." Jawab Lea antusias.
"Rumah kami?" Tanya Brad lagi.
Aku tersenyum puas dan menghampiri Lea kemudian merangkulnya, "Ya rumah kami Brad. Ada masalah dengan itu?" Tanyaku menggoda Brad yang wajahnya di penuhi tanda tanya sekarang.
...----------------...
__ADS_1